Breaking News

Telah Lebih 1000 Kali Digoyang Gempa, Lebih 400 Ribu Rakyat NTB Alami Kecemasan Massal

Telah Lebih 1000 Kali Digoyang Gempa, Lebih 400 Ribu Rakyat NTB Alami Kecemasan Massal.

Tidak kurang dari 400 ribu jiwa rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kecemasan massal atas lambannya kinerja pemerintah memulihkan dan membantu masyarakat pasca gempa yang melanda wilayah itu.

Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) yang turun langsung melakukan pemberian bantuan kemanusiaan dan juga melakukan advokasi terhadap kondisi masyarakat Lombok, NTB, merekam kecemasan rakyat itu.

Ketua Umum APKLI Ali Mahsun menegaskan, kecemasan itu pun telah disampaikan langsung oleh warga kepada dirinya.

“Hingga saat ini lebih dari 400 ribu masyarakat Lombok, NTB, mengalami kecemasan massal atau mass anxiety yang butuhkan penanganan segera,” tutur Ali Mahsun.

Pria yang disebut sebagai  Presiden Rakyat Kecil Indonesia itu pun memaparkan kunjungannya kepada korban gempa bumi NTB sepanjang 4-6 September 2018,  di DPP APKLI, Jakarta, Jumat (07/09/2018).

Menurut dia, gempa Lombok, NTB terbilang unik. Bencana di NTB ini berbeda dengan Tsunami Aceh tahun 2004 dengan gempa 9,1-9,3 SR luluhlantahkan Aceh dan menewaskan 230 – 250 ribu orang.

Keunikan gempa Lombok, lanjut Ali Mahsun, yakni sudah lebih dari 1000 kali terjadi gempa sejak 29 Juli 2018. Yang terbesar pada 5 Agustus 2019 dengan kekuatan 7 Skala Rihter. Dan terulang kembali pada 19 Agustus 2018.

Menurut Ali, penanganannya ada yang berbeda dengan Tsunami Aceh. Hingga saat ini sekitar 515 meninggal, 75 ribu rumah rusak, ribuan masjid dan bangunan runtuh. Pengungsian bukan saja di wilayah terkena gempa di Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Tengah namun juga terjadi di Kota Mataram.

Dengan jumlah lebih dari 400 ribu pengungsi di NTB, lanjut dia, mereka belum berani kembali ke rumah masing-masing. “Belum berani bekerja, dan belum berani berjualan, baik yang petani, nelayan, pramuwisata, pedagang kecil, pegawai, juga anak-anak pun sekolah darurat di tenda pengungsian. Semuanya dihantui rasa takut dan cemas akan terjadi gempa kembali,” ungkap Ali Mahsun.

Dia menuturkan, sebagaimana yang dialami para tokoh dan ulama bahkan pejabat di Lombok, NTB, kecemasan itu diungkapkan.

Salah satu diantaranya adalah HK Lalu Winengan. Pria ini menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PWNU NTB). Lalu Winengan menyampaikan rasa ketakutannya bersama keluarga menghadapi gempa tanggal 19 Agustus 2018 mulai jam 23.00 Wita hingga subuh. “Bahkan sekeluarga harus tidur di jalan aspal depan rumahnya,” ujar Ali.

“Rumah hancur dan kami belum berani pulang, juga belum berani bekerja karena dihantui rasa takut dan cemas akan terjadi gempa kembali,” ungkap Lalu Winengan kepada Ali Mahsun.

Selama 1 bulan lebih mereka menghadapi lebih dari 1000 kali gempa, yaitu sejak 29 Juli 2018. “Orang tua saja takut apalagi anak-anak. Bagaimana kami bisa lindungi anak-anak kalau dihantui terus akan terjadi gempa kembali,” ujarnya.

Kebutuhan air bersih dan Mandi Cuci Kakus (MCK) baru dua hari pasca gempa sampai di Pemenang, ombok Utara. “Pemerintah memang lamban dan prosedurnya berbelit-belit. Alhamdulillah ada bantuan kebutuhan pokok, tenda, tikar, air minum, air bersih, beras, indomie, pakain layak pakai dan lainnya dari organisasi sosial keagamaan NU, Muhammdiyah, dari Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKL), juga dari organisasi lainnya. Belum ada satu pun Partai Politik (Parpol) yang memberi bantuan,” tutur Winengan.

Suaeby, (34), Warga Pamenang, Lombok Utara, NTB, ketika bertemu Ali Mahsun menuturkan harapannya agar kiranya kondisi yang dihadapi masyarakat NTB pasca gempa itu segera berlalu.

“Kami sangat berharap kondisi ini segera usai dan bisa bekerja kembali. Kami juga berharap janji Presiden Jokowi bukanlah PHP (pemberi harapan palsu-Red) namun segera terwujud bangunkan 5000 rumah permanen dengan bantuan  per orang Rp 50 juta per rumah untuk korban gempa Lombok. Kami semuanya ini cemas, cemas dan cemas takut terjadi gempa lagi,” tutur Suaeby kepada Ketua Umum DPP APKLI dr Ali Mahsun, yang didampingi Kornas APKLI Peduli Korban Gempa Lombok NTB, Abdul Majid beserta tim, Selasa 4 September 2018.

Kepala Dusun Kerandangan, Senggigih, Lombok Barat, H Saefullah menuturkan, di dusunnya, sebanyak 75% rumah warga hancur dan 25% retak-retak.

Di dusunnya, sebanyak 3 orang warganya meninggal dunia. “Ada 11 Pos Pengungsian di sini. Hingga siang tadi masih ada gempa terjadi. Sudah lebih dari 1000 kali gempa yang kita hadapi,” ujar Saefullah.

Kebanyakan warganya bekerja sebagai pramuwisata dan sudah ada beberapa hotel yang merumahkan karyawannya selama 3 bulan ke depan.

Pada 21-22 September 2018 mendatang, diinformasikan bahwa Pemkab Lombok Barat akan menyelenggarakan Festival di Senggigih. “Mudah-mudahan bisa segera memulihkan kondisi ekonomi masyarakat dan citra wisata Senggigih NTB,” tutur Saefullah, ketika bertemu dengan Ketua Umum DPP APKLI Ali Mahsun, di Tenda Pengungsi Pos 1, Kerandangan, Senggigih, pada Rabu malam, 5 September 2018.

Ali Mahsun pun menyampaikan, gempa itu tidak ada yang mampu memprediksi. Demikian pula tsunami. Itu semua hukum alam, kehendak Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dia pun meminta masyarakat Lombok, NTB, tidak boleh takut kepada gempa dan tsunami. “Hanya boleh takut kepada Allah Swt. Sebagai seorang dokter, kami sangat memahami kalau Bapak, Ibu, saudara-saudara dan anak-anak semuanya cemas dan khawatir, akan terjadi gempa kembali. Karena sudah lebih dari 1000 kali terjadi gempa di Lombok ini. Namun demikian, kalian semua harus bangkit di atas kaki kalian sendiri jangan mengharapkan ndoke blorok, karena semua bantuan ada batasnya ,” tutur Ali.

Dia pun berharap, warga NTB, harus berani melawan kecemasan dengan segera kembali mencari nafkah, membersihkan puing-puing bangunan dan memperbaiki rumah masing-masing.

“Yang petani segera ke sawah dan berkebun, yang nelayan segera menangkap ikan, yang pegawai segera masuk kantor, yang pedagang segera jualan,” ujarnya.

Dia pun memerintahkan Kornas APKLI Peduli Korban Gempa Lombok NTB, Abdul Majid beserta  jajaran DPW APKLI Provinsi NTB dan DPD APKLI Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah dan Kota Mataram untuk turun gunung mendampingi Pedagang Kaki Lima (PKL) agar segera berjualan kembali.

“Serta mengadakan Bazar dan Festifal Keliling di tiap Kecamatan, untuk membangkitkan kembali roda ekonomi rakyat dan mendongkrak citra Lombok, NTB sebagai tujuan wisata utama di Indonesia,” ujar Ali.

Dia menyampaikan, APKLI juga terus berusaha menggalang bantuan kebutuhan mendasar, juga untuk pengadaan Untara (Hunian Sementara), Rumah Permanen untuk Korban Gempa Lombok dan pengadaan pasar rakyat.

“Di antaranya, InsyaAllah 4 Oktober 2018 akan kita selenggarakan Konser Ebiet G Ade Untuk Gempa Lombok Bersama PKL Indonesia di Jakarta dan telah menjajagi kerja sama dengan Bank dunia,” ujarnya.

Sedangkan untuk anak-anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal dunia akibat gempa, APKLI memberikan Beasiswa Anak PKL Indonesia. “Mereka harus sekolah setinggi-tingginya, sehingga memiliki masa depan yang lebih baik dari orang tua mereka,” tutur Ali Mahsun saat berdialog dengan para korban bencana.

Ali juga menyampaikan, hendaknya pemerintah tidak lamban lagi menangani dampak pasca gempa Lombok, NTB.

APKLI, lanjut dia, akan segera menyampaikan kondisi itu ke berbagai pihak terkait, baik lembaga pemerintah mau pun non pemerintah.

“Kita sampaikan hal-hal yang sangat dibutuhkan masyarakat pasca gempa. Semisal kepada Ikatan Dokter Indonesia, juga kepada Perguruan Tinggi yang memiliki Fakultas  atau Jurusan Psikologi dan Kedokteran, untuk selekasnya berkenan memberikan konseling massal kepada lebih dari 400 ribu warga Lombok yang mengalami kecemasan massal (mass anxiety) sehingga mereka bisa bekerja kembali seperti semula,” ujarnya.

Dia menuturkan, berdasarkan temuan di lapangan, yang sangat dibutuhkan masyarakat NTB saat ini adalah konseling kecemasan Massal, tenda-tikar, hunian sementara, rumah permanen, kebutuhan pokok, kebutuhan dasar anak-anak sekolah “Dan berjalannya kembali roda ekonomi masyarakat,” ujar Ali.

Tak lupa, Ali menyampaikan, pada kesempatan kunjungannya ke Lombok, NTB, Selasa-Kamis (4-6 September 2018) dirinya yang didampingi Ketua OKK APKLI M Yasin, menyerahkan bantuan Beasiswa Anak PKL Indonesia kepada anak yatim piatu yang orang tuanya wafat akibat gempa. Selain itu, pihaknya juga menyerahkan bantuan beras, tenda, tikar, susu, air mineral, mi instan, perlengkapan mandi, pakaian layak pakai dan bantuan lainnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*