Airlangga Hartarto Dkk Terus Tuli, Kasihan Golkar Akan Makin Nyungsep Kian Terpuruk

Airlangga Hartarto Dkk Terus Tuli, Kasihan Golkar Akan Makin Nyungsep Kian Terpuruk.
Diskusi Akar Muda Beringin (AMB), dengan tema Pandangan Orang Muda Dalam Menyikapi Dinamika Partai Golkar Menjelang Munas, di Hotel Puri Mega, Pramuka, Jakarta Pusat, Jumat (09/08/2019).

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto beserta jajarannya dianggap tuli. Sebab, kepemimpinannya di partai berlambang beringin itu sarat persoalan yang tidak diselesaikan.

Selain itu, mesin politik yang diisi oleh kelompok-kelompok berwatak feodal, semakin membuat partai yang pernah sangat berkuasa di era lalu itu kian terpuruk.

Terbukti, pada Pemilu 2019 lalu, Partai Golkar mengalami kemunduran dalam perolehan suara. Padahal, hampir semua perangkat dan mesin-mesin politik, maupun infrastruktur partai dimiliki oleh Golkar.

Inisiator Akar Muda Beringin (AMB) Jhon Roy P Siregar mengatakan, kalangan muda gerah dan jengkel dengan kepemimpinan di parpol, seperti yang terjadi di Partai Golkar saat ini. Golkar sedang terkooptasi oleh kepentingan segelintir kaum feodalis.

Di saat bonus demografi Indonesia yang sangat tinggi, seperti saat ini, parpol malah sibuk membangun pencitraan tanpa wujud di kalangan millennial.

“Hampir semua pimpinan Parpol saat ini bisa dikatakan tuli. Sengaja tuli dan sengaja buta. Kritik dan saran membangun diabaikan. Kaum muda, kaum millennial yang jumlahnya sangat banyak itu, hanya dijadikan menu perbincangan sambil lalu di meja-meja parpol. Tak ada langkah nyata,” tutur Jhon Roy P Siregar.

Hal itu juga terjadi di Golkar. Pada kepemimpinan Golkar saat ini pun ketulian itu terjadi. Padahal, hampir semuanya setuju, bahwa kalangan muda harus maju dan mau melakukan regenerasi di parpol.

“Dengan merekrut dan memberdayakan kalangan muda katanya. Nyatanya, omong kosong belaka,” beber Jhon Roy P Siregar.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Akar Muda Beringin (AMB), dengan tema Pandangan Orang Muda Dalam Menyikapi Dinamika Partai Golkar Menjelang Munas, di Hotel Puri Mega, Pramuka, Jakarta Pusat, Jumat (09/08/2019).

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi ini, Ketua DPP Partai Golkar Elvis Junaedi, Wakil Ketua Umum Musayawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) Amran Amir, Wakil Ketua Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) Adi Baiquni, Pengamat Sosial Politik dari Moscow University Alexander Spinoza, Aktivis Muda Golkar Benny Saputra Sijabat dan Inisiator Akar Muda Beringin (AMB) Jhon Roy P Siregar.

Untuk kontestasi politik di Pemilu 2019 saja, di DKI Jakarta, lanjut Siregar, Partai Golkar nyungsep. Perolehan kursi menurun. Daya juang dan bargaining partai maupun Ketua-nya lemah.

“Jakarta dikuasai oleh kalangan muda. Terbukti, Partai PSI Pimpinan Grace Natali memperoleh kursi terbanyak di DPRD DKI Jakarta. Ada 8 kursi. PSI telah menggusur Partai Golkar dari Kebon Sirih, dan menggusur partai-partai lainnya,” ungkap Jhon Roy P Siregar.

Lebih lanjut, tindakan Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto dan jajarannya yang tampak otoriter, kian membawa dampak buruk bagi partai. Intimidasi dan terror berupa ancaman pemecatan bagi siapa saja yang melakukan kritik di tubuh beringin, adalah gambaran betapa watak feodal dan otoriter itu nyata di kepemimpinan Partai Golkar saat ini.

Jika ingin memajukan Golkar lagi, lanjutnya, maka Airlangga Hartarto dkk harus legowo melepaskan cara-cara kepemimpinan yang anti demokrasi itu.

“Harus mau mendengarkan kritik dan saran. Terutama kritik dan saran dari kalangan kaum muda. Sebab, saat ini bejibun kaum muda yang hendak bergabung untuk kemenangan Golkar ke depan. Namun, jika watak feodalistik yang masih bercokol, maka jangan salahkan kaum muda enggan atau malah beralih ke partai lain,” tutur Siregar.

Untuk 2024, pada Pemilu yang akan datang, diprediksi jumlah kalangan pemilih muda mencapai 70 %. Golkar sebagai partai yang sudah sangat teruji dan tua, harusnya memberikan respon positif akan kondisi itu.

Jujur saja, lanjut Jhon Roy P Siregar yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD GAMKI) DKI Jakarta ini, untuk Golkar, calon Ketua Umum yang pas adalah sosok yang dekat dengan kalangan millennial. Yang membuka diri dengan segala aras. Yang tidak sulit diajak komunikasi.

“Yang memiliki daya juang dan daya tawar yang tinggi. Yang berdiri dengan dada membusung, kepala tegak. Yang demokratis. Anti watak feodalistik. Merangkul kalangan muda. Sosok seperti itu yang lebih pas menjadi Ketua Umum DPP Golkar berikutnya. Dari beberapa nama yang beredar, nampaknya kesempatan itu ada di Bambang Soesatyo,” ujarnya.(Nando)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan