Breaking News

Wujudkan Poros Maritim, Mini Terminal LNG Hadir Pertama Kali di Indonesia dan Asia Tenggara

Mini Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair yang bisa dioperasikan di pulau-pulau dan daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. Terminal ini telah pdioperasikan untuk pertama kali di Teluk Benoa, Bali. Model pemenuhan kebutuhan listrik dengan mengintragarikan pulau-pulau Indonesia ini merupakan hasil karya putra bangsa Indonesia. Model ini merupakan jenis Mini Terminal LNG yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Presiden Jokowi tak perlu kewalahan dan sibuk dengan sejumlah persoalan pemenuhan listrik ke pulau-pulau terpencil Indonesia. Selain akan mempercepat perwujudan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, program kelistrikan 35000 Megawatt juga bukan persoalan yang pelik untuk diwujudkan. Sebab, saat ini sudah ada model Mini Terminal Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair yang bisa dioperasikan di pulau-pulau dan daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia.

Terminal ini telah pula dioperasikan untuk pertama kali di Teluk Benoa, Bali. Model pemenuhan kebutuhan listrik dengan mengintragarikan pulau-pulau Indonesia ini, merupakan hasil karya putra bangsa Indonesia. Model ini merupakan jenis Mini Terminal LNG yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Direktur Utama Pelindo Energi Logistik (PEL) Denny Hermanto menyampaikan, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah 13-an ribu pulau. Dalam mengintegrasikan negara kepulauan, Presiden Republik Indonesia membangun tol laut agar harga kebutuhan pokok turun. Selain tol laut yang dibangun, distribusi energi menjadi hal yang penting untuk menjawab percepatan pembangunan listrik 35000 Megawatt.

Berangkat dari karakter Indonesia yang adalah negara kepulauan, lanjut Denny, dan keinginan percepatan pembangunan listrik, maka sinergi BUMN terdiri dari Pelindo III, Pelindo Energi Logistik (PEL), Pertamina, PLN, Indonesia Power membangun Mini Terminal LNG Pertama di Indonesia.

“Terminal ini merupakan terminal bongkar muat gas, dimana gas LNG berasal dari Bontang (Pertamina), diangkut menggunakan kapal dan dikirim ke Benoa LNG. Lalu dipindahkan ke FSU (Floating Storage Unit) untuk disiman dan dialirkan ke FRU (Floating Regasification Unit) untuk diproses kembali menjadi gas, dan dialirkan melalui pipa ke pembangkit (PLTDG) Pesanggaran dengan kapasitas 200 Megawatt,” papar Denny Hermanto usai mendampingi Presiden Jokowi meninjau lokasi Mini Terminal LNG Pertama di Indonesia di Benoa, Bali, Sabtu (11 Juni 2016).

Dijelaskan Denny, sistem regas yang sering disebut Floating Rehasification Unit atau FRU didesain oleh putera bangsa dari ITS (Institut Teknologi Surabaya) dan ITB (Institut teknologi Bandung) dan merupakan inovasi yang pertama di Asia Tenggara.

“Ini merupakan pencapaian yang luar biasa dan bukti bahwa kita mampu. Dengan temuan dan sistem pasokan gas ini dapat membantu pemerintah menghemat pemakaian bahan bakar senilai Rp 4 miliar per hari,” tutur dia.

Mini Terminal LNG dan seluruh fasilitasnya, lanjut dia, mampu diwujudkan dan diselesaikan dalam waktu kurang dari 12 bulan. Langkah ini merupakan satu jawaban dan solusi buat pemerintah dalam mewujudkan percepatan pelistrikan 35000 Megawatt.

Denny menyampaikan, jika sistem Mini Terminal LNG dibangun di Indonesia Timur dan daerah pesisir pantai, maka dalam satu tahun ke depan akan terwujud pencapaian pelistrikan yang sangat signifikan.

Lagi pula, lanjut Denny, Floating Regasification Unit atau FRU yang pertama di Asia Tenggara ini sudah mulai dilirik oleh beberapa negara dengan permintaan studi banding dari Malaysia, Cina, Jepang, Kanada, Italia dan Finlandia.

“Dengan pencapaian tertinggi anak bangsa ini merupakan jawaban terhadap distribusi energi ke daerah kepulauan terutama di Kawasan Indonesia bagian Timur,” ujarnya.

Dengan diresmikannya dan pengoperasian Benoa LNG Terminal sebagai Mini LNG terminal pertama oleh Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo, maka terminal LNG merupakan solusi untuk mewujudkan cita-cita Presiden membangun dari Pinggiran dengan kekuatan Poros Maritim.

Presiden Joko Widodo meninjau pengoperasian Benoa LNG Terminal sebagai Mini LNG terminal pertama di Pelabuhan Benoa pada Sabtu siang (11 Juni 2016).

“Awal Juni kemarin selesai. Ini mengganti dari yang sebelumnya diesel dipindah ke gas dan ini storage-nya di sini yang cair kemudian diganti di sana gas dan gas masuk ke pembangkit listrik tadi,” kata Jokowi.

Proyek ini dapat menghemat biaya operasional PLN hingga Rp60 miliar. Menurut Presiden, pengalihan sumber tenaga dari diesel menjadi LNG dapat memberikan efisiensi yang besar bagi biaya maupun lingkungan.

Pemerintah, ujar Presiden Jokowi, akan mempertimbangkan pengalihan penggunaan bahan bakar diesel dengan LNG jika operasional PLTGU Pesanggaran berjalan baik.

“Sangat efisien, ini memang kita lihat kalau nanti ini baik, saya kira yang diesel yang di pulau-pulau itu satu persatu akan kita pindahkan, kita transfer ke gas,” kata Jokowi.

Presiden Jokowi menyatakan apresiasinya karena fasilitas tersebut dikerjakan oleh sejumlah insinyur lulusan perguruan tinggi dalam negeri. Kapal LNG tersebut dikerjakan bersama oleh tiga BUMN, yaitu Pelindo, PLN dan Pertamina.

Menurut Presiden, total biaya yang dibutuhkan untuk membangun PLTGU Pesanggaran sebesar Rp2 triliun. Kendati demikian, Presiden menjelaskan, biaya penggunaan PLTGU dan kapal penyalur gas masih lebih mahal ketimbang menggunakan sumber batubara. Presiden Jokowi menjelaskan seluruh kalkulasi terkait biaya penggunaan PLTGU akan dihitung oleh PLN.

“Pertama kita ingin mempercepat, yang kedua masalah biaya kita lihat agar lebih efisien dan yang ketiga juga masalah energi baru terbarukan juga menjadi catatan,” kata dia.

Dalam kegiatan itu, Presiden didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno serta Menteri ESDM Sudirman Said, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Dirut PLN Sofyan Basir.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*