Aktivis Perempuan Aceh: Jakarta Tidak Perlu Repot, Rehabilitasi Mantan GAM Telah Selesai

Aktivis Perempuan Aceh: Jakarta Tidak Perlu Repot, Rehabilitasi Mantan GAM Telah Selesai.

Rencana Sekjen (Sekretaris Jendral) Dewan Ketahanan Nasional (WANTANNAS) Letjen Doni Monardo hendak menurunkan tim ke Aceh dalam rangka pendataan dan upaya melakukan rehabilitasi ditolak.

Aktivis Perempuan Aceh Cut Meutia menyampaikan, persoalan masyarakat di Aceh tidak ada yang perlu diurusi lagi oleh Wantannas.

“Jakarta tak perlu repotlah. Rehabilitasi mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah selesai,” ujar Cut Meutia, dalam rilis yang diterima redaksi, Senin (23/07/2018).

Perempuan yang akrab disapa Farah itu mengucapkan terimakasih aja atas niat baik Sekjen Wantannas ke Aceh, akan tetapi hal itu sudah tidak diperlukan lagi.

“Kita menghargai nait baik suadara kita dari Jakarta, namun alangkah lebih bijak jika niat baik tersebut tidak dilakukan,” ujar Farah.

Perempuan yang juga politisi Partai Aceh itu menuturkan, kondisi mantan kombatan GAM baik-baik saja, sehingga Wantannas tak perlu repot-repot untuk merehabilitasi mereka.

“Apalagi ini menjelang tahun politik, dikhawatirkan nantinya akan menimbulkan spekulasi dan membuat kegaduhan kondisi di Aceh,” ujarnya.

Lebih lanjut Farah mengatakan, jikapun rehabilitasi dianggap belum selesai, maka hal tersebut menjadi tanggung jawab Pemerintah Aceh. Oleh karena itu, kata dia, biarkanlah Pemerintah Aceh yang mengurusnya. “Tak perlu  mengirim tim khusus dari Jakarta,” ujarnya.

Dijelaskan Farah, dengan ditanda-tanganinya kesepakatan damai di Helsinky 15 Agustus 2005 silam, Jakarta dan Aceh sudah sepakat dan sepaham bahwa konflik Aceh telah selesai. Menurut dia, GAM sudah beralih fungsi dari Gerakan Kemerdekaan kedalam Komite Peralihan Aceh (KPA).

“Mereka sudah berbaur dengan masyarakat, tidak ada lagi GAM di Aceh. Yang ada mantan GAM yang sudah sempurna terintegrasi dalam masyarakat. Mereka bukan lagi ancaman bagi ketahanan negara, mereka sudah ikhlas kembali dalam pangkuan ibu pertiwi,” jelasnya.

Ia melanjutkan, tak perlu lagi ada upaya yang malah mengusik keikhlasan mereka dengan hal-hal yang tidak perlu dan tidak patut. Apalagi dengan program yang bisa berdampak pada rusaknya perdamaian Aceh yang sudah berjalan dengan sangat indah.

“Biarkan pemerintah Aceh sendiri yang menuntaskan persoalan rakyatnya, tidak perlulah Jakarta repot-repot mengurus rakyat Aceh dan mantan GAM di Aceh,” ujar Farah.

Sebelumnya, Sekjen Dewan Ketahan Nasional (Wantannas) Letjen Doni Monardo mengatakan pihaknya bakal mengirim tim ke Aceh. Tim itu bakal melakukan pendataan soal permasalahan di Aceh.

“Dalam waktu dekat, Wantannas akan kirimkan tim di Aceh untuk mendata apa yang terjadi, masalah apa yang belum selesai termasuk potensi perkebunan,” kata Doni saat acara pembubaran panitia Sarasehan Nasional di Ruang Nakula Gedung Setjen Wantannas, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (20/7/2018).

Dia mengatakan salah satu permasalahan yang bakal segera diselesaikan adalah persoalan rehabilitasi mantan anggota GAM. Menurutnya, persoalan rehabilitasi itu belum selesai hingga kini.

“Kita coba petakan, kita bahas di Jakarta, apa yang bisa kita lakukan untuk proses rehab mantan GAM, karena sampai sekarang nggak selesai,” ucapnya.

Doni menyatakan nantinya akan ada pertemuan antara berbagai pihak di Aceh untuk segera menyelesaikan sejumlah permasalahan. Dia mengatakan semua pihak akan bergerak untuk menyelesaikan permasalahan di Aceh.

“Apa yang kita temukan akan kita sampaikan, Pak Menko tadi sudah setuju. Nanti kita akan ke aceh pertemukan antara pemilik lahan dengan lembaga-lembaga lain untuk melibatkan. Jadi semuanya akan bergerak,” tuturnya.

Selain itu, Doni juga menyampaikan terima kasih kepada para panitia acara Sarasehan Nasional yang telah bekerja untuk menyukseskan acara. “Saya selaku Sesjen Wantannas mewakili semuanya mengucapkan terimakasih kepada semua tim yang telah mensukseskan acara ini,” ujar Doni.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan