Breaking News

Wajib Berhati-Hati Jadi Nasabah Di Bank Mandiri, Tak Diusut, Pimpinan Bank Mandiri Malah Lindungi Komplotan Pembobol Data Rahasia

Wajib Berhati-Hati Jadi Nasabah Di Bank Mandiri, Tak Diusut,Pimpinan Bank Mandiri Malah Lindungi Komplotan Pembobol Data Rahasia.

Aparat hukum diminta segera memroses adanya pembobolan sejumlah rekening nasabah Bank Mandiri. Selain bobol, sudah terlalu banyak keluhan dan laporan para nasabah mengenai adanya pembocoran rahasia dan data nasabah Bank Mandiri yang dilakukan oleh petugas Bank Mandiri bersama komplotan yang selama ini beraksi.

 

Ketua Lembaga Kajian Investigasi dan Hukum Indonesia (KIH) Wira Leonardi menyampaikan, selama ini, belum ada tindakan tegas dan nyata yang dilakukan kepada pihak Bank yang dilaporkan melakukan pembobolan rekening dan data nasabah.

 

Malah, menurut Wira, pihak Bank terkesan enteng dan selalu berlindung di balik sejumlah argumentasi yang dibuat-buat.

 

“Harus diusut dan ditindak tegas semua komplotan, pelaku dan juga para pembobol rekening dan kerahasiaan data nasabah di Bank Mandiri. Itu sangat jelas diterangkan di dalam Undang-Undang Kerahasiaan Perbankan. Harus ada sanksi tegas,” tutur Wira Leonardi, di Jakarta, Rabu (16/08/2017).

 

Dia menjelaskan, pelanggaran terhadap pembocoran kerahasian Bank tercantum dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998. Dan pembukaan rahasia Bank yang mengacu kepada ketentuan BI berdasarkan pasal 51 ayat 1 Undang-Undang tentang perbankan, maka perbuatan tersebut dianggap sebagai kejahatan.

 

“Ketentuan pidana dan sanksi administratif sebagai mana diatur dalam pasal 47 dan pasal 47A jo pasal 52,” ujar Wira.

 

Selain aparat penegak hukum, dia juga mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk bertindak atas setiap laporan yang menimbulkan kerugian bagi nasabah bank, apalagi tindakan yang mengandung unsur pidana dan berkomplot menghasilkan keuntungan sepihak.

 

“OJK juga harus menindak tegas para Bank yang tidak responsif dengan setiap laporan,” ujarnya.

 

Selama ini, nasabah selalu menjadi korban, dan laporan tidak diusut. Malah, lanjut Wira, para pejabat Bank biasanya berkelit. “Ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada Bank. Bisnis keuangan ini kan lebih pada kepercayaan masyarakat, malah masyarakat kian tak percaya kalau begini,” ujarnya.

 

Posma Lamria Tampubolon, salah seorang nasabah Bank Mandiri, mengaku sudah tidak tahan dengan sikap pihak Bank Mandiri yang tidak mengurusi komplain dan laporannya atas pembobolan dara rahasia rekeningnya di Bank Mandiri.

 

Pemilik Nomor Rekening Bank Mandiri  105-000-2112260 di Kantor Bank Mandiri Cabang Zainul Arifin, Medan itu mengaku, data kerahasiaan rekeningnya dibobol oleh petugas di Bank Mandiri Cabang Bekasi Taman Harapan Baru (THB) bersama seorang nasabah, yang bernama Endang Hadi S, yang merupakan kompetitor bisnis online-nya.

 

“Sejak April 2017 peristiwa ini terjadi, dan sudah saya minta pertanggungjawab melalui Bank Mandiri di tempat saya membuka rekening, namun sampai saat ini tidak ada tindak lanjut. Saya juga sudah menyurati Pimpinan Bank Mandiri Pusat di Jakarta dan Otoritas Jasa Keuangan agar nasib saya diperhatikan. Atas peristiwa yang sudah sangat merugikan saya sebagai Nasabah Bank Mandiri,” ungkap Posma Lamria Tampubolon.

 

Ibu yang akrab disapa Rara ini mengatakan, bukan hanya informasi pembobolan rahasia rekeningnya yang terjadi, bahkan di media sosial pun dirinya terus-terusan di-bully dan diperlakukan bagai penjahat.

 

“Saya mengalami depresi berat. Dituduh maling, dikata-katain yang buruk-buruk, di-bully habis-habisan seolah-olah saya penjahat. Saya tidak terima ini semua. Ini pidana, pencemaran nama baik, pelanggaran Undang Undang Kerahasiaan Rekening, pelanggaran terhadap Undang-Undang ITE,” tuturnya.

 

Dia menyampaikan, usaha atau bisnis berjualan tas secara online-pun kini terus-terusan mengalami kerugian dan masih saja kena-bullying.

 

“Saya tidak mengerti mengapa setega itu orang-orang kepada saya, dan saya ditindas dan dibiarkan,” tutur Ibu beranak dua ini sedih.

