Ada Menteri Yang Memperkaya Diri Sendiri, Pak Jokowi Tak Usah Dipakai Lagilah

Ada Menteri Yang Memperkaya Diri Sendiri, Pak Jokowi Tak Usah Dipakai Lagilah.
Ada Menteri Yang Memperkaya Diri Sendiri, Pak Jokowi Tak Usah Dipakai Lagilah.

Ada Menteri yang hanya memperkaya diri sendiri. Atau malah sibuk mengurusi urusan bidang lain yang bukan urusannya. Orang-orang seperti itu, enggak usah dipakai lagi di Kabinet.

Sebaiknya Kabinet Kerja Jilid II diisi oleh orang-orang profesional dan loyal kepada pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya bagi Negara dan masyarakat Indonesia.

Hal itu diingatkan Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya’roni dengan melihat sejumlah nama para kandidat yang merapat ke Istana Negara sebagai Calon Menteri Kabinet Kerja Jilid II.

Selama periode pertama, Sya’roni menegaskan, tidak sedikit menterinya Jokowi yang hanya sibuk mencari kekayaan dan keuntungan bagi bisnisnya pribadi. Bagi bisnis keluarganya. Tanpa melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai selayaknya seorang Menteri.

“Masyarakat sudah melihat dan mengetahuinya. Tidak satu dua saja Menterinya Pak Jokowi di periode pertama yang begitu. Memperkaya diri sendiri, berbisnis dan malah mengurusi urusan yang bukan urusannya. Kok saya lihat masih juga dipanggil ke Istana Negara?” tutur Sya’roni, di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Boleh saja sih, lanjutnya, seorang Presiden melakukan pemanggilan atau membuat sejenis beauty contest untuk mencari sosok calon menteri. Tetapi, jangan pula yang memperkaya diri dan tidak fokus mengurusi urusannya masih dipanggil juga.

“Diharapkan Jokowi konsisten menghadirkan figur-figur baru. Kalau pun tetap mempertahankan figur lama haruslah yang terbukti konstribusinya membawa kemajuan bagi bangsa dan negara. Figur lama yang hanya menjadi beban harus disingkirkan,” tegasnya.

Sya’roni menyebut, di antara figur lama yang sebaiknya tak perlu dipakai lagi adalah Luhut Binsar Pandjaitan. Yang dalam Kabinet Kerja I pernah menjabat sebagai Kepala KSP, Menko Polhukam, dan Menko Kemaritiman.

Rekam jejak selama bercokol di kabinet lebih banyak merugikan dibanding kemanfaatannya. LBP selalu menawarkan solusi yang melibatkan China untuk mengatasi permasalahan bangsa. Misalnya yang teraktual, dalam kasus tekornya BPJS Kesehatan, LBP menawarkan asuransi China.

Selain orientasinya yang selalu condong ke China, LBP juga terlihat mementingkan bisnisnya sendiri. Awal tahun 2018, LBP meresmikan gedung mewahnya Sopo Del Tower di kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

Tidak sampai di situ, publik dikejutkan kepindahan kantor Pertamina ke gedung milik LBP. Sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa kepindahan kantor Pertamina ke Sopo Del Tower ada intervensi kekuasaan di baliknya.

“Bisnis LBP boleh moncer. Punya gedung super mewah. Punya penyewa yang bonafid sekelas BUMN Pertamina. Namun kondisi suram terlihat pada bidang kerja kemaritiman yang diembannya,” ujar Syaroni.

Prestasi yang memalukan adalah keputusan impor garam. Indonesia yang merupakan pemilik pantai terpanjang kedua di dunia tak sepantasnya impor garam.

Kegagalan lainnya, gagal mewujudkan tol laut, gagal meningkatkan produksi minyak dan gas, kunjungan wisatawan asing  masih di bawah Thailand, Malaysia dan Singapura, dan yang terpenting adalah gagal fokus pada bidang kerjanya, karena LBP gemar mengurusi bidang kementerian lainnya.

Menteri lainnya yang juga hanya petantang-petenteng, tidak bekerja maksimal untuk rakyat. Atau yang malah memperkaya diri sendiri, antara lain, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly. “Ya hampir setengah kabinet kemarin itulah. Sebaiknya mereka tak usah dipakai lagi,” tutup Syaroni.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan