Breaking News

Wujudkan Misi Kemanusian, Negara Diminta Hadir Bagi Perjuangan HIV/AIDS

Wujudkan Misi Kemanusian, Negara Diminta Hadir Bagi Perjuangan HIV/AIDS.

Negara diminta hadir dan mendukung misi kemanusiaan para pejuang HIV/AIDS. Perjuangan prinsip moral, norma-norma sebagai standar perilaku manusia sangat perlu dilindungi oleh negara. Selain itu pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) juga merupakan tanggung jawab penuh negara.

Kordinator Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Winda mengatakan, sejumlah elemen masyarakat sebagai pejuang HIV/AID seperti Yayasan Srikandi Sejati (YSS), Intermedika (LsL), Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan Komunitas Magma, perlu didukung oleh negara.

“Kami hadir ingin menunjukkan bahwa keberadaan dan kerja kami dalam usaha mewujudkan kemanusiaan yang adil bermartabat itu betul-betul harus mendapat apresiasi dukungan oleh pemerintah dan seluruh warga negara,” tutur Winda, saat menggelar diskusi dan konperensi pers jelang Peringatan Hari AIDS Sedunia, yang diselenggarakan oleh Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI), bertema Kita Ada Karena Kita Berjuang, di Jalan Cililitan Kecil 2 No 38, Kramat Jati, JakartaTimur, Jumat (16/11/2018).

Dia juga menegaskan, eksistensi atau keberadaan para pejuang dan relawan kemanusiaan tidak bisa ditutupi. Oleh karena itu, Negara dan pemerintah mestinya mendukung dan memberikan perhatian yang serius untuk persoalan itu.

“Kami dari berbagai komunitas, berkumpul menunjukkan bahwa kami ini ada. Kami meminta agar Negara hadir dan memberi perhatian terhadap usaha, yang seharusnya pemerintah lakukan terhadap pemenuhan hak-hak kami,” ujarnya.

Menurut dia, hingga kini, masih banyak komunitas yang mengalami perlakuan diskriminatif, misalnya dari hak mendapat perlindungan dan kepastian hukum, legitimasi pemerintah terhadap kelompok-kelompok yang terdiskrinasi, penertiban di lapangan oleh aparat yang sarat dengan paksaan fisik.

“Bahkan pelecehan verbal, dan masih banyak lagi yang kami sebetulnya merasa tidak dimanusiakan secara adil. Padahal, secara jelas di Sila Kedua Pancasila dan Undang-Undang Hak Asasi Manusia pun mengatur hajat hidup seluruh warga negara itu sama, tanpa diskriminasi,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Febri dari komunitas Intermedika (Lucky ‘sex Lucky) mengatakan, banyak yang melihat dan menilai keberadaan mereka secara negatif. Padahal, menurut dia,  di lapangan mereka melakukan misi kemanusiaan terhadap para pengidap positif HIV/AIDS.

“Dengan melakukan pendampingan kepada Pekerja Seks, dan kelompok-kelompok LGBT yang belum sadar atau paham apa itu gejala dan penanganan HIV/ AIDS,” ujar Febri.

Lebih lanjut, dia menuturkan bahwa pendampingan yang dilakukan yakni melalui pendekatan interpersonal. “Agar teman-teman mau memeriksakan diri ke layanan kesehatanatau klinik. Kemudian kami melibatkan diri untuk memotivasi mereka supaya tidak pesimis lantas bunuh diri dan memotivasi agar tidak menularkannya lagi kepada orang lain,” tutur Febri.

Pejuang HIV/AIDS dari  Indonesia Aids Coalition, Nining Irvana menyebutkan, sebagai penggiat misi kemanusiaan untuk para pengidap HIV/AIDS, pihaknya miris melihat pemberitaan media pers kepada masyarakat yang sangat terkesan mendiskreditkan.

Padahal, lanjut Nining, beberapa yayasan dan komunitas menyuarakan bahwa mereka melakukan upaya positif dan berdiri di bawah perlindungan hukum (legal).

“Misi kegiatan kami adalah demi persamaan hak dan pemberdayaan sumber daya manusia bersama dengan Kementerian Kesehatan. Untuk itu, kami meminta agar jangan menilai negatif, apalagi mendiskrimimasi. Karena kita ada, karena kita berjuang,” ujar Nining.

Vino dari Drop in Centre OPSI Jakarta menyampaikan, wacana yang sekarang terkait distribusi hak dan pertimbangan utilitas dari pemerintah.

“Pak Jokowi, perhatikan  kami juga dong  Pak. Di berita-berita, kami liat Pak Jokowi ke Papua terus. Kapan ketemu kami yang sekarang melawan HIV/AIDS?” ujar Vino.

Belum lama ini, lanjut dia, pihaknya sudah mempersiapkan sejumlah program dan berniat bertemu dengan Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Anis Rasyid Baswedan.

“Kami udah diskusi untuk diprogramkan Pak Jokowi kalau terpilih lagi. Pak Gubernur Anies Baswedan juga, kapan adakan pertemuan di Balai Kota dengan kami dari komunitas dan yayasan-yayasan yang sebetulnya kan juga membantu program pemerintah,” pintanya.(Jepri/Michael)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*