Breaking News

YLKI Minta Iklan Rokok Dihentikan Selama Bulan Puasa

YLKI Minta Iklan Rokok Dihentikan Selama Bulan Puasa.

Jelang peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada 31 Mei mendatang yang bertepatan dengan bulan Ramadan, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta Komisi Penyiaran Indonesia melarang total penayangan iklan rokok di televisi. Sampai saat ini, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang membolehkan iklan rokok di televisi. Kondisi ini jelas mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.

 

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menuturkan saat ini di seluruh dunia, iklan, promosi dan sponsor iklan rokok sudah dilarang total di semua lini media. Misalnya di Eropa Barat, iklan rokok telah dilarang sejak 1960. Di Amerika Serikat iklan rokok telah dilarang sejak 1973.

 

Begitu juga di negara-negara penghasil tembakau atau rokok terbesar di dunia, seperti China, India, Brasil, Bangladesh, Jepang; pun iklan/promosi rokok telah dilarang. Terutama setelah negara tersebut meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

 

“Hanya di Indonesia, iklan atau promosi rokok masih menjamur di semua lini media. Saat ini, Indonesia satu-satunya negara di dunia yang masih melegalkan iklan rokok di televisi,” katanya di Jakarta, Selasa (16/05/2017).

 

Tulus menyebutkan, saat ini banyak anak-anak dan remaja yang menonton televisi saat iklan rokok ditayangkan. Apaladi dalam regulasi dinyatakan iklan rokok boleh ditayangkan mulai jam 21.30-05.00 waktu setempat. Pengaturan itu dengan asumsi agar iklan rokok tidak dilihat oleh anak-anak, karena sudah tidur. Namun, saat bulan Ramadan mereka juga harus bangun pada saat makan sahur. Sehingga anak-anak akhirnya terpapar iklan rokok yang ditayangkan pada jam santap sahur itu.

 

“Bahkan produsen rokok sengaja membombardir iklan rokok pada saat makan sahur, dengan menjadikan anak-anak sebagai target utama. Ini hal yang tragis,” ungkapnya.

 

YLKI mencatat, industri rokok juga melakukan iklan atau promosi terselubung pada jam-jam prime time. Misalnya menjelang buka puasa, dengan dalih iklan korporat, bukan iklan produk.

 

“Ini jelas bentuk pengelabuhan pada publik. Sebab nama perusahaan rokok di Indonesia sama dengan nama merek produknya,” kata Tulus.

 

Dia menilai tidak etis apabila rokok menjadi sponsor acara keagamaan di televisi. Sudah terbukti merokok bukan tindakan positif, bahkan sebagian diharamkan, tetapi malah mensponsori program di bulan Ramadan.

 

Pakar Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany, mengatakan masih banyak pihak di Indonesia yang belum percaya akan bahaya rokok karena hasil penelitian dan pembuktian yang masih rendah.

 

“Selama ini kampanye pengendalian tembakau di Indonesia masih meminjam fakta-fakta yang ditemukan dalam penelitian di negara lain. Fakta di Indonesia belum cukup kuat secara ilmiah,” katanya.

 

Dia menuturkan, masih banyak pejabat eksekutif dan legislatif di Indonesia yang tidak mau percaya pada hasil penelitian dari Amerika Serikat soal bahaya rokok karena menganggap jenis rokok di dalam negeri berbeda dengan di luar negeri.

 

“Yang tidak paham statistik jelas tidak percaya dengan hasil penelitian itu. Mereka mengatakan kakek mereka berusia 80 tahun masih merokok juga tetap sehat,” ujarnya.

 

Padahal, bila melihat kecenderungan yang terjadi, data yang digunakan pada penelitian di Amerika Serikat cocok digunakan di Indonesia. “Di Amerika Serikat, beban biaya penyakit akibat rokok sudah terlihat. Di Indonesia belum,” ujar Hasbullah.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*