Breaking News

Sudah Ogah Bela-Bela Jokowi, Tidak Pro Rakyat, Tokoh Pejuang Buruh Muchtar Pakpahan Kapok Pilih Capres Soekarnois Abal-Abal

Sudah Ogah Bela-Bela Jokowi, Tokoh Pejuang Buruh Muchtar Pakpahan Kapok Pilih Presiden Yang Tak Pro Rakyat.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Sertikat Buruh Sejahtera Indonesia (DPP SBSI) Prof Muchtar Pakpahan mengaku sudah kapok memilih presiden yang tidak pro kepada buruh di Indonesia.

Tokoh Pejuang Buruh itu mengatakan, pada awalnya, di 2014, dia melihat bahwa sosok Joko Widodo cukup bisa diharapkan sebagai Presiden yang akan pro kepada buruh dan masyarakat Indonesia dalam pemerintahan. Oleh karena itulah, pada saat Pilpres lalu, Muchtar Pakpahan bersama para tokoh buruh dan gerakan masyarakat lainnya men-capreskan Jokowi.

“Sabtu lalu, saya ada menulis ukuran keberhasilan Jokowi di Papua. Terhadap tulisan itu ada yang marah ada yang setuju, tapi ada yang bertanya. Mengapa dulu mencalonkan Jokowi, tapi sekarang mengkritik Jokowi?” ujar Muchtar Pakpahan, di Jakarta, Sabtu (09/09/2017).

Pakar Hukum Tata Negara ini menyampaikan, sebagai aktivis sejak tahun 1974, sejak tahun 70-an, rakyat Indonesia tentang negara Indonesia terbagi dua pola pikir, yaitu Sukarnois atau Suhartois.

“Ada yang menyatakan pola pikirnya secara terbuka, ada yang secara diam-diam. Ada yang diam-diam kalau Soekarnois, dan banyak terbuka pura-pura sebagai Suhartois. Saya secara terbuka adalah Sukarnois,” ujar Muchtar Pakpahan.

Menurut dia, ada perbedaan tajam di antara kedua pola pikir itu. Orang yang Soekarnois, adalah pengusung gagasan Marhaenisme (sosial demokrat/sosdem) atau disebut juga sebagai kiri tengah, dengan cita-cita untuk mewujudkan welfarestate.

“Kesejahteraan rakyat yang utama, pendidikan dan bekerja dan basis cita-cita Trisaksi,” ujanya.

Sedangkan Soehartois, lanjut Muchtar, lebih kepada kapitalis-liberalis kemudian neolib dan disebut juga sebagai kanan tengah, yang pro kepada pasar, pertumbuhan ekonomi, dan mendambakan penanaman modal asing lewat Undang Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA).

“Karena bersikap terbuka sebagai Soekarnois, saya sebagai Ketua umum DPP SBSI bahkan sempat diinapkan di rutan (Rumah Tahanan Negara) Semarang pada 1994,  kemudian di LP/Rutan Tanjung Gusta Medan pada 1994-1995 dan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang pada tahun 1996-1998,” ujarnya.

Menjelang Pemilu 2014, kata dia, tokoh Prabowo Subianto sudah sangat kuat sebagai capres. “Keyakinan dan perasaan saya berkata Prabowo adalah Soehartois ditambah pengalaman, membuat saya dan SBSI takut kalau Prabowo jadi presiden. Dengan fakta itu melahirkan  pertimbangan,  pada 13 Mei 2013 SBSI mengumumkan Jokowi sebagai calon presiden,” ujarnya.

Mengapa pilihan jatuh kepada Jokowi pada waktu itu? Menurut Muchtar Pakpahan, ada beberapa jawaban, antara lain, pertama, pihaknya beberapa kali bertemu dengan Jokowi, dan Jokowi mengaku sebagai seorang Soekarnois.

Kedua, waktu itu Jokowi menyampaikan kagum akan Trisakti-nya Sukarno dan ingin mewujudkannya. Ketiga, pribadi Jokowi dikenal merakyat.

“Sehingga, waktu itu, saya yakin kalau jadi presiden nantinya, kebijaksanaannya akan pro rakyat Marhaen, buruh, petani dan nelayan,” ujar Muchtar.

Keempat, Jokowi berjanji akan menumbuhkan ekonomi kerakyatan dengan memberdayakan potensi bangsa sendiri yang pada waktu itu ada gagasan mobil Asemka.

Jokowi menjadi sangat terkenal dengan mobil Ssemka. Keyakinan saya kepada Jokowi bertambah kuat dengan mobil Asemka itu,” ujar Muchtar.

Kelima, Jokowi ingin meluruskan sejarah. “Selanjutkan dengan segala kemampuan saya dan SBSI memenangkan Jokowi jadi capres dan jadi presiden. Puji Tuhan, Alhamdulillah, akhirnya Jokowi terpilih jadi Presiden,” ujar Muchtar.

Lalu, saat ini, Jokowi dikritik habis-habisan. Muchtar sendiri pun mengkritisi Jokowi. Sebab, menurut dia, banyak janji dan harapan awal yang tidak diseriusi dan tidak dilakukan Jokowi.

“Pertama, ternyata Trisakti itu tidak dijalankan, hanya mengganti modal yang tadinya berasal dari Amerika Serikat dengan kini dari Cina. Salah satunya yang paling jelas ke Cina adalah, proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Mengapa bukan PT KAI yang diberdayakan?” ujar Muchtar Pakpahan.

Padahal, menurut Muchtar, PT KAI mampu. Sebab, buktinya, PT KAI banyak menang tender di beberapa negara. Lagi pula, kalau PT KAI yang membangun Jakarta-Bandung pasti manfaatnya banyak bagi rakyat Indonesia.

“Harusnya, untungnya di kita. Buruhnya di kita. Produksi bahan baja  misalnya Krakatau Steel pasti meningkat  bertahun-tahun,” ujarnya.

Kedua, menurut Muchtar Pakpahan, saat ini rejim Jokowi malah pro kepada orang-orang kaya. Terlihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan yang begitu cepat dan mudah untuk kepentingan orang kaya, namun meninggalkan rakyat sendiri.

“Kebijakan Presiden Jokowi lambat buat rakyat Indonesia tetapi cepat buat orang kaya. Lihat, kehadiran tax amnesty itu, itu kan malah untuk menolong para penjahat ekonomi dengan biaya mencuci uang haram dua persen,” ujar Muchtar.

Ketiga, yang paling miris, menurut Muchtar Pakpahan, buruh malah dipersulit untuk sejahtera dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015.

“Malah buruh dan banyak anggota SBSI menderita dengan kehadiran PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang pengupahan itu. Buruh kok malah dihadiahi begitu? Selain itu, kini semakin marak union busting atau pemberangusan serikat buruh/serikat pekerja di hampir seluruh wilayah Indonesia,” ujar Muchtar.

Keempat, lanjut Muchtar, Jokowi tidak menegakkan pasal 28 junto pasal 43 Undang Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Buruh.

Kelima, hingga saat ini, nyatanya mobil nasional Asemka tidak pernah ada. “Asemka dilupakan, dan kini Jokowi untuk bicara negara kesejahteraan atau welfarestate juga sudah tidak pernah ada,” ujar Muchtar.

Keenam, niat untuk meluruskan sejarah sebagaimana dijanjikan Jokowi saat kampanye Pilpres 2014 lalu, tidak ada. Muchtar Pakpahan mengatakan, Jokowi tidak pernah menggubris lagi persoalan sejarah yang hendak diluruskannya itu.

“Tidak ada pelurusan sejarah, sehingga secara juridis, Soekarno tetap dianggap sebagai pelaku G-30-S, padahal data di CIA sudah membuka tabirnya, bahwa CIA perekayasa dan Suharto-lah orangnya yang menjadi operator permainan itu di Indonesia,” ungkap Muchtar.

Menurut Muchtar Pakpahan, rejim pemerintahan Jokowi akan terus begitu sebab, Istana Negara memang dikuasai oleh para Soehartois.

“Kenyataanya lingkaran pertama Jokowi adalah banyak Soehartois yang lihai-lihai. Di Istana ada pula anggota Dewan Pertimbangan Presiden Jokowi yang merupakan tokoh pengusaha hitam judi di masa Soeharto, dan ada perusak tatanan penerbangan Indonesia,” ujar Muchtar.

Muchtar Pakpahan menyampaikan, bahwa dirinya akan mengkrisiti dan menyampaikan yang benar, meski Jokowi dan rejimnya tidak suka atas kritikannya.

“Pasti ada orang-orang yang berbeda pendapat dengan apa yang saya sampaikan ini, dan akan ada yang mem-bully. Itu resiko memiliki idiologi dan berjuang untuk mewujudkan idiologi itu. Itu juga adalah resiko sebagai Soekarnois untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Marhaen. Saya bermohon, kalau ada yang dapat dan berkenan  menyampaikan ini, silakan sampaikan kepada Presiden Joko Widodo,” pungkas Muchtar Pakpahan.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*