Breaking News

Tanggungjawab Sosial Korporasi Masih Minim, Alasan Berbiaya Mahal Perusahaan Biarkan Kerusakan Lingkungan Berkelanjutan

Tanggungjawab Sosial Korporasi Masih Minim, Alasan Berbiaya Mahal Perusahaan Biarkan Kerusakan Lingkungan Berkelanjutan.

Korporasi atau perusahaan-perusahaan diingatkan untuk menjalankan tanggung jawab sosialnya, terutama tanggung jawab terhadap lingkungannya melalui  pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR).

CSR adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan terhadap masyarakat dan pemerintah. Hal ini menjadi perhatian penting yang perlu disikapi oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang energi dan sumber daya alam.

Mantan Manager CSR & Relation Government PT Antam Unit Geomin, Bambang Hermanto menuturkan lokasi-lokasi bekas area penambangan telah menjadi kota-kota hantu yang menyeramkan.

Pria yang menjadi Perwakilan People Colsuntancy’s Advisor ini menyampaikan, ungkapan tersebut muncul ketika melakukan pengamatan langsung di lokasi-lokasi bekas tambang.

“Sangat banyak yang kondisinya amat sangat memprihantinkan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya perusahaan-perusahaan tambang lalai dalam melakukan program CSR. Sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang akut,” tutur Bambang Hermanto, saat bicara dalam diskusi yang diadakan FISIP UI Depok, Rabu (17/10/2018).

Bambang melanjutkan, selain perilaku korporasi yang minim tanggung jawab, pemerintah juga harus serius menanggulangi maraknya penambangan liar, yang merusak lingkungan.

“Aktivitas penambangan liar juga menjadi persoalan penting yang perlu ditanggulangi oleh pemerintah. Pemerintah perlu melakukan investigasi dan fungsi kontrolnya, khususnya di daerah-daerah tambang yang terisolir,” ujar Bambang.

Menurut dia, CSR harus menjadi komitmen yang sungguh-sungguh dilakukan oleh perusahaan tambang, khususnya perusahaan-perusahaan yang telah mendapat izin resmi dari pemerintah.

Ia juga menambahkan, selain adanya pengingkaran komitmen oleh perusahaan atas dasar ketidakpedulian dan kelalaian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar, perusahaan-perusahaan tambang juga mengalami hambatan dalam menjalankan CSR, sehingga titik temu antara masyarakat sekitar dan perusahaan tidak tercapai.

Bambang  memotivasi para mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI untuk mempersiapkan diri dengan baik sehingga kelak akan menjadi agen-agen CSR perusahaan yang sanggup menunjang Sumber Daya Manusia yang diperlukan dalam mensukseskan program CSR di masyarakat.

Di tempat yang sama, Denny Halim dari People Consultancy’s Advisor, yang juga pernah bekerja sebagai Societal Support to Operation Head Departement Total E&P Indonesia (2007-2014) mengatakan, pengeluaran perusahaan yang bergerak di sektor Energi dan Sumber Daya Alam (SDA) bersifat padat modal, padat teknologi.

“Dan semua biaya terkait eksplorasi guna mencapai angka produksi ditanggung oleh perusahaan itu sendiri,” ujar Denny.

Dia menyampaikan, banyak perusahaan yang menyalahi komitmen terhadap tanggungjawab sosial dan lingkungan disebabkan biaya pengeluaran sudah besar, sehingga anggaran untuk menjalankan program CSR tidak dimaksimalkan.

“Padahal CSR menjadi faktor penting untuk menjaga dan meningkatkan indeks harga saham dari perusahaan tersebut,” tutur Denny.

Lebih lanjut, dia menambahkan, pentingnya melakukan pemetaan sosial agar perusahaan dapat menentukan program CSR yang efektif sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Upaya ini dilakukan agar perusahaan mampu menangkap aspirasi warga secara langsung.

“Sifatnya bottom up bukan top down lagi. Hal ini membantu perusahaan dari manipulasi oknum-oknum tertentu mengatasnamakan LSM yang meminta pendanaan dalam rangka membantu perusahaan menjalankan program CSR, padahal pada prakteknya dana ini hanya dimanfaatkan oleh sekelompok oknum dalam mengambil keuntungan pribadi,” ungkap Denny.

Selain itu, menurut Denny, pemetaan sosial langsung oleh perusahaan membantu perusahaan terkait dalam menyusun program dan menetapkan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan CSR.

Persoalan terkait kerusakan lingkungan, kesulitan ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan hidup yang tidak terpenuhi menjadi perhatian besar pemerintah dan stakeholder yaitu perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang mineral, batubara, minyak, gas, dan energi.

Melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 3 Tahun 2014 mengenai Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) dalam pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah mendorong perusahaan di Indonesia untuk tidak hanya fokus dalam meraup keuntungan semata, melainkan juga memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah operasi perusahaan.

Sekretaris Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan,  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sigit Relianto menjelaskan, PROPER membuat tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan lebih terencana dan tidak lagi berbasis sumbangan atau charity semata.

“Dalam membuat perencanaan CSR, sudah banyak perusahaan yang melakukan riset lewat pemetaan sosial,” ujar Sigit.

Sekarang ini, lanjutnya, perusahaan-perusahaan juga sudah berani membuat program jangka panjang antara 1 sampai 5 tahun kedepan.

“Ini sebagai wujud perhatian perusahaan di sektor Energi dan SDA untuk mulai melakukan program yang bersifat sustainable,” ucap Sigit.

Lebih lanjut, Program Peningkatan Penilaian Kinerja Perusahaan dapat dijalankan dengan baik jika perusahaan-perusahaan di sektor Energi dan SDA memiliki sistem yang baik dan teruji.

“Artinya komitmen perusahaan tersebut dalam melaksanakan tanggung jawab sosial nya terhadap lingkungan dan masyarakat betul-betul dilakukan,” tambah Sigit.

Menurut dia, kebijakan perusahaan dalam mencanangkan program, kemudian kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan tersebut untuk menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar menjadi faktor penting.

“Evaluasi terhadap keberlanjutan dari program yang sudah dijalankan menjadi parameter dalam menguji komitmen perusahaan tersebut,” pungkas Sigit Relianto.

Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI Dr Indra Lestari Fawzi juga menambahkan, saat ini mahasiswa sudah banyak yang melakukan penelitian dan mengambil tema CSR dalam penyusunan skripsi mereka.

“Hal ini adalah wujud perhatian dari mahasiswa terhadap program CSR sebagai bentuk kepedulian terhadap Lingkungan dan Masyarakat,” ujar Indra Lestari.

Dia mengatakan, FISIP UI memiliki program-program CSR yang kontekstual dan sesuai kebutuhan perusahaan dan masyarakat. “Sehingga nantinya peranan mereka betul-betul signifikan dan efektif dalam membantu keberhasilan program CSR,” ucapnya.(Michael Nababan)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*