Breaking News

Terkait Korupsi Senilai Rp 568 Miliar, Eks Dirut PT Pertamina Karen Agustiawan Ditahan Kejaksaan Agung

Terkait Korupsi Senilai Rp 568 Miliar, Eks Dirut PT Pertamina Karen Agustiawan Ditahan Kejaksaan Agung.

Tim penyidik pidana khusus (Pidsus) Kejaksaaan Agung (Kejagung) menahan Karen Galaila Agustiawan terkait kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009 yang merugikan keuangan negara Rp568 miliar.

Sebelum ditahan, mantan Dirut PT Pertamina itu terlebih dahulu diperiksa sebagai tersangka. “Benar, nanti akan saya sampaikan,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejagung, Adi Toegarisman di Gedung Bundar, Jakarta Selatan, Senin (24/09/2018).

Menurut pantauan, Karen Galaila Agustiawan keluar dari ruang pemeriksaan mengenakan Rompi Pink bertuliskan tahanan Kejaksaan dengan terlihat meneteskan air mata. Sebelum memasuki mobil tahanan Ia juga terlihat berpelukan dengan para kerabatnya sambil menangis.

Sebelumnya, Direktur Penyidikan pada JAM Pidsus, Warih Sadono membenarkan adanya pemeriksaan mantan Dirut PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan oleh penyidik. “Ya (benar diperiksa),” katanya ketika dikonfirmasi.

Sebelumnya, dua tersangka kasus itu yakni mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina Frederik Siahaan sudah ditahan.

Tersangka Frederik ditahan di Rumah Tahanan Negara Salemba Cabang Kejaksaan Agung RI selama 20 (dua puluh) hari terhitung mulai tanggal 30 Agustus 2018 sampai dengan 18 September 2018.

Sementara pada Rabu (08/08/2018) lalu, mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto ditahan penyidik.

Kasus ini sudah menetapkan empat orang tersangka yakni mantan Dirut PT Pertamina, Karen Galaia Agustiawan. Sedangkan tiga tersangka lainnya yakni Chief Legal Councel and Compliance, Genades Panjaitan dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina, Frederik Siahaan serta mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) Direktorat Hulu PT Pertamina Bayu Kristanto.

Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus itu berawal ketika PT Pertamina telah melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian asset (Interest Participating/ IP) milik ROC Oil Company Ltd, di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia, berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.

Dalam pelaksanaanya, ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya Feasibility Study (kajian kelayakan) berupa kajian secara lengkap (akhir) atau Final Due Dilligence dan tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah 31,492,851 dolar AS serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah 26,808,244 dolar AS tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT Pertamina.

PT Pertamina dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional yang mengakibatkan adanya kerugian keuangan Negara cq. PT Pertamina sebesar 31,492,851 dolar AS dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568 miliar sebagaimana perhitungan akuntan publik.(Richard)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*