Breaking News

Tokoh Senior Pendiri PDI Berpulang, Mengenang Legislator Tiga Zaman VB Da Costa

Catatan Petrus Selestinus, Advokat PERADI Dan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia-TPDI

Vincentius Bata Da Costa atau yang dikenal VB. Da Costa, SH Tokoh Senior Pergerakan Dan Salah Seorang Pendiri PDI.

Catatan Petrus Selestinus, Advokat PERADI Dan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI)

Tokoh legislator 3 (tiga) zaman Vincentius Bata Da Costa atau yang sering dikenal dengan VB. Da Costa, SH, telah meninggalkan kita untuk selama lamanya. Tokoh asal Paga, Maumere, Flores, NTT, yang lahir pada tanggal  22 Januari 1927 itu meninggal pada tanggal  11 Februari 2016, diduga akibat serangan jantung dalam usia 89 tahun. Semua yang mengenal almarhum VB Da Costa secara dekat pasti mengagumi sosok ini, karena selain senyumnya yang manis, berwibawa namun setiap kata dan kalimat yang diucapkannya itu selalu dengan tutur bahasa yang sederhana, tertata dengan baik dan santun. Namun dibalik kesederhanaan dan kesantunan dalam setiap ucapannya itu sesunguhnya tersimpan watak keras, gigih dan cerdas ketika ia harus mempertahankan argumentasinya, terlebih-lebih ketika memperjuangkan sebuah nilai kebenaran untuk kepentingan bangsa ini.

 

Saya megenal secara dekat almarhum VB. Da Costa pada tahun1980 ketika saya masih kuliah di smester akhir Fakultas Hukum, karena saat itu saya masih magang di Kantor Advokat R.O. Tambunan, SH. seorang Advokat dan Politisi mantan kader Golkar, yang juga belum lama ini meninggal dunia. Hubungan antara VB. Da Costa dengan R.O. Tambunan sangat dekat karena mereka pernah sama-sama  cukup lama di Komisi III DPR RI dari Fraksi berbeda. VB. Da Costa dari Fraksi PDI sedangkan R.O. Tambunan dari Fraksi Golkar yang kiata tahu dalam banyak hal sering bertolak belakang ketika berada dalam satu forum guna membahas RUU atau masalah lainnya menyangkut kepentingan bangsa ini.

 

Kedua pribadi ini saling mengagumi bahkan saling memuji  dari yang satu terhadap yang lain. R.O. Tambunan selalu bercerita bahwa VB. Da Vosta sebagai orang hebat, analisanya tajam dan kuat pendiriannya dan untuk itu pendapatnya atau pendapat Fraksinya akan dipertahankan mati-matian kalau menyangkut kepentingan bangsa dalam setiap pembahasan RUU. Begitu pula sebakiknya ketika saya berjumpa Pak VB. Da Costa, beliau selalu menasihati saya agar kerja dan belajarlah dengan baik kepada Pak R.O. Tambunan, SH., karena dia orang hebat, sangat keras pendirian dan kepribadiannya, sekalipun harus berbeda pandangan dengan rekan se Fraksinya atau dengan Fraksi Golkar sendiri ketika berbicara tentang persoalan bangsa ini.

 

Dari pertemuan yang berkali-kali dilakukan antara VB. Da Costa dengan R.O. Tambunan dimana saya selalu mengikuti, tidak pernah saya dengar mereka berbicara tentang proyek atau komisi atau hal-hal yang sifatnya aji mumpung sebagaimana pada saat ini melanda hampir seluruh Anggota DPR RI kita. Dengan kata lain tokoh sekaliber VB. Da Costa sepanjang hidupnya lebih memikirkan dan memperjuangkan nasib bangsa ini ketimbang persoalan pribadi atau mencari-cari masalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Banyak peristiwa politik di DPR yang menampilkan kegigihan alm. VB. Da Costa yang pada waktu itu hampir tiap hari menghiasi Surat Khabar Nasional. Saya bereapa kali saksikan sendiri ketika pada tahun 1980 terjadi pembahasan RUU KUHAP. pro dan kontra tentang berbagai hal menyangkut materi KUHAP sangat kental antara ketiga Fraksi di DPR ketika itu yaitu antara Fraksi Golkar di satu pihak dan Fraksi PDI dan PPP di pihak yang lain terutama menyangkut masuknya Hak Asasi Manusia/HAM di dalam KUHAP.

 

Polemik tentang masuknya HAM di dalam KUHAP, secara gigih diperjuangkan oleh VB Da Costa dari FPDI dan berhasil menunda atau menggagalkan pengesahan RUU KUHAP pada tahun 1980. Penundaan itu menjadi berkah bagi bangsa ini, karena dengan oenundaan itu perjuangan memasukan HAM dalam KUHAP berhasil digolkan oleh VB Da Costa dkk dari FPDI dan baru pada tahun 1981 dibahas kembali sehingga dan mendapatkan pengesahannya pada tahun 1981. Hasilnya adalah bangsa ini untuk pertama kali memiliki KUHAP nasional sebagai sebuah karya agung bangsa sendiri. Semua Fraksi akhirnya medapatkan pemahaman yang sama tentang perlunya HAM diatur secara jelas dan tegas dalam KUHAP, seperti perlunya tersangka didampingi Penesahat Hukum, soal Bantuan Hukum, pembatasan masa penahanan tersangka, hak tersangka untuk mendapatkan penangguhan penahanan, SP3 dan praperadilan. Inilah yang secara gigih dipertahankan oleh karena masuknya HAM di dalam KUHAP tidak sejalan dengan konsep  Polri dan Kejaksaan melalui Golkar di DPR RI.

 

Kegigihan  mempertahankan ideologi bangsa yang diamanatkan oleh konstitusi yaitu perlunya HAM masuk dalam KUHAP bukan dilakukan secara asal-asalan atau asal bunyi, tetapi betul-betul dipersiapkan secara baik dan sungguh-sungguh oleh VB. DA Costa dkk. apalagi VB. Da Costa sejak tahun 1955 – 1959 menjadi anggota Dewan Konstituante dengan jabatan sebaai Sekretaris Tim Perumus Konstituante, tentu saja nilai-nilai tentang martabat manusia sudah mereka pertimbangkan untuk dijaga dan dipertahankan selama hayat dikandung badan atau selama-lamanya. Karena itu pendapat mayoritas  yang ketika itu tidak menghendaki terlalu banyak pasal-pasal yang mengatur perlindungan HAM untuk tersangka atau pasal-pasal yang membatasi kewenangan Pori, Kejaksaan dan Hakim dalam proses pidana terus dilawan dengan kekuatan Fraksi PDI dan kekuatan personal yang sudah membara sejak almarhum masih menjadi mahasiswa FH. UGM sudah menjadi anggota Konstituante. Kalau dilihat dari kekuatanFraksi PDI dalam konteks perpolitikan masa itu, maka mustahil FPDI bisa menggolkan keinginannya mempertahankan masuknya HAM dalam KUHAP, namun karena kekuatan individu dengan kharisma dan kecerdasan yang ditopang oleh keberanian tanpa menyerah itulah yang membuat mayoritas DPR setuju masukanya konsep HAM di dalam KUHAP sebagaimana kita miliki saat ini.

 

Suatu saat ada peristiwa pembahasan di komisi III DPR RI tentang kodifikasi hukum dan ruang lingkup tertangkap tangan serta hak-hak asasi tersangka selama proses penyidikan, dalam perdebatan yang menegangkan antara Albert Hasibuan dari Fraksi Golkar dan VB. Da Costa dari FPDI, akhirnya Golkar harus menerima konsep FPDI, yang berakhir dengan pengesahan KUHAP pada tanggal 31 Desember 1981 dengan sebutan sebagai sebuah karya agung bagsa ini memiliki hukum nasional yaitu KUHAP yang diusulkan pemerintah pada tahun 1979.

 

Saat ini tokoh legislator nasional 3 zaman sejak Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi yang menghabiskan waktunya selama tidak kurang dari 50 tahun di DPR RI, telah tiada, namun kepergiannya itu tidak menghilangkan ingatan kita pada sepak trjagnya sebagai tokoh dengan sosok yang pikiran, hati dan ucapan menyatu dalam satu sikap yaitu mempertahankan kepentingan bangsa dengan nilai kebangsaan yang dianut oleh UUD’45. Pasca VB. Da Costa meinggalkan paggung di Komisi III DPR RI, maka kita sudah kehilangan warna PDI di Komisi III yang meskipun denga kekuatan sangat kecil akan tetapi mampu berjuang mepertahankan ideologi kebangsaan dan nilai-nilai konstitusi yang dituangkan dalam Pembukaan UUD’45, sepanjang hidupnya. Kesederhanaan dalam hidup sehari-hari memberi kesan sosok ini tidak mengejar materi selama 50 tahun di DPR RI. Padahal siapa yang tidak megenal VB. Da Costa dalam jagat perpolitikan Indonesia pada 3 situasi politik yang berbeda namun tetap eksis. Ini satu hal yang luar biasa dan harus menjadi atau dijadikan sebagaiteladan bagi semua, kesederhanaan, jujur, berani dan tetap konsisten pada nilai perjuangan yaitu kebangsaan untuk Indonesia yang lebih baik. Selama jalan Bapak kita VB. Da Costa, semoga akan lahir Da Costa-Da Costa baru dari NTT di tengah maraknya pola tingkah generasi muda yang mengedepankan perilaku pragmatisme, koncoisme dan kroniisme.

 

Tokoh legislator yang vokal yang memiliki keistimewaan yang langkah yaitu dalam setiap tindakannya selalu satu dalam pikiran, hati dan ucapan dan mampu kosisten dalam situasi apapun. Sulit rasanya menemukan orang dengan dengan kriteria tri in one atau mau mewarisi keistimewaan yang dimiliki almarhum yang bisa menyatukan pikiran, hati dan ucapan dalam bertindak dalam situasi apapun dan di hadapan siapapun. Banyak tokoh justru bertindak sebaliknya ketika bertindak sudah tidak sesuai lagi dengan pikiran, hati dan ucapannya sehingga lari dari cita-cita perjuangan dan melacurkan diri mengkhianat harapan publik. Pragmatisme dan Koncoisme sudah merasuk dan merusak idealisme elit politik kita ditingkat nasional.

 

Sekali lagi kepergian VB Da Costa untuk selama-lamanya tidak hanya membuat NTT kehilangan seorang tokoh panutan tetapi bangsa Indonesiapun kehilangan tokoh dengan kriteria khusus (tri in one) yang langkah ini.***

Leave a comment

Your email address will not be published.


*