Breaking News

Waspadai, Kulminasi Utama Matahari: Pulau Jawa Alami Peningkatan Suhu Secara Merata

Waspadai, Kulminasi Utama Matahari: Pulau Jawa Alami Peningkatan Suhu Secara Merata.

Oleh: Siswanto, Kepala Sub Bidang Produksi Iklim dan Kualitas Udara, Badan Materologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

 

  1. Fenomena Kulminasi Utama

 

Kulminasi atau transit atau istiwa merupakan fenomena saat matahari di langit berada tepat di posisi lintang di mana kita berada, sehingga membuat sudut deklinasinya 0, atau tepat tegak lurus di atas kepala kita, sehingga membuat apapun seakan-akan tak ada bayangannya. Fenomena ini terjadi lantaran adanya revolusi bumi mengitari matahari yang mengakibatkan gerakan semu matahari. Letak wilayah geografis Indonesia yang berada di sebelah utara dan selatan ekuator membuat kulminasi terjadi dua kali dalam setahun di beberapa wilayah.

 

Di Pulau Jawa, kulminasi utama terjadi juga pada bulan Oktober ini. BMKG telah mengeluarkan rilis, misalnya di Jakarta, kulminasi utama terjadi pada hari ini, 9 Oktober pukul 11.40 WIB dan di Serang pukul 11.42 WIB. Kulminasi diprediksi akan terjadi di Bandung pada tanggal 11 Oktober pukul 11.36 WIB, di Semarang pukul 11.25 WIB. Di Surabaya, kulminasi dapat dirasakan nanti pada 12 Oktober 11.15 WIB dan di Jogjakarta pada 13 Oktober pukul 11.24 WIB.

 

  1. Kulminasi Matahari di atas Jawa membuat Suhu bulan Oktober mencapai puncaknya

 

Data klimatologi 30 tahun BMKG (1981-2010) mencatat bahwa suhu rata-rata dan suhu maksimum (terjadi siang hari) di kota-kota besar di Pulau Jawa meningkat dari bulan Agustus hingga bulan November, puncak suhu tertinggi umumnya terjadi di bulan Oktober.

 

Kulminasi Matahari di bulan ini menyebabkan pancaran radiasi langsung (penyinaran) Matahari terjadi lebih maksimal dan menyebabkan penguapan tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Semakin maksimal radiasi yang diterima permukan bumi, akan semakin besar pula radiasi balik yang dipantulkan permukaan bumi. Radiasi balik inilah yang kemudian kita rasakan sebagai panasnya udara permukaan. Umumnya hal ini menyebabkan kondisi gerah dan terik yang menyengat ke kulit.

 

  1. Suhu Oktober kali ini belum melampaui suhu maximum yang pernah tercatat

 

Meskipun perubahan suhu global terus diprediksi memanas, tidak berarti kulminasi kali ini menyebabkan suhu paling tinggi di kota-kota di Jawa tersebut. Menurut data suhu global dari Badan Adminitrasi Laut Atmosfer Amerika, NOAA, 2018 berpeluang menjadi tahun terpanas keempat yang tercatat dalam data historis suhu global setelah tahun terpanas pada 2015, 2016 dan 2017.

 

Terkait fenomena kulminasi di bulan Oktober ini, hingga saat ini (10/10/2018), pencatatan suhu maximum di beberapa kota di Jawa belum menunjukkan indikasi kejadian suhu ekstrem (lebih dari 35°C atau 3°C lebih panas dari rata-ratanya dan terjadi minimal 3 hari berturut-turut). Di Jakarta, suhu maximum terjadi justru pada tanggal 7 kemarin yaitu 35.4°C tercatat di Kemayoran. Di Semarang juga terjadi pada tanggal 7 sebesar 36.7° dan di Bandung terjadi kemarin 32.4°C.

 

Suhu tercatat sementara ini belum menjadi rekor baru dari suhu tertinggi yang pernah tercatat di bulan Oktober. Di Kemayoran Jakarta, suhu maximum di bulan Oktober yang tercatat pernah terjadi pada 7 Oktober 2007 sebesar 38.3°C. Di Semarang, suhu tertinggi tercatat 39.5°C terjadi pada 27 Oktober 2015, sementara di Bandung suhu 33°C pernah terjadi pada 6 Oktober 2006.

 

  1. Mengapa suhu terasa panas sekali?

 

Cuaca yang panas, angin yang bertiup cukup kencang, tidak hujan dalam waktu yang lama, permukaan tanah yang kering dan kelembaban udara yang kurang  menjadi pemicu tingkat ketidaknyamanan tubuh terhadap udara lingkungan. Penambahan panas maximum siang hari tersebut, selain karena radisi langsung matahari yang melimpah karena posisi kulminasi gerak semu matahari yang pada bulan Oktober tepat berada di atas kepala Jakarta, juga merupakan dampak musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.

 

Jakarta, 10 Oktober 2018

Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, BMKG.

Siswanto, Kepala Sub Bidang Produksi Iklim dan Kualitas Udara.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*