Breaking News

Sudah Sesuai Prinsip Hukum, Fredrich Yunadi Bantah Rintangi Penyidikan KPK

Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi mengaku kerap tidak merasa nyaman sejak diliput awak media. Ia pun ingin mengubah penampilannya dengan mencukur kumis dan memakai rambut palsu atau wig.

Hal itu diucapkan Fredrich dihadapan majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Ia mengatakan, saat menjalankan tugas sebagai advokat selalu dengan baik dan tidak pernah ingin menghalangi penyidikan KPK terhadap Setya Novanto.

Justru membantu penyidik dalam penggeledahan dan penangkapan di kediaman Setya Novanto. Bahkan dia mengaku tidak pernah berniat ingin terkenal karena sering muncul di media.

“Saya menjalankan semua ini menurut saya sesuai dengan rule of law. Saya tidak merasa menghambat, merintangi apalagi menggagalkan. Kalau saya menghambat, saya tidak beri tahu KPK, tidak beri tahu wartawan, saya umpetin. Kenapa saya harus besar-besarin (peristiwa kecelakaan Setya Novanto),” kata Fredrich dalam persidangan pemeriksaan terdakwa kasus merintangi penyidikan KPK terhadap Setya Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (24/05/2018).

Fredrich mengakui setelah membaca surat panggilan KPK sebagai saksi, surat cekal imigrasi yang kedua ditemukan adanya dugaan tindak pidana, maka total dibuatkan 12 surat kuasa yang dilaporkan ke Polri yang hingga saat ini masih diproses oleh penyidik sambil tunjukkan bukti 2 laporan Polisi. Dan SP2HP dari penyidik Polri.

Fredrich tidak pernah memesan kamar baik ke dr Alya, maupun siapapun, buktinya baru jam 21:30 WIB tanggal 16/11/2017 resmi mendaftarkan kamar untuk Setya Novanto dengan melampirkan surat rawat inap dari dr Bimanes, yang di terima oleh Gin-gin Ginanjar staf admision Rumah Sakit (RS) MPH , yang dibenarkan oleh Isnaini kordinator admision RS MPH di masing-masing berita acaranya.

Ketika Fredrich tiba, kondisi Setya Novanto sudah di infuse dan diperban baik kepala dan kedua tangannya, dan memakai baju RS MPH.

Dan pada tgl 17/11/2017, pagi sekitar 06:30 WIB ditelepon oleh dr Bimanes untuk diminta ke RS. Setelah ketemu diberitahu hasil pemeriksaan dr Nadia ahli saraf karena Setya Novanto mengeluh pusing berputar dan semalam muntah 3-4 kali, dan diminta harus segera ct scan.

“Karena RS MPH alat ct scan rusak direkomendasikan RS MPH Bintaro atau RSCM atau RS Polri, kemudian Ibu Desty istri Setya Novanto putuskan ke RSCM, dibuatkan rujukan ke RSCM, di RSCM diperiksa tim dokter ahli 5 orang setelah melalui rangkaian test dan check, diputuskan Setya Novanto harus dirawat inap pengobatan lanjutan atas luka kecelakaan yang dideritanya dan komplikasi sakit lainnya,” ujarnya.

Setya Novanto dirawat tiga hari dua malam, kemudian dinyatakan layak menjalani pemeriksaan dan bisa rawat jalan. Penuntut Umum menunjukkan surat keterangan IDI yg terdakwa tidak pernah baca dan tidak tahu.

Fredrich menyatakan jika Setya Novanto tidak luka atau sakit pastinya sudah dipulangkan sejak awal masuk IGD RSCM, bukti di check oleh 5 dokter spesialis, justru diputuskan wajib rawat lanjut dalam rangka pengobatan.

Ketika di RSCM UGD dipenuhi 50 penyidik KPK dan 20 petugas Polri dengan membawa senapan laras panjang senapan serbu, sementara Setya Novanto dirawat di RSCM hanya didampingi penasehat hukum yang bisa masuk. Untuk sanak kekuarga dan kerabat bahkan ajudan Setya Novanto dilarang besuk.

“Hanya berdua dengan Tito, bagaimana mungkin dua penasehat hukum mencegah merintangi dan menggagalkan 70 orang penyidik KPK dan petugas Polri? Tuduhan Penuntut Umum tidak benar,” tegasnya.

Reza dalam berita acara menyatakan yang menunjukkan RS MPH ketika kecelakaan adalah tukang ojek yang membantu kecelakaan, dan yang mengantar Setya Novanto ke RS MPH adalah Azis Samuel petinggi Partai Golkar. Dan setelah Setya Novanto tiba RS MPH, baru Reza telepon Fredrich beritahu lokasi Setya Novanto pasca kecelakaan .

Fredrich menegaskan Polri resmi menyatakan kecelakaan Setya Novanto adalah murni bukan rekayasa dengan menunjuk puluhan berita pernyataan Polri tersebut dan pekara laka dengan tersangka Hilman telah yang sudah dilimpahkan ke Kejaksaan.

Fredrich menegaskan ketika menjelang tengah malam 23:30 WIB tanggal 16/11/2017, di lorong hanya dipenuhi petugas KPK dan Fredrich sendiri, tidak ada lain orang.

Pertanyaan majelis Hakim, mengapa menelepon dr Bimanes pada tanggal 16/11/2017, terus survey ke RS dan malamnya Setya Novanto mengalami kecelakaan, kok terjadi sehari setelah penangkapan Setya Novanto gagal?

Menurut Fredrich, tanggal 15/11/2017 bukan gagal menangkap tapi memang kebetulan Setya Novanto sedang tidak dirumah, dan menurut terdawa tidak tertangkapnya Setya Novanto karena KPK kurang efektif informasinya, dan menghubungi dr Bimanes itu tindak lanjutan dari pembicaraan awal November 2017 tentang adanya niat Setya Novanto hendak konsultasi berobat, yang kebetulan teringat oleh Fredrich dan coba ditindak lanjuti dengan memberikan asli resume medis ke dr Bimanes.

“Dan justru Bimanes yang minta Fredrich survey dahulu karena RS MPH itu kelas B beda dengan RS Polri atau RS Pondok Indah. Dan tidak ada permintaan maupun tidak disuruh oleh Setya Novanto untuk survey apalagi janjian mau rawat inap,” ujarnya.

Kemudian Fredrich jelaskan tanggal 16/11/2017 sudah bicara didepan publik via metro TV bahwa Setya Novanto akan ke KPK jam 20:00 WIB, namun kemudian terjadi kecelakaan yang tidak dikehendaki siapapun, dan buktinya tanggal 17/11/2017 Setya Novanto ditahan KPK dan tgl 19/11/2017 masuk Rutan KPK.

“Itu hari Jumat hingga Minggu hari libur, dimana letak menghalangi KPK? Faktanya kasus Setya Novanto lancar diproses KPK hingga diputus 15 tahun penjara,” katanya.

Tuduhan mencegah merintangi menggagalkan justru terungkap mengada ngada. Fredrich juga mengungkap lktpk KPK menggunakan bukti palsu yang menyatakan ketika Fredrich menulis surat ke KPK untuk penangguhan pemeriksaan, bukan pengacara Setya Novanto. Oleh karenanya segala tindakan hukum atas dasar lktpk tersebut adalah tidak sah dan batal demi hukum. (Richard)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*