Breaking News

Sarat Permainan Gelap di Toyota, Pengusaha Hitam Asing Harus Diusir dari Indonesia

Stepen (Korban Keganasan Vendor bersama PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia): Banyak transaksi dan pekerjaan fiktif yang terjadi.

Praktek permainan gelap dan juga bisnis bodong sarat terjadi dilakukan oleh sejumlah perusahaan multi nasional milik orang asing. Karena itu, pemerintah dan aparat penegak hukum diminta bertindak tegas untuk memberikan sanksi bahkan hingga mencabut ijin operasi perusahaan asing seperti itu di Indonesia.

 

Selama ini, praktek seperti itu masih tetap dibiarkan oleh Pememerintah, karena diduga ada banyak oknum pejabat yang bermain sehingga banyak hak orang Indonesia dilanggar, bahkan hukum dan kebijakan nasional diinjak-injak oleh para investor asing yang bermain kotor di republik ini.

 

Ketua Dewan Pengurus Cabang Federasi Media, Informatika dan Grafika Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FMIG SBSI) Provinsi DKI Jakarta Richard Manahan Saragi menyampaikan, persoalan buruh tidak hanya terjadi pada urusan pengupahan dan kebijakan kenaikan upah. Lebih jauh, kedaulatan dan tindakan semena-mena yang kerap terjadi terhadap buruh Indonesia, dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing yang bercokol di Indonesia.

 

“Bukan hanya sekedar perusahaan asing biasa, namun sekelas perusahaan yang sudah memiliki nama besar seperti  PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia atau PT TMMIN juga masih terus mempraktekkan permainan gelap dan suka bisnis bodong secara leluasa di republik ini. Praktek-praktek seperti ini harus segera diusut dan dihentikan,” tutur Richard Manahan Saragi, di Jakarta, Rabu (07/12/2016).

 

Dia mengungkapkan, seperti yang terjadi pada sejumlah karyawan dari vendor yang selama ini bekerja sama dengan PT TMMIN, bisnis pengadaan dan juga distribusi produk perusahaan ini sering dilakukan secara melanggar hukum, dan fiktif.

 

“Jadi ini bukan hanya sekedar urusan penggajian buruh atau keraywan. Tetapi sudah dalam sebuah sistem yang korup, pengadaan-pengadaan fiktif yang telah berlangsung lama. Praktik mafia seperti ini, tentu terbuka, namun dibiarkan begitu saja oleh pemerintah dan aparat hukum Indonesia,” ujar Richard.

 

Dia menceritakan, praktif fiktif itu terkuak setelah salah seorang mantan karyawan dari salah satu vendor PT TMMIN yakni PT Intama Central Makmur Lestari (PT ICML) Jakarta milik orang Indonesia bernama Jopie J.A Rory itu, yakni Stepen mengungkapkan bahwa praktik pengiriman barang fiktif berlangsung secara bertahun-tahun, tanpa jelas barang apa yang didistribusikan ke berbagai daerah Indonesia.

 

PT TMMIN yang merupakan perusahaan asal Jepang itu, entah mengetahui atau tidak mopdus fiktif yang dilakukan, namun poersoalan hukum dan juga keberklanjutan kinerja buruh di perusahaan vendor  tidak terlepas dari praktek gelap bersama PT TMMIN.

 

“Stepen sangat jelas mengetahui modus dan praktek yang terjadi. Sebab, dia sendiri yang menjadi salah seorang pemegang kendali dalam pekerjaan fiktif itu tadinya. Sebelum akhirnya dia sadar, bahwa sebenarnya pekerjaan itu adalah bagian dari pekerjaan fiktif yang dimainkan oleh sejumlah oknum petinggi PT TMMIN yang berkolaborasi dengan PT ICML serta sejumlah pejabat di Indonesia. Perusahaan-perusahaan mafia seperti itu harus segera diusir dari negara ini,” papar dia.

 

Sementara itu, Stepen yang merasa sudah mengerjakan hal-hal yang melanggar hukum itu tersadar, dan menyatakan dirinya akan membuka semua praktek bodong yang pernah ditanganinya itu. Menurut Stepen, hampir 10 tahun dirinya bekerja di perusahaan bentukan Jopie JA Rory, dengan nama-nama perusahaan vendor yang berubah-ubah, dan yang terakhir adalah PT ICML.

 

Di ICML ini, Stepen menjadi bagian utama keuangan dan juga yang mengontrol pengiriman barang-barang dari PT TMMIN melelui PT ICML ke berbagai penjuru Indonesia. Selama ini proses pengiriman produk PT TMMIN berupa coil itu berlangsung secara aman. Hingga akhirnya, Stepen menjadi penasaran dan malah banyak tanya dengan produk-produk yang dikirimkan perusahaannya.

 

“Ternyata fiktif. Kok bisa ya? Saya penasaran, kok ada transaksi keuangan yang tidak biasa, dan dicairkan, namun pengiriman barangnya tidak ada. Malah, saya memegang sejumlah daftar dan bukti transaksi gelap yang melibatkan sejumlah oknum di PT Toyota itu, yang mana saya diminta mengirimkan uang ke rekening pribadi para petinggi PT Toyota itu, dan tidak jelas apa yang dikerjakannya. Sebab saya sendiri mengecek, tidak ada barang yang dikirimkan, namun kok ada transaksi mulai ratusan juta rupiah hinggga miliaran rupiah ke rekening para oknum Toyota yang harus saya transfer,” ungkap Stepen.

 

Dia menerangkan, pihak-pihak yang diduga bermain dalam modus penagihan bodong dan bisnis gelap ini melibatkan oknum petinggi di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (PT TMMIN) atas nama Gunawan Wibisono alias Pak GW alias Pak Gun (waktu itu menjabat sebagai Manager Ekspor Impor PT TMMIN) bersama Agung Pramono Utomo alias Pak APU (waktu itu menjabat sebagai Staff Dok Impor (PT TMMIN) berkolaborasi dengan pemilik sekaligus sebagai Direktur Utama perusahaan vendor PT Intama Central Makmur Lestari (PT ICML) Jakarta Jopie J.A Rory.

 

“Sudah dua tