Alami Krisis Identitas, Toleransi dan Ekologi, PGI Serukan Gereja Atasi Krisis di Indonesia

Alami Krisis Identitas, Toleransi dan Ekologi, PGI Serukan Gereja Atasi Krisis di Indonesia.
Alami Krisis Identitas, Toleransi dan Ekologi, PGI Serukan Gereja Atasi Krisis di Indonesia.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan, Indonesia sedang mengalami tiga krisis utama. Krisis identitas, krisis toleransi dan krisis ekologi.

Oleh karenanya, warga Indonesia, terutama warga gereja di seluruh Indonesia, harus turun mengatasi krisis yang terjadi.

Hal itu disampaikan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Sekum PGI) Pdt Gomar Gultom, saat menyampaikan orasinya pada Kongres Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ke-XI di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis malam (01/08/2019).

Menurut Gomar, Gereja tidak sekedar melakukan pelayanannya secara ritual, namun juga harus dapat terlibat dalam memberikan kontribusi terhadap masyarakat. Di sinilah peran gereja bukan sekedar pelayanan, namun sebagai agen perubahan kehidupan yang lebih baik lagi.

Pdt Gomar Gultom menegaskan, tantangan utama gereja kali ini pun adalah adanya krisis toleransi, identitas, dan ekologi.

Jika krisis ini tidak diantisipasi dengan baik, maka akan mengakibatkan kerugian secara materi dan sosial yang berdampak bagi kehidupan masyarakat.

“Sudah saatnya gereja tidak sekedar berbicara hal yang ritual, namun mampu menjawantahkan peran dan nilai-nilai Kristen yang sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat. Jadi, Alkitab bukan hanya dilihat dalam kotbah bentuk ritual, namum mampu mengimplementasikan dengan baik dan memberikan dampak bagi masyarakat secara keseluruhan,” ujar Gomar.

Gomar menuturkan, masalah toleransi belakangan ini sangat mengkuatirkan dalam keseharian kehidupan masyarakat. Ada upaya pihak-pihak yang menyebabkan perbedaan bukan dianggap sebagai kekayaan, sebaliknya menjadi jurang pemisah antara masyarakat.

Menurutnya, jika toleransi tidak berjalan dengan baik di tengah masyarakat,  maka akan menimbulkan benturan yang berdampak dengan munculnya konflik horizontal.

“Tentunya jika terjadi konflik horizontal maka harga yang dibayar sangat mahal. Sebagai anak bangsa dan warga gereja tidak mau hal itu terjadi,” ujar Gomar.

Gomar juga mengkritisi krisis identitas merasuki gereja yang tidak berbeda dengan krisis toleransi. Bahkan, krisis identitas yang terjadi harus dapat diatasi dengan baik, sehingga gereja dapat memahami peran dan fungsinya dengan baik.

Gereja, lanjutnya, ikut mengatasi krisis ekologi yang semakin akut. “Kita dapat mengeliminir krisis ekologi dengan tidak menggunakan kantong kresek plastik,” ujar Gomar.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan