Aksi Kaum Ibu Sigapiton Buka Baju Menolak Kekerasan Badan Otorita Danau Toba, Soal Telanjang, Ini Pandangan Tokoh Gereja Batak Pdt Saut Hamonangan Sirait

Aksi Kaum Ibu Sigapiton Buka Baju Menolak Kekerasan Badan Otorita Danau Toba, Soal Telanjang, Ini Pandangan Tokoh Gereja Batak Pdt Saut Hamonangan Sirait.
Aksi Kaum Ibu Sigapiton Buka Baju Menolak Kekerasan Badan Otorita Danau Toba, Soal Telanjang, Ini Pandangan Tokoh Gereja Batak Pdt Saut Hamonangan Sirait.

Tokoh Gereja Batak, Pendeta Saut Hamonangan Sirait menyampaikan sudut pandangnya terkait ketelanjangan yang digelar oleh para ibu dan nenek yang menggelar aksi unjuk rasa atas dugaan kekerasan dan perampasan tanah ulayat mereka di Desa Sigapiton, Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, beberapa waktu lalu.

Pendeta Saut Hamonangan Sirait juga menegaskan, adanya kejahatan yang dilakukan unsur-unsur pemaksa, yakni dari Badan Otorita Danau Toba (BODT) atau yang dikenal juga dengan Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT), terhadap persoalan warga masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT).

“Peristiwa di Sigapiton, teramat jelas menampakkan dua sisi yang sama, tetapi tidak serupa. Pertama, penggunaan kekerasan. Terutama pelibatan aparat keamanan yang dilakukan pihak BODT (bukan Bodat-dalam bahasa Batak artinya Monyet), adalah pelanggaran hukum positif, juga melanggar etika dan prinsip-prinsip kemanusiaan di seluruh dunia. Kedua, pelanggaran moral, adat istiadat yang dilakukan kaum Ibu yang menggelar aksi unjuk rasa penolakan dengan buka baju,” tutur Pdt Saut Hamonangan Sirait, dalam ulasannya, Senin (16/09/2019).

Mantan anggota Badan Pengawas Pemilu Pusat (Bawaslu) ini mengatakan, ada perbedaan, bila manusia dengan kekuasaan, kekuatan dan kepintarannya melakukan pelanggaran dengan orang yang tidak berdaya melakukan pelanggaran.

Dijelaskan mantan Komisioner DKPP ini, pelanggaran yang dilakukan pihak BODT sangat jelas. Karena memiliki kekuasaan dan kekuatan.

“Ini disebut penggunaan kekuasan dengan telanjang. Hak rakyat yang diberi kepada Negara menjadi kewenangan yang dapat digunakan menjadi kekuatan. Bukan untuk melakukan kekerasan kepada warga Negara pemberi hak itu. Sekali lagi, ini penggunanaan kekuasaan yang telanjang,” tutur Pendeta Saut.

Sedangkan pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Ibu Sigapiton, lanjut Dosen STT HKBP Pematangsiantar ini, bukan karena kekuasaan dan kekuatan yang ada padanya.

Menurut aktivis senior dari STT Jakarta ini, membuka baju untuk menentang ketidakadilan yang dirasakannya adalah bentu perlawanan dari ketidakberdayaan total.

Tindakan itu, adalah sesuatu yang tidak diinginkannya, namun sudah tidak memiliki cara yang lain. Bentuk ekpresi yang sesungguhnya mendera, menyiksa dirinya sendiri.

“Dalam makna tertentu, ini disebut sebagai bentuk pengorbanan. Sekali lagi tidak lain, tidak bukan, pengorbanan diri,” tutur Pendeta Saut Hamonangan Sirait.

Dia mengungkapkan, pada beberapa postingan catatannya, tanggapan yang bernada mengadili aksi buka baju kaum Ibu itu, menunjukkan hampir 70 persen menjatuhkan vonis bersalah kepada Kaum Ibu Sigapiton.

“Dasar hukum, legal formal dan materialnya, terbukti, tidak patut, tidak layak, memalukan, tidak menghargai adat, tidak punya harga diri. Sesungguhnya dari kategori basic law, aksi buka baju kaum Ibu Sigapiton itu bukanlah kejahatan, tetapi kesalahan,” terangnya.

Selebihnya, lanjut Pendeta Saut Hamonganan Sirait, banyak pihak mempersalahkan pihak BODT. Dengan dasar hukum, legal formal-material. Terbukti, melakukan kekerasan.

“Dan, berdasarkan basic law, kekerasan adalah kejahatan, bukan kesalahan,” ujar Pedeta Saut.

Pendeta Saut Hamonangan Sirait menegaskan, dirinya tidak ingin mengeluarkan vonis ketiga, bagi pihak yang mengeluarkan vonis pada pihak yang mengadili.

Tujuan terpentingnya, kata dia, agar  semua pihak semakin memahami, menyadari dan melihat dengan benar dan baik segala sesuatu. Dengan dasar berpijak yang utuh, menyeluruh dan penuh. Meskipun tidak terlalu pas konteks dan titik skopus-nya.

“Namun bagi para pengadil yang menjatuhkan vonis pada Kaum Ibu Sigapiton,  saya ingin melabuhkan secuil menyangkut seorang pelacur, yang tertangkap basah alias kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) kemudian dibawa kepada Yesus.  Kata bijak yang keluar adalah Barang Siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. Sebagaimana tertulis di Alkitab, pada Yohannes 8 ayat 7,” ungkap Pendeta Saut Hamonganan Sirait.

Pendeta Saut menegaskan, Kaum Ibu di Sigapiton adalah orang yang tidak berdaya. Tidak memiliki kuasa dan kekuatan. The Power of the powerless, meminjam istilah Pastor Gustavo Guietirez.

“Tentu saja yang telah menimpuk dengan vonisnya, saya doakan untuk tetep diberkati Tuhan,” tutup Pendeta Saut Hamonangan Sirait.

Pada Kamis, 12 September 2019, sejumlah kaum Ibu di Desa Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, menggelar aksi perlawanan menolak perampasan lahan dan tanah mereka yang dilakukan oleh BODT. Mereka histeris dan membuka baju, menolak masuknya alat-alat berat di tanah mereka.

Alat berat itu rencananya untuk membangun jalan dari The Nomadic Kaldera Toba Escape menuju Batusilali sepanjang 1.900 meter dan lebar 18 meter.

The Nomadic Kaldera Toba Escape sendiri adalah pengembangan potensi wisata Danau Toba yang menjadi proyek Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT).

Proyek tersebut dituding oleh warga setempat sebagai perampasan tanah rakyat. Alat berat yang masuk itu dianggap akan menggilas tanah dan hutan tempat tinggal mereka.

Aksi itu itu diikuti oleh 100 warga desa yang didampingi oleh Kelompok Studi Pengembangan dan Prakarsa Masyarakat (KSPPM). Masyarakat turun ke aksi itu didominasi kaum ibu.

Tak hanya menyuarakan aspirasi mereka, kaum ibu itu nekat membuka pakaian yang mereka kenakan. Kaum ibu ini berteriak histeris dan bentrokanpun tak dapat dihindari. Salah satu staf KSPPM dipukul aparat dan alami luka di bagian mata.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan