Ajak Mahasiswa Yang Mulai Usaha Start Up, BPOM Gelar Program Peningkatan Daya Saing UMKM Pangan

Ajak Mahasiswa Yang Mulai Usaha Start Up, BPOM Gelar Program Peningkatan Daya Saing UMKM Pangan.
Ajak Mahasiswa Yang Mulai Usaha Start Up, BPOM Gelar Program Peningkatan Daya Saing UMKM Pangan.

Industri pangan merupakan salah satu kontributor terbesar ekspor nasional dengan capaian kinerja konsisten positif.

Tak hanya ekspor, industri pangan juga berperan dalam peningkatan produktivitas, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja. Tak terkecuali Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pangan.

UMKM pangan merupakan salah satu kekuatan pendorong pembangunan ekonomi negara yang memiliki peran strategis dalam ekonomi nasional dan ekonomi rakyat, penyediaan dan perluasan lapangan kerja dan lentur terhadap krisis.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Penny K Lukito mengatakan, pemberdayaan dan peningkatan daya saing UMKM menjadi fokus pemerintah saat ini.

Pada tahun 2018 lalu, Badan POM bersama tujuh Kementerian dan Lembaga meluncurkan program terpadu Pengembangan UMKM Obat Tradisional, Kosmetik, dan Pangan Berdaya Saing. Program itu sebagai bentuk sinergisme antar lintas sektor dalam pemberdayaan UMKM sesuai tugas, fungsi dan kewenangannya masing-masing.

Penny memaparkan, Badan POM sendiri gencar melakukan pembinaan pelaku usaha pangan dengan melakukan pendampingan intensif dan sosialisasi keamanan pangan sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan UMKM.

“Saat ini Badan POM telah melakukan pembinaan terhadap 53.907 UMKM pangan secara nasional,” ujar Penny K Lukito, Rabu 28 Agustus 2019.

Badan POM juga melakukan Pemberdayaan Fasilitator Keamanan Pangan. Melalui pembentukan Fasilitator atau Kader Desa untuk pembinaan komunitas desa dan UMKM sebanyak 7.690 orang sepanjang tahun 2014-2018.

Kemudian, ada Fasilitator UMKM sebanyak 1.255 orang sepanjang tahun 2013-2018), Fasilitator Pasar Aman dari Bahan Berbahaya sebanyak 618 orang sepanjang tahun 2015-2018, dan Fasilitator Keamanan PJAS sebanyak 11.997 orang  sepanjang tahun 2014-2018.

Kepala Badan POM, Penny K Lukito menyampaikan, pembinaan UMKM memerlukan komitmen pemerintah pusat dan daerah.

“Serta peran akademisi terutama untuk wirausaha baru (start-up) sehingga dapat bersaing di era revolusi industri saat ini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Penny K Lukito menegaskan, Badan POM memberikan dukungan secara penuh dan fasilitasi terhadap UMKM termasuk UMKM daerah.

“Badan POM telah melakukan deregulasi dan debirokratisasi persyaratan termasuk pemotongan biaya pendaftaran pangan olahan sebesar 50% dari tarif Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP),” ungkapnya

Pada hari ini, Rabu (28/08/2018) Badan POM menyelenggarakan kegiatan Talkshow dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Keamanan Pangan Bagi UMKM Pangan di Depok.

Dia menjelaskan, Kota Depok merupakan salah satu kota dengan dengan jumlah UMKM pangan yang banyak dan berkembang pesat.

“Selain itu kota Depok juga memiliki beberapa Perguruan Tinggi dengan program pendampingan UMKM dan banyak mahasiswa dari universitas tersebut yang merupakan wirausaha baru atau start-up yang tergabung dalam inkubator bisnis universitas,” ujarnya.

Kegiatan ini dihadiri perwakilan dari Kementerian dan Lembaga, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan UMKM binaan dari Kementerian atau lembaga.

Dalam acara ini, dilakukan penandanganan Nota Kesepahaman atau MoU antara Badan POM dengan Aprindo. Mou itu tentang Kerja Sama di Bidang Pengawasan dan Pembinaan Dalam Rangka Peredaran Obat dan Makanan di Ritel Modern serta penyerahan Nomor Izin Edar (NIE) oleh Kepala Badan POM kepada UMKM.

“Mari kita bersama-sama bersinergi dalam mewujudkan keamanan pangan untuk mewujudkan konsumsi pangan yang aman bagi masyarakat,” ujar Penny.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan