Breaking News

Ternyata, Kaum Perempuanlah Yang Paling Banyak Menebarkan Intoleransi

Ternyata, Kaum Perempuanlah Yang Paling Banyak Menebarkan Intoleransi .

Kaum perempuan Indonesia disebut sebagai kalangan yang paling banyak menebarkan dan menyebabkan intoleransi di Indonesia. Hal itu terjadi lewat penggunaan media sosial dan juga lewat pendidikan di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK).

Karena itu, para perempuan Indonesia diminta agar bijak mempergunakan media sosial, serta tidak mengurung diri hanya bergaul pada komunitas yang homogen dan tertutup.

Aktivis Politik Perempuan Nurul Arifin mengungkapkan, tingginya penyebaran intoleransi oleh kaum perempuan itu, telah dipublikasikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Intoleransi dan hoax paling tinggi dilakukan kaum perempuan. Penyebaran hoax pun demikian. Mungkin, disebabkan perempuan banyak yang menjadi guru-guru Taman Kanak-Kanan (TK) dan sejenisnya. Demikian di media sosial (Medsos), kaum perempuan juga banyak menjadi penyebar hoax. Mungkin dikarenakan mereka homogen, jarang bergabung dan berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda-beda dan luas,” ungkap Nurul Arifin, saat menjadi pembicara dalam Talk Show bertajuk Ngobras (Ngobrol Asyik) Perempuan dengan tema ‘Perempuan, Budaya, Digitalisasi dan Lingkungan Hidup’ yang diselenggarakan oleh  Galang Kemajuan Ladies (GK Ladies) Bersama Perempuan Karo dan Komunitas-Komunitas Perempuan, di Ruang Rimbawan I, Gedung Manggala Wanabakti, Jalan Jenderal Gatoto Subroto, Jakarta, Sabtu, 17 November 2018.

Dia berharap, kaum perempuan Indonesia bijak dalam bermedia sosial. Sekaligus dia mendorong agar kaum perempuan menjadi agen perubahan yang lebih baik untuk Indonesia.

Untuk menjadi agen perubahan, lanjut dia, kaum perempuan harus bergaul dan berinteraksi dengan berbagai segmen dan lapisan masyarakat yang heterogen.

“Perempuan jangan mau dipecah-belah dan diinfiltrasi, jangan mau diperalat untuk memecahbelah negara Indonesia. Sebab, jika Indonesia terpecah-belah menjadi kecil-kecil, maka akan mudah sekali dikuasai dan juga diperlakukan sesuka hati mereka. Jadi, bicara mengenai perempuan, adalah bicara mengenai kemanusiaan,” ujarnya.

Selain Nurul Arifin, Talk Show menghadirkan Praktisi Budaya, Ketua Penggerak PKK Pekalongan, Munafah Asip Kholbihi, Penulis Buku Revolusi Senyap Perempuan Tangguh, Kristin Samah, Direktur Pengelolaan Sampah, Dirjen PLSB 3 Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Dr Novrizal Tahar, dengan Moderator, Maman Suherman alias Kang Maman (praktisi media).

Sementara itu, Praktisi Budaya, Ketua Penggerak PKK Pekalongan, Munafah Asip Kholbihi memaparkan, untuk bermedia sosial, kaum perempuan diminta bijak dan tidak terjebak pada informasi-informasi maupun publikasi yang melanggar hukum.

Oleh karena itu, paling tidak kaum perempuan Indonesia harus mengerti dua sisi penggunaan media sosial.

Dari sisi positif, media sosial bisa bermanfaat banyak bagi kaum perempuan. Terutama untuk memperoleh informasi yang positif, ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan. “Juga informasi mengenai bidang-bidang usaha atau bisnis,” ujar Munafah.

Sedangkan dari sisi negatif, kaum perempuan harus waspada terhadap penyebaran informasi hoax, pencemaran nama baik, isu SARA, pornografi dan berbagai wujud informasi buruk dan negatif lainnya.

“Semua itu ada hukumannya. Ada regulasi yang ketat. Ada undang-undang ITE, ada undang-undang anti SARA dan pidana lainnya. Maka, kaum perempuan harus bijak dan berhati-hati bermedia sosial. Sebelum menuliskan status di FaceBook atau media sosial, hendaknya dipikirkan dan bijak,” tuturnya.

Moderator, Maman Suherman alias Kang Maman menyampaikan, laporan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia sebanyak 35 kasus per 24 jam. “Jadi ada sekitar 20 laporan pemerkosaan per dua jam,” ujarnya.

Terkait penggunaan media sosial, diungkapkan Kang Maman, berdasarkan penelitian yang dilakukan, seseorang yang bermain media sosial lebih dari dua jam per hari, maka dikategorikan sebagai orang yang sudah mengalami gangguan kejiwaan.

“Lah, di Indonesia, terutama kaum perempuan, ada yang melaporkan bisa sampai 3 jam lebih per hari main media sosial. Hati-hati, jangan sampai sudah masuk kategori mengalami gangguan mental,” ujarnya.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum Galang Kemajuan Ladies (GK Ladies) Lana Koentjoro bersama Sekjen Galang Kemajuan Ladies (GK Ladies) Veve Safitri, serta sejumlah Caleg Perempuan yang berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Kegiatan dirangkaian dengan sejumlah aksi, seperti paduan suara, tari, menampilkan Fashion Show Budaya Karo, Launching Buku Perkawinan Adat Karo, Bazar dan Capaign No Plastic Bag.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*