Breaking News

Tolak Politik Utang Industri Pariwisata di Pesisir dan Pulau Pulau Kecil di Indonesia

Tolak Politik Utang Industri Pariwisata di Pesisir dan Pulau Pulau Kecil di Indonesia.

Proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) akan menambah beban utang luar negeri.

 

Proyek KSPN adalah proyek ambisius yang membutuhkan dana besar dan berpotensi merampas ruang hidup masyarakat pesisir.

 

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menolak politik utang untuk industri pariwisata di pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia.

 

Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati menyampaikan, dari Pusat Data dan Informasi Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan 2017 tercatat, dana yang dibutuhkan untuk proyek 10 destinasi wisata prioritas beserta infrastruktur pendukungnya mencapai lebih dari132 triliun rupiah.

 

Ironinya, pada tahun 2017, pemerintah Indonesia telah mengajukan pinjaman kepada Bank Dunia untuk membangun tiga destinasi pariwisata prioritas yaitu Danau Toba, Borobudur, dan Mandalika beserta infrastruktur pendukungnya sebesar 9.9 triliun rupiah. Target utang luar negeri untuk tiga destinasi pariwisata ini tercatat sebesar 28,45 triliun rupiah.

 

Dengan demikian, masih ada lebih dari 19 triliun rupiah dana utang luar negeri untuk membangun tiga destinasi pariwisata tersebut.

 

“Kita bisa belajar dari tergusurnya 109 KepalaKeluarga di Gili Sunut, Lombok Timur dimana mereka telah kehilangan tempat mencari nafkah hanya karena wilayah mereka mau dibuat area pariwisata. Bisa dibayangkan proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional ini berpotensi melakukan hal yang sama, perampasan ruang. Ironinya, proyek ini malah akan menambah utangnegara” ujar Susan Herawati, di Jakarta, Rabu (19/07/2017).

 

Dia menyampaikan, proyek KSPN, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sejatinya bertentangan dengan sejumlah peraturan yang berlaku di Republik ini, diantaranya Undang-Undang No. 7 Tahun 2007 jo UU No. 1 Tahun 2014tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; Putusan Mahkamah Konstitusi No. 3 Tahun 2010mengenai larangan privatisasi dan komersialisasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan UU No. 7 Tahun2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

 

“Proyek KSPN yang berbasis utang luar negeri, hanya akan menambah beban utang negara. Alih-alih mendorong pariwisata Indonesia maju dan berdaya saing. Sebaliknya, utang hanya membuat bangsa ini tergantung, terjerat dan tidak berdaulat atas lautnya sendiri” tutup Susan Herawati.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*