Breaking News

Transportasi Kawasan Timur dengan Barat Masih Timpang, Nelayan Ingin Maksimalkan Angkutan Perikanan Tol Laut

Transportasi Kawasan Timur dengan Barat Masih Timpang, Nelayan Ingin Maksimalkan Angkutan Perikanan Tol Laut.

Nelayan dari Kawasan Timur Indonesia (KTI) ingin memaksimalkan pengakutan ikan tol laut. Selama ini, masih terjadi ketimpangan angkutan perikanan di KTI dengan Kawasan Barat.

Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan Pengurus Pusat Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT), Siswaryudi Heru menyampaikan, hasil perikanan yang melimpah dari KTI selama ini sering terbengkalai pemasarannya dikarenakan keterbatasan pengangkutan perikanan.

“Nelayan perlu mengangkut hasil-hasil tangkapannya dengan pengangkutan perikanan secara maksimal. Pengangkutan perikanan tol laut harus dimaksimalkan,” tutur Siswaryudi Heru, di Jakarta, Jumat (01/02/2019).

Memang, lanjut Ketua Maritim dan Nelayan Projo ini, nelayan mengeluhkan minimnya sarana dan prasana pengangkutan perikanan yang bisa mereka pergunakan untuk mengangkut dan mendistribusikan hasil-hasil tangkapannya.

“Kalau dari Kawasan Indonesia Timur, belum maksimal pengangkutan perikanan. Semoga pemerintah memikirkan dan melakukan akselerasi pengangkutan ikan tol laut di wilayah itu,” tuturnya.

Apabila pengangkutan perikanan lancar, lanjut Wabendum Bidang Perikanan dan Nelayan DPP Hanura ini, maka peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir bisa lebih mudah diwujudkan juga.

Apalagi, lanjut Siswaryudi Heru, dengan pengangkutan berbiaya terjangkau, cepat dan efektif, maka hasil-hasil laut dari KTI pun bisa dengan baik terangkut ke tempat-tempat tujuan. “Harganya tentu pasti lebih terjangkau. Harapan kita tol pengangkutan laut segera diwujudkan,” ujarnya.

Terpisah, sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginstruksikan agar kapal tol laut berisi muatan berupa hasil pertanian, perkebunan,  dan ikan dari Kawasan Timur Indonesia, khususnya dari Maluku ke provinsi lain di tanah air.

“Target kami kapal tol laut saat kembali harus terisi 50 hingga 60 persen hasil-hasil perkebunan, pertanian dan terutama perikanan dari Maluku untuk dibawa ke daerah lain, terutama Pulau Jawa,” ujar Menteri Perhubungan.

Hingga saat ini, kapal tol laut yang menyinggahi sejumlah kabupaten dan kota di Maluku, saat kembali hanya bisa mengangkut 35 persen barang dan hasil produksi masyarakat dan umumnya milik pengusaha setempat.

Menurut Menhub, pemanfaatan jasa tol laut untuk mendistribusikan hasil produksi masyarakat KTI ke sentra pemasaran di Pulau Jawa, jauh lebih mudah karena harga angkut relatif murah serta berdampak mendongkrak produktivitas dan membuka lapangan pekerjaan lebih luas.

“Karena itu saya sudah bicara dan minta tolong Gubernur Maluku Said Assagaff agar bisa didorong peningkatan kapasitas angkut hasil produksi masyarakat dari Maluku hingga mencapai 60 persen melalui jasa tol laut, terutama produk kopra dan berbagai jenis hasil perikanan mengingat kualitasnya sangat baik dan diminati baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Budi Karya menegaskan, program tol laut selain mewujudkan konektivitas antardaerah juga menekan kesenjangan harga antara wilayah Barat danTimur Indonesia yang disebabkan tidak adanya kepastian ketersediaan barang.

Dia mencontohkan, jika harga kopra dan ikan di Maluku jatuh atau anjlok, maka bisa disiasati dengan dijual ke Pulau Jawa dengan memanfaatkan jasa tol laut. Dalam jangka dua minggu saja satu ton ikan atau kopra sudah bisa dijual di Surabaya.

“Dengan jasa tol laut kita siapkan kontainer dan disubsidi. Jika dimungkinkan distribusi dan pemasaran ikan dari Maluku ke negara tetangga seperti Darwin, Australia Utara atau Republik Palau mengunakan pesawat jika, Kami siap memberikan subsidi,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*