Breaking News

Waspadalah, Digitalisasi Ancam Pekerja Perbankan Indonesia, Ancaman Pengangguran Pun Bertambah

Waspadalah, Digitalisasi Ancam Pekerja Perbankan Indonesia, Ancaman Pengangguran Pun Bertambah.

Digitalisasi kini menjadi ancaman bagi manusia, terutama bagi para pekerja, khususnya pekerja di sektor perbankan.

 

Ancaman ini harus segera disikapi, jika Indonesia tidak mau terjebak pada persoalan panjang yang diakibatkannya.

 

Ketua Balitbang  Federasi Bank, Keuangan dan Niaga Serikat Buruh Sejahtera Indonesia ( FBKN-SBSI) Jacob Ereste menyampaikan, revolusi digital memang harus diakui cukup inovatif, akan tetapi juga menimbulkan efek negatif terutama buat karyawan Bank.

 

Menurut dia, bagi pihak industri perbankan, adopsi teknologi ini akan sangat berdampak pada efisiensi operasional bisnis. Sementara nasabah akan semakin  dimudahkan dengan layanan digital.

 

“Bayangkan saja, setiap orang bisa berurusan dengan bank tanpa harus datang ke bank. Tentu saja akibatnya, banyak pekerja di bagian bank tersebut sudah tidak lagi diperlukan jasanya. Mulai dari petugas parkir, jumlah keamanan hingga beberapa bagian administrasi dan bidang pekerjaan lainnya tidak lagi diperlukan,” tutur Jacob Ereste, Minggu (25/02/2018).

 

Dia menyampaikan, kekhawatiran di masa mendatang bakal semakin tersingkirnya peran manusia oleh digitalisasi. Kehawatiran ini, kata dia, agaknya semakin nyata dan terang. Ancaman hilangnya sejumlah bidang pekerjaan di bank sungguh sudah dimulai.

 

“Profesi karyawan bank bakal banyak yang punah akibat dari digantikannya oleh aplikasi dan kecerdasan buatan yang dibenamkan di dalamnya,” ujarnya.

 

Jika pun tetap ada peluang di balik digitalisasi perbankan ini, lanjut Jacob, hanya sebatas bagi mereka yang telah mempersiapakan diri untuk menjadi ahli Artificial Intelligence (AI) hingga praktisi Informasi dan Teknologi (IT)  sebagai pengendali kerja dari sebuah aplikasi.

 

“Tentu saja kebutuhan untuk mereka yang telah mempersiapkan diri untuk bekerja sebagai tenaga ahli AI dan IT semata, karena tidak lagi akan sebanyak karyawan back office.Digitalisasi perbankan memang akan memberi kenyamanan bagi para nasabah, konsekuensi logisnya memang harus dibayar mahal,” tuturnya.

 

Munculannya perusahaan financial technology atau fintech, kata Jacob, membuat industri perbankan melakukan transformasi menyambut digital banking dengan jasa electronic banking atau digital banking.

 

Bahkan, sejumlah bank telah dipaksa menciptakan versi inovasi teknologi finansial sendiri, sementara yang lain memperluas hubungan kolaboratif dengan–atau hanya mengakuisisi-perusahaan yang menawarkan teknologi.

 

“Bayangkan, setiap orang bisa melakukan transfer dana dari smartphone hanya dengan menggunakan aplikasi mobile banking,” ujarnya.

 

Peneliti Atlantika Institut Nusantara Ratuate menambahkan, digitalisasi yang terjadi pada industri perbankan dan juga pada industri lain menghadirkan gangguan bukan hanya kepada para pesaing, tetapi juga aset perusahaan yang paling utama yakni sumber daya manusia.

 

Contohnya, lanjut Ratuate,penggunaan transaksi non tunai untuk transaksi pembayaran jalan tol menjadi ancaman bagi seribu lebih karyawan Jasamarga.

 

“Menyusul kemudian, Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) menawarkan karyawannya untuk pensiun dini secara sukarela seiring dengan fokus bank tersebut bertransformasi menjadi bank digital,” ujar Ratuate.

 

Menurut dia, digitalisasi industri perbankan pernah terjadi sebelumnya, ketika bermunculannya mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang memudahkan nasabah untuk melakukan penarikan dana di luar kantor bank dan di luar jam operasional bank.

 

“Ekspansi secara geografis dan ekspansi lini bisnisnya perbankan terus meruyak. Internet banking pun kemudian muncul sebelum mobile banking. Namun semua itu tidak membuat ancaman bagi pekerja bank. Bagitu pula dengan kehadiran smartphone,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*