Anak Di Bawah Umur Ditembak Dua Kali, Kapolri Diminta Segera Hentikan Kriminalisasi Oleh Anggota Polri

Anak di Bawah Umur Bagus ISa Mahendra Ditembak Polisi. Anak Di Bawah Umur Ditembak Dua Kali, Kapolri Diminta Segera Hentikan Kriminalisasi Oleh Anggota Polri.
Anak di Bawah Umur Bagus ISa Mahendra Ditembak Polisi. Anak Di Bawah Umur Ditembak Dua Kali, Kapolri Diminta Segera Hentikan Kriminalisasi Oleh Anggota Polri.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Tito Karnavian diminta menghentikan sepak terjang anak buahnya yang melakukan kriminalisasi hukum.

Terutama, terhadap oknum anggota Polri yang menembak anak di bawah umur. Tanpa mengetahui sebab musabab sesungguhnya.

Hal itu yang dialami Bagus Isa Mahendra. Anak bontot dari tiga bersaudara itu ditembak oleh anggota Polisi. Anak kelahiran 17 Juli 2002 ini, dua kali ditembak oleh seorang anggota Polri berpangkat Briptu dari Polres Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Briptu Ega Olivia dengan NRP: 92080267 adalah seorang penyidik pembantu di bagian narkotika Polres Stabat. Briptu Ega menembak Bagus Isa Mahendra, anak baru putus sekolah, yang baru memasuki usia 17 tahun di 2019 ini.

Samuel Tan, kakak kandung Bagus Isa Mahendra, menuturkan, adiknya mendapat perlakuan yang sangat sadis dan tidak manusiawi. Selain ditembak dua kali di bagian kaki, Bagus juga ditahan di Rutan Polres Stabat, dan dituduh sebagai pengedar narkoba.

Peristiwa penembakan itu terjadi pada Senin, 12 Agustus 2019. Samuel menuturkan, adiknya Bagus Isa Mahendra diminta pergi berbelanja narkotika oleh seorang pria dewasa di lingkungannya.

“Awal mulanya, adik saya diajak oleh seorang teman yang sudah bapak-bapak. Pergi bersama untuk membeli sesuatu. Mereka patungan. Masing-masing Rp 25 ribu. Dan adik saya yang disuruh membeli. Dia memegang uang Rp 50 ribu. Ternyata, dia disuruh membeli sabu,” tutur Samuel, Kamis (12/09/2019).

Bagus Isa Mahendra pergi ke tempat yang ditunjuk oleh kawannya si bapak itu. Si Bapak menunggu di bagian depan. Tiba-tiba, dua orang pria datang. Anggota polisi berpakaian preman.

“Tiba-tiba datang mencekik adik saya. Adik saya mengira kedua orang itu preman. Spontan berontak dan melawan. Adik saya tak tahu kalau mereka anggota Polisi. Lalu, polisi menembak kaki adik saya,” ungkap Samuel.

Setelah ditembak sekali, Bagus Isa Mahendra masih sempat mencoba berlari.  Berlari karena ketakutan. Sehingga tercebur ke parit atau comberan.

Pada saat terjatuh itulah, Bagus Isa Mahendra ditembak untuk kedua kalinya di bagian kaki. Kemudian diseret dan dibawa ke kantor polisi.

“Saat ini, adik saya ditahan di rutan. Saya tak begitu mengerti hukum. Tetapi ketika saya membaca BAP (Berita Acara Pemeriksaan) terhadap adik saya, kok disangkakan dengan Pasal 114 ayat 1 dan pasal 112 ayat 1,” ujar Samuel.

Menurut Samuel, adiknya telah mengalami kriminalisasi. Sebab, Bagus Isa Mahendra tak pernah terbukti memakai narkotika.

“Kok adik saya mendapat pasal yang tidak sesuai perbuatannya? Dia itu korban. Korban narkotika dan korban penembakan oleh anggota Polisi,” ujar Samuel.