 

Rara mengungkapkan, kronologis pembobolan informasi rahasia rekening Bank Mandiri miliknya dilakukan oleh oknum pegawai Bank Mandiri di Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat bersama seorang rekan bisnisnya bernama Endang Hadi S.

 

Pada Jumat tanggal 14 April 2017,  Endang HS melakukan transfer untuk membayar tas yang dibeli secara online via media sosial FaceBook.

 

Pada saat transfer, Endang mengaku ada kelebihan transfer atas pembayaran tas ke Rekening Rara.  Endang pun mengkonfirmasi kelebihan transfer itu lewat inbox FB.

 

“Di-inbox  bahwa beliau sudah transfer dan tidak memberikan bukti atau struk transfer. Perlu saya sampaikan, saya juga tidak memakai layanan internet banking, sehingga saya pun tidak tahu bahwa beliau ada kelebihan transfer sebanyak  Rp 16.200.00,” ungkap Rara.

 

Endang sendiri tersadar bahwa ia melakukan kelebihan transfer itu pada hari Selasa tanggal 18 April 2017.  Menurut rara, Endang mengaku mendatangi Bank Mandiri Cabang Taman Baru Bekasi pada tanggal 18 April 2017 pada jam 14:50 WIB, dengan memberikan struk transfer kepada salah satu Customer Services di Bank Mandiri Cabang Taman Harapan Baru Bekasi.

 

“Si Pegawai yang merupakan Customer Services tersebut membuka Nomor Rekening saya dan menginformasikan kepada Ibu Endang bahwa setengah jam setelah beliau transfer uang, saya menarik dana/mengosongkan Rekening Bank saya. Ini kan ngaco,” ujar Rara.

 

Rara mengingatkan, pada  saat yang sama, dirinya sama sekali tidak ada melakukan penarikan dana. “Pada Jumat 14 April 2017 itu adalah Hari Libur (Jumat Agung) saya dan anak-anak saya sedang makan di salah satu restoran di Kota Medan. Dan ATM saya pergunakan hanya mendebit uang makan di restoran itu. Jadi, tidak benar bahwa ada penarikan atau pengosongan dana saya dari Nomor Rekening Mandiri saya sebagaimana disampaikan si Customer Service itu kepada Ibu Endang,” tutur dia.

 

Persoalan tidak berhenti sampai di situ, ternyata Endang membuat pernyataan itu melalui seseorang bernama Sri Suryani ke media sosmed/facebook. Dan pada akhirnya, Rara diperlakukan bagai penjahat di media sosial.

 

“Saya tidak terima. Saya menjadi bahan bully oleh orang-orang di media sosial. Telah terjadi pencemaran nama baik dan juga tindak pidana penistaan terhadap diri dan usaha saya di media sosial dikarenakan salah seorang Customer Service Bank Mandiri di Taman Harapan Baru Bekasi memberikan informasi yang tidak benar terkait penarikan dana dan transaksi rekening saya kepada pihak lain, yakni Ibu Endang. Yang kemudian di-upload ke media sosial,” ujarnya.

 

Rara menyatakan keberatan dan tidak terima pemberitahuan kerahasiaan rekening saya kepada orang lain. Dengan memperhatikan Pasal 1 Angka 15 Undang Undang Nomor 15 Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, dinyatakan bahwa rahasia bang adalah ‘Segala Sesuatu Yang Berhubungan Dengan Keuangan dan Hal-hal Ini Dari Nasabah Bank Yang Menurut Kelaziman Dunia Perbankan Wajib Dirahasiakan.

 

Rara juga menyampaikan bahwa dirinya telah di-zalimi oleh pihak Bank Mandiri karena tidak menjaga kerahasiaan Rekening Bank Mandiri-nya. Sebagai nasabah Bank Mandiri, dirinya pun telah meminta klarifikasi dan juga proses hukum bagi oknum pegawai yang membocorkan rahasia rekeningnya kepada orang lain.

 

“Saya meminta dan dipulihkan nama baik saya. Saya minta pihak Bank Mandiri untuk menindak oknum Customer Services tersebut dan saya minta gati rugi harus membersihkan nama baik saya dan juga kerugian yang sudah ditimbulkan,” ujarnya.

 

Kepala Bank Mandiri Cabang Medan Zainul Arifin, Agus Budiono melalui surat klarifikasinya mengaku tidak bertanggung jawab atas semua kejadian yang dilaporkan oleh Posma Lamria T itu.

 

Di dalam surat klarifikasinya tertanggal 31 Mei 2017, Agus Budiono terkesan melindungi komplotan pembobol rahasia Bank Mandiri.

 

“Sebelumnya kami mengucapkan terimakasih atas kepercayaan Ibu untuk tetap setia menjadi nasabah loyal Bank Mandiri. Perkenankan kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas keluhan yang Ibu sampaikan melalui Surat tanggal 12 Mei 2017 terkait dugaan adanya indikasi kebocoran data informasi nasabah,” ujar Agus Budiono memulai surat klarifikasinya.

