Breaking News

Unjuk Rasa Pro Pemerintah, Warga Surya Ramai-Ramai Dukung Selesaikan Pertikaian

Warga Surya masih was-was akan terjadinya kembali pertikaian di negaranya.

Warga Surya beramai-ramai turun ke jalanan melakukan unjuk rasa pro pemerintah agar segera menyelesaikan pertikaian yang terus menerus mendera negara itu.

Seperti yang dilakukan warga di desa Kawkab, Provinsi Hama, Suriah, masyarakat turun ke jalanan serta melakukan sebuah adegan yang menyerupai adegan dari George Orwell pada tahun 1984 silam.

Seperti yang dikutip dari media Sky News (6/5/2016), warga berusia tua dan muda berdiri dengan dengan membawa foto Presiden Surya Bashar al-Assad dan bendera Suriah. Mereka serempak meneriakkan Pemimpin Syi’ah tersebut: “Allah, Bashar al Assad dan Suriah selamanya.”

Dalam unjukrasa tersebut, dilaksanakan penandatanganan perjanjian gencatan senjata lokal, dan demonstrasi pro-pemerintah. Kesepakatan itu ditandatangani antara Kepala Desa Kawkab, ‘Sheikh’ dan Pemerintah Suriah.

“Butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan sisi yang bertikai ke meja perundingan. Akhirnya, telah datang hasil,” kata Jenderal Igor Konashenkov, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia.

Secara keseluruhan, ada 91 perwakilan Kota dan Desa yang menandatangani perjanjian gencatan senjata lokal dengan pemerintah Suriah yang terbaru.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, ada 7.000 pejuang yang menyerahkan senjata dalam perdamaian tersebut. Dalam penandatang perdamaian tersebut ada orang lokal yang sempat putus asa untuk mendapatkan roti dalam antrian yang diberikan dari truk militer, yang dihiasi dengan bendera Rusia dan Suriah.

Satu anak laki-laki menangis dan ketika ditanya kenapa dia menangis, ibunya menjawab bahwa itu karena mereka tidak kebagian makanan.

Selama bertahun-tahun terjadi pertempuran sengit antara Al Nusra bersama Ahrar Asham yang merupakan Kelompok Milisi dan cabang Al Qaedah yang bertempur melawan Pasukan Pemerintah. Banyak penduduk setempat tidak memiliki tempat tinggal karena hancur dalam pertempuran tersebut.

Menurut penduduk setempat, sejak dua tahun yang lalu kelompok militan Al Nusra dan Ahrar Asham mulai beroperasi di daerah tersebut. Sebagian masyarakat ada yang bergabung dengan para kelompok milisi, dan yang lain harus melarikan diri dan hidup di kamp pengungsi terdekat.

“Semua ingin kita lakukan adalah untuk kembali ke tanah kami, untuk menggiring domba, tumbuh zaitun dan kacang di sini. Itu membuat saya sangat sedih bahwa saya masih tidak bisa kembali,” ucap salah satu warga, seperti yang diberitakan SKY News.

Kegelisahan pun masih dirasakan masyarakat sampai saat ini. Bahkan saat mendapatkan makanan dan bantuan medis, masih ada perasaan kegelisahan di kalangan penduduk.

Perimeter alun-alun di Kawkab dijaga oleh pasukan khusus Rusia, yang disebut “orang sopan”, mereka dijuluki demikian setelah aneksasi Krima.

Beberapa warga mengatakan mereka akan tinggal di desa karena masih memiliki sisa rumah mereka. Lainnya khawatir bahwa pertempuran akan melanjutkan dan kembali ke kamp pengungsi.(Tornando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*