Sebetulnya, ditegaskan Samuel, satu-satunya yang bisa dijadikan alat bukti adalah uang Rp 50 ribu yang dipegang Bagus Isa Mahendra.

Menurut Samuel, polisi melakukan itu semua, karena mereka takut dituntut balik. “Karena telah menembak adik saya. Setelah mereka tahu bahwa adik saya masih di bawah umur, mereka mencoba mengkonfirmasi usia adik saya dengan mendatangi sekolah di mana adik saya pernah bersekolah terakhir kali. Memastikan usia adik saya. Ya memang adik saya masih di bawah umur,” ujarnya lagi.

Bagus Isa Mahendra masih di dalam tahanan. Samuel mengaku sedih, setiap kali dirinya besuk, selalu perlakuan tak baik yang diperoleh Bagus Isa Mahendra di dalam sel tahanan.

“Ketika saya melihat adik di tahanan, saya menangis mendengar adik saya berkata, mak saya lebih baik mati. Aku enggak sanggup di sini. Aku di sini disuruh-suruh sama orang dewasa untuk menghutang rokok! Kalau aku tidak mau aku akan dipindahkan ke sel yang lain,” ujar Samuel menceritakan.

Samuel berharap, adiknya yang dikasihinya itu diberi keadilan se-adil-adilnya. Dia juga berharap, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dan semua masyarakat mengetahui kondisi sebenarnya. Agar dugaan tindak kriminalisasi yang dilakukan anggota Polres Stabat itu dihentikan.

“Kami hanya orang lemah, yang baru terkena musibah kebakaran. Kami tidak punya apa-apa untuk menegakkan keadilan ini. Saya berharap, diberikan keadilan. Kami tidak bisa terima, adik saya dianiaya oleh polisi. Dan dituduh sebagai bandar. Saya selaku kakak selalu menangis sedih, melihat ibu saya yang selalu menangis. Selalu mendapat musibah,” tutur Samuel.

Bagus Isa Mahendra, Anak Di Bawah Umur Korban Pembakan Polisi

Tanpa Didampingi Kuasa Hukum Dikebut ke Persidangan

Samuel Tan, kakak kandung Bagus Isa Mahendra, menyampaikan, adiknya sudah harus menjalani proses persidangan di pengadilan sebanyak dua kali. Persidangan pertama pada hari Selasa tanggal 10 September 2019. Dan persidangan kedua, Rabu, 11 September 2019.

“Sudah dua kali sidang. Kami tidak ada kuasa hukum. Tak punya uang untuk membayar pengacara,” ujar Samuel Tan, Kamis (12/09/2019).

Jaksa yang menangani perkara Bagus Isa Mahendra itu adalah Daniel Setiawan Barus. Proses persidangan selanjutnya akan digelar Senin depan.

“Persidangan Senin depan sudah tuntutan. Kata mereka, karena adik saya masih anak-anak, harus cepat-cepat disidangkan. Kata mereka, prosedur untuk anak seperti itu,” ujar Samuel.

Dari persidangan kedua, dijelaskan dia, anggota Polisi yang dimintai keterangan tidak bisa memberi penjalasan yang masuk akal bagi hakim.

“Dari segi jawaban polisi yang ikut sidang  tadi juga semua bersalahan. Dia bilang dia menembak adik saya sendiri. Sementara polisi yang menangkap adik saya itu ada 2 orang,” ujarnya.

Masih keterangan anggota polisi di persidangan, Samuel melanjutkan, polisinya mengatakan Bagus Isa Mahendra membeli sabu seharga Rp 100 ribu.

“Sedangkan adik saya disuruh membeli Rp 50 ribu. Terus, dia bilang, bandar sabunya berjarak 100 meter dari adik saya waktu itu. Sedangkan untuk membeli saja pakai gala atau bambu. Dia bilang, sebelum menembak adik saya, dia terlebih dahulu menembakkan  pistolnya ke udara, ke atas. Sementara, yang terjadi, dia menembakkan langsung ke bawah,” ujarnya.

Menurut dia lagi, dari respon yang diperlihatkan hakim, sepertinya tidak percaya dengan penjelasan polisi itu.

Hal yang sama diperlihatkan dokter yang mengobati luka tembak Bagus Isa mahendra. Dokter tak percaya kalau penembakan dilakukan dari jauh.

“Hakimnya juga tadi sudah terharu. Karena polisi kelihatan merekayasa dan sangat tampak janggal. Dokter pendamping adik saya juga bilang hal yang sama. Semoga hakim melihat fakta dan mengambil keputusan yang adil,” beber Samuel.

Samuel Tan dan keluarganya tinggal di Desa Securai Utara, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Ayah dan Ibunya hanya pedagang kecil di pasar. Sedangkan anak tertua mereka, menjalani perkuliahan Jurusan Ekonomi, dan terlambat lulus. Baru lulus.

Samuel Tan sendiri, kini masih mengikuti perkuliahan, semester 5, di salah satu perguruan tinggi di Kota Medan. Adiknya, Bagus Isa Mahendra, sudah putus sekolah. Baru saja. Dia berhenti sekolah di SMK. Hanya sampai kelas 1 SMK.

“Pendidikan terakhir adik saya SMK kelas 1. Pada saat kenaikan kelas ke kelas 2, dia bilang ke orang tua kami bahwa otaknya sudah tak sanggup meneruskan pendidikannya. Tak sanggup menerima pelajaran lagi. Sejak itu, dia sudah mulai tidak masuk sekolah,” ungkap Samuel Tan.

Karena permintaannya itu, lanjut Samuel, Ibu mereka tak kuasa untuk terus memaksa Bagus Isa Mahendra bersekolah. “Menurut Mamak saya, ya sudah kalau memang dia sudah tak berbakat di sekolah. Menurut mamak, tidak semua orang mampu belajar teori di sekolah,” katanya.

Akhirnya, Bagus Isa Mahendra berhenti sekolah dan membantu Ibu dan Bapaknya berdagang kecil-kecilan marrengge-rengge  di pasar.

“Orang tua saya melihat adik saya berbakat di lapangan. Kegiatan adik saya membantu mamak dalam pekerjaannya. Adik menyupir dan membantu mamak untuk membuka jualan setiap paginya,” ujar Samuel.

Berkendara Dua Jam Kepolda Sumut, Propam Polda Tak Terima Laporan

Pada Senin, 9 September 2019, Samuel Tan dan Ibunya mendatangi kantor Polda Sumatera Utara. Tujuan mereka, melaporkan penembakan yang berbau kriminalisasi yang dialami adiknya Bagus Isa Mahendra.

Dikatakan Samuel, perjalanan naik sepeda motor dari Desa Securai Utara ke Polda Sumut memakan waktu dua setengah jam. “Dan 3 jam kalau naik angkot,” ujarnya, Kamis (12/09/2019).

Meski sedang turun hujan deras, Samuel dan Ibunya tetap mendatangi Poldasu. Di Poldasu, di bagian Propam, mereka diterima anggota Propam.

“Petugas Propam Poldasu yang kami temui kemarin itu namanya Pak Jaholder. Kalau enggak salah begitu namanya,” ungkap Samuel.

Samuel merasa kebingungan di Poldasu. Soalnya, menurut dia, mereka dipingpong dan tidak direspon.

“Kalau seperti kemarin kami bingung. Selalu di-over kesana kemari. Ke ruangan sana dan ini. Ketika di ruangan Propam juga, kami hampir disuruh menemui bagian narkotika. Tapi tidak jadi, karena masalah sudah dipegang kejaksaan. Jadi, kami pulang,” jelasnya.

Samuel berharap, ada keadilan yang sesungguhnya bagi adiknya dan keluarganya. “Saya juga sangat sedih atas kejadian adik saya ini. Bahkan saya jarang tidur memikirkan ini. Kami tidak punya saudara yang cukup hebat. Kami butuh keadilan,” ujarnya.(JR)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*