90 Tahun Sumpah Pemuda, Peran Pemuda Pemudi Zaman Now, Dipertanyakan!

90 Tahun Sumpah Pemuda, Peran Pemuda Pemudi Zaman Now, Dipertanyakan!

Ketua Umum Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) Marlo Sitompul mempertanyakan peran dan fungsi pemuda pemudi Indonesia, di usia Sumpah Pemuda yang ke-90 tahun ini.

Dia menyampaikan, pemuda dan pemudi adalah pemilik masa depan. Di tangan pemuda itulah, seperti seringkali disampaikan para pendiri Bangsa, masa depan sebuah bangsa akan diletakkan.

“Apakah pemuda sebagai pedang sang pembebas masih sanggup menuai tugas sejarah itu? Adakah pemuda-pemuda yang masih menyimpan di hatinya cita-cita nasional titipan Bung Karno?” tuturnya, dalam siaran pers, Rabu (30/10/2018).

Dia menuturkan, apa hendak dikata, neoliberalisme (Kapitalisme) tidak mau memberi jalan “masa depan” bagi para pemuda, malah menganjurkan bunuh diri massal. Eksploitasi neoliberal tidak hanya menjajah fisik, sehingga kekurangan nutrisi, bahan makanan, pakaian, rumah, dan sebagainya.

“Tetapi, melebih dari itu semua, neoliberalisme juga menjajah jiwa dan kepribadian pemuda,” ujarnya.

Untuk menjajah jiwa dan kepribadian, Neoliberalisme memiliki sebuah pedang dengan kedua sisinya yang sangat tajam; individualisme dan konsumtivisme.

Individualisme disebarkan melalui pola dan gaya hidup, dan metode fragmentasi sosial; proses penghancuran bentuk-bentuk kolektifisme dan komunalitas. Konsumtifisme juga demikian, dia menyerang sel-sel otak bagaikan virus mematikan.

Seiring dengan revolusi teknologi informasi, selain memberi manfaat kepada manusia dalam sistim berkomunikasi, perkembangan media telah menjadi alat atau senjata paling penting dalam menyebarkan individualisme dan konsumtifisme.

“Media massa telah menjadi senjata pembunuh massal di abad modern, dan korban-korbannya adalah pemuda dan rakyat kita,” kata Marlo.

Lihatlah, lanjutnya, setiap pagi hari, anak-anak muda lebih mendahulukan menyimak acara-acara di televisi seperti dashyat, inbox, dering, dan berbagai acara musik pagi lainnya, ketimbang mereka harus fokus untuk menimbah ilmu di bangku sekolah.

“Lain lagi, ketika anak muda berani melakukan apapun, termasuk menjual diri, hanya untuk mendapatkan jenis Hand Phone terbaru; Iphone, Samsung, dan sebagainya,” katanya.

Saat ini, dia melanjutkan, Neoliberalisme menyebabkan anak-anak muda lebih hafal deretan lagu-lagu hits dan penyanyinya, tapi melupakan nama-nama pahlawan nasional dan urutan peristiwa dalam perjuangan bangsa ini.

Maka, benar apa yang dikatakan oleh Willian Grigsby, mantan pemiminpin Sandinista, neoliberalisme bukan hanya ideologi yang menjajah masyarakat dunia melalui kolonialisme tersembunyi. Neoliberalisme juga merupakan sebuah ideologi yang mengubah masyarakat menjadi sekedar konsumen—dan bukan hanya menjadi konsumen, masyarakat juga diubah mentalnya menjadi apatis, sinis, dan sangat individualis.

“Ya, tepat pula apa yang dikatakan Bung Karno, bahwa pemuda dan pemudi yang tidak bercita-cita, sudah mati sebelum mati. Dan, bagi kita, neoliberalisme telah menganjurkan kepada para pemuda untuk melakukan bunuh diri massal,” ujarnya.

Namun, itu tidak berarti bahwa nasionalisme dan semangat kebangsaan benar-benar sudah menghilang di dada kaum muda. Tidak, tidak seperti itu. Sebetulnya, kalau mau mengibaratkan, semangat itu masih tersimpan di dada kaum muda Indonesia, hanya saja masih tertutup oleh debu-debu pemalsuan dan penipuan sejarah.

“Kita bisa melihat, bagaimana semangat nasional dan kebangsaan itu berkobar-kobar di setiap pertandingan timnas Indonesia melawan negara lain di Stadion Gelora Bung Karno, meskipun tidak jarang timnas kita ditaklukkan oleh tim lain. Inilah semangat nasionalistis dan kebangsaan yang terpendam itu, dan bisa menjadi singa jikalau sanggup dibangunkan,” ujarnya.

Pemuda, lanjutnya, karena posisinya sebagai pedang suatu bangsa, tidak bisa menghindar dari tugas-tugas nasional ini. Siapapun dia, apapun warna kulitnya, dari manapun sukunya, kalau dia adalah pemuda dan pemudi, maka dia berhak memikul tanggung jawab ini.

Oleh karena itu, kaum muda harus berjuang sekeras-kerasnya bersama gerakan rakyat Indonesia lainnya, untuk mengakhiri sistim neoliberalisme atau penjajahan gaya baru, yaitu dengan merebut kembali kedaulatan bangsa.

“Kita sangat menyakini, ketika kedaulatan telah direbut, maka penindasan dan eksploitasi dari luar dapat diakhiri,” ujarnya.

Dia berharap, para pemuda-pemudi merasakan langsung amanat penderitaan rakyat, supaya tergerak hatinya untuk bekerja dan berjuang di tengah-tengah rakyat. Para pemuda harus aktif untuk membela rakyat tertindas di manapun, tanpa mengharapkan pamrih. Para pemuda harus terlibat dalam mengadvokasi, memberikan pendidikan, dan berjuang di tengah-tengah rakyat.

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri,” pungkasnya.(JR)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan