Breaking News

Sebanyak 30 Orang Saksi Sudah Diperiksa, Usut Korupsi Pengadaan Kapal PT Pertamina Trans Kontinental, Penyidik Kejaksaan Agung Masih Mengorek Keterangan Tersangka

Sebanyak 30 Orang Saksi Sudah Diperiksa, Usut Korupsi Pengadaan Kapal PT Pertamina Trans Kontinental, Penyidik Kejaksaan Agung Masih Mengorek Keterangan Tersangka.

Ditahan di Rumah Tahanan Salemba Cabang Kejaksaan Agung yang berlokasi di Kompleks Kejaksaan Agung, tersangka korupsi Pengadaan Kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) yakni Kapal Transko Andalas dan Kapal Transko Celebes di PT Pertamina Trans Kontinental tahun anggaran 2012, yakni Direktur Utama PT Vries Maritime Shipyard bernama AO alias Aria Odman Bin Idris, diperiksa penyidik Kejaksaan Agung, Kamis (10/08/2017).

 

Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) M Rum menyampaikan, pemeriksaan yang dijadwalkan pada pukul 09.00 WIB itu dilakukan di Gedung Bundar atau Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung, dengan didampingi Kuasa Hukum Si Tersangka.

 

“Jam sembilan diperiksa, tersangka AO didampingi Penasehat Hukumnya,” ujar M Rum, Kamis (10/08/2017).

 

Mantan Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta ini menginformasikan, sampai sejauh ini, sudah 30-an orang diperiksa untuk pengusutan kasus itu.

 

“Belum ke tahap penuntutan. Sebanyak 30 orang saksi sudah diperiksa. Dan masih pengembangan, nanti kalau sudah fixed barulah dilimpahkan ke penuntutan,” ujar M Rum.

 

Penyidik Kejaksaan Agung menetapkan AO alias Aria Odman Bin Idris sebagai tersangka dalam kasus ini pada Selasa (08/08/2017) lalu. Begitu ditetapkan sebagai tersangka, Direktur Utama PT Vries Maritime Shipyard itu langsung dikenakan penahanan di Rutan Salemba, Cabang Kejaksaan Agung.

 

“AO ditetapkan sebagai tersangka dan langsung dilakukan penahanan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung,” tutur M Rum.

 

Alasan segera dilakukan penahanan, diterangkan Rum, yakni karena, pertama, alasan obyektif, bahwa si tersangka diancam dengan pidana penjara lebih dari 5 (lima) tahun.

 

“Sedangkan, kedua, alasan subyektifnya adalah, tersangka dikhawatirkan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti sehingga dapat mempersulit pemeriksaan penyidikan atau menghambat penyelesaian penyidikan perkara dimaksud, sebagaimana diatur dalam pasal 21 ayat 1 KUHAP,” ujarnya.

 

Direktur Utama PT Vries Maritime Shipyard bernama AO alias Aria Odman Bin Idris ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-57/F.2/Fd.1/08/2017 tanggal 8 Agustus 2017.

 

Tersangka ditahan selama 20 (dua puluh) hari terhitung mulai tanggal 8 Agustus 2017 sampai dengan 27 Agustus 2017, berdasarkan surat perintah penahanan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-23/F.2/Fd.1/08/2017 tanggal 8 Agustus 2017.

 

M Rum membeberkan, dalam kasus ini, ditemukan adanya kerugian keuangan negara senilai 2.651.270,47 dolar amerika ekuivalen Rp. 35.317.573.930,87 (sesuai kurs BI tanggal pelaporan 31 Mei 2017 US$ 1 = Rp. 13.321) berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan dari BPK.

 

Tersangka AO alias Aria Odman Bin Idris disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3, junto Pasal 18  Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Tim Penyidik melakukan pengungkapan kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam penyediaan dan operasi kapal PT Pertamina Transkontinental oleh tim pengadaan kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) (kapal Transko Andalas dan kapal Transko Celebes) Tahun Anggaran 2012-2014 telah memeriksa Saksi sebanyak 30 (tiga puluh) orang,” ujar M Rum.

 

Jadi,pada tahun 2012, PT Pertamina Trans Kontinental mengadakan 2 (dua) unit kapal Anchor Handling Tug and Supply (AHTS), yaitu Kapal Transko Andalas dan Kapal Transko Celebes, melalui perjanjian dengan PT Vries Maritime Shipyard (PT VMS) dengan harga USD 28.400.000,-  ( + Rp. 254.000.000.000,- dengan kurs USD 1 = Rp. 9.000,-).

 

“Pengadaan itu tanpa lelang. Seharusnya ya lelang dong sebagaimana ketentuan yang berlaku,” ujar M Rum.

 

Selanjutnya, Owner Estimate (OE) atas pengadaan 2 (dua) unit kapal tersebut disusun dan ditetapkan setelah proses negosiasi harga dan penandatangan perjanjian jual beli kapal kemudian, tanggal OE dibuat backdate seolah-olah dibuat sebelum proses negosiasi harga.

 

Dijelaskan M Rum, PT VMS ditetapkan sebagai pelaksana pengadaan meskipun tidak memenuhi persyaratan berupa pengalaman tertentu, sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang sesuai dengan kriteria perusahaan.

 

“PT VMS juga belum memiliki SIUP, TDP, Nomor Identitas Kepabeanan, dan Angka Pengenal Impor Produsen saat ditetapkan sebagai pelaksana pengadaan,” ujarnya.

 

Sebelumnya, sewaktu Suherimanto alias S masih menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina Trans Kontinental, dia menyetujui permohonan PT VMS untuk memberikan pinjaman sebesar USD 3.500.000,-.

 

“Penyidik juga sebelumnya sudah menetapkan S sebagai tersangka. Nah, saat itu, meskipun bertentangan dengan Surat Perjanjian dan tanpa persetujuan Dewan Komisaris. Tersangka S telah beberapa kali memberikan perpanjangan jangka waktu penyerahan kapal tanpa dikenakan denda keterlambatan meskipun tidak memenuhi alasan force majeure,” ungkap M Rum.

 

Mantan Direktur Utama PT Pertamina Trans Kontinental periode Juni 2010-Juli 2012, Suherimanto alias S ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat perintah Penyidikan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: B-19/F.2/Fd.1/06/2017 tanggal 2 Juni 2017.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*