 

Sebagai tindak lanjut atas pengaduan tersebut dan berdasarkan hasil investigasi, lanjut Agus Budiono, disampaikan;  pertama, tanggal 18 April 2017, nasabah atas nama Ibu Endang datang ke Bank Mandiri Cabang Bekasi Taman Harapan Baru (THB) dan dilayani oleh Customer Service. Nasabah meminta untuk dilakukan pencetakan buku tabungan dan menanyakan transaksi transfer yang dilakukan pada tanggal 14 April 2017 dengan nominal Rp 18.020.00,-.

 

“Customer Service menginformasikan bahwa transaksi tersebut sukses mengkredit ke rekening tujuan transfer yaitu atas nama Posma Lamria T,” ujar Agus.

 

Kedua, sesuai dengan Undang-Undang Kerahasiaan Bank, Customer Service Bank Mandiri Cabang Bekasi THB tidak pernah menginformasikan data atau transksi rekening Ibu Posma Lamria kepada pihak lain, termasuk kepada Ibu Endang Hadi S.

 

“Kami berharap, kiranya Ibu tetap berkenan untuk bertransaksi dan terus meningkatkan penggunaan produk/jasa Bank Mandiri. Demikian kami sampaikan, terima kasih atas perhatian dan kerja sama Ibu selama ini,” pungkas Agus.

 

Ketua Lembaga Kajian Investigasi dan Hukum Indonesia (KIH) Wira Leonardi menyampaikan, pembobolan rekening pribadi oleh Oknum Pegawai Bank Mandiri itu, penyebarluasan informasi kerahasiaan nasabah kepada orang lain yang bertentangan dengan Undang-UndangNomor 10 Tahun 1998 Pasal 40 Ayat (1) Tentang ” Bank Wajib Merahasiakan Keterangan Mengenai Nasabah  Penyimpan dan Simpanannya”, pelanggaran UU ITE ( Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas UU ITE), Peraturan Otoritas Jasa Keuangan  No :1/POJK.07/2013 Tentang : “ Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan”, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang : “ Perubahan Atas Undang-Undang nomor 7 Tahun 1998 Tentang Perbankan”, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 Tentang Perlindungan Konsumen, yang menyebabkan Kerugian Materiil dan Immateriil.

 

Wira juga mengingatkan, bahwa Bank Mandiri telah lalai dalam melakukan pengawasan internal serta tidak menerapkan prinsip kehati-hatian cermat  dalam menjalankan transaksinya sebagaimana yang ditentukan oleh SK.Dir BI No.27/162/1995 tentang larangan melakukan transaksi tanpa adanya perintah tertulis dari nasabah, sehingga Bank Mandiri Wajib mengembalikan Uang saya sebagaimana yang dijelaskan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

 

“Kemudian, salah satu implementasi dari Prinsip Kehati-Hatian adalah Bank harus melakukan Customer Due Diligency (CDC) yaitu berupa kegiatan Indentifikasi, Verifikasi, Pemantauan, Pengawasan terhadap setiap transaksi yang dilakukan oleh nasabah Bank dengan melakukan Konfirmasi secara personal, untuk memastikan bahwa transaksi yang dilakukan sesuai dengan Profil Nasabah,” ujarnya.

 

Karena itu, lanjut Wira, pelaku Usaha Jasa Keuangan dalam hal ini Bank Mandiri wajib menjaga keamanan simpanan, dana, atau aset konsumen yang berada dalam tanggung jawab Pelaku usaha Jasa Keuangan (Pasal 25 POJK Nomor : 1/POJK.07/20013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan).

 

“Pelaku Jasa keuangan dalam hal ini Bank Mandiri wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen yang timbul akibat kesalahan dan/atau Kelalaian, Pengurus, Pegawai, pelaku Usaha Jasa keuangan dan/atau pihak ketiga yang bekerja untuk kepentingan pelaku Usaha Jasa Keuangan, sesuai Pasal 29 POJK Nomor: 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan,” ujarnya.

 

Dia juga menyampaikan, Pelaku Usaha Jasa Keuangan dalam hal ini Bank Mandiri Wajib mencegah Pengurus, Pengawas, dan Pegawainya dari perilaku menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukannya, yang dapat merugikan konsumen (Pasal 30 ayat 1b POJK Nomor: 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan).

 

Di dalam Pasal 53 POJK Nomor : 1/POJK.07/2013 dengan tegas memberikan sanksi bagi Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan/atau pihak yang melanggar ketentuan dalam peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini dikarenakan sanksi administratif, berupa : a. Peringatan Tertulis; b. Denda yaitu Kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu; c. Pembatasan Kegiatan Usaha; d. Pembekuan Kegiatan Usaha; dan e. Pencabutan Izin Kegiatan usaha.

 

“Jadi, pihak Bank Mandiri Patut Diduga telah melakukan pelangggaran sebagai mana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Perbankan Nomor 7 tahun 1992 serta perubahannya pada Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 dan terhadapnya dapat dikenakan sanksi sesuai dengan Undang-Undang ini,” pungkas Wira.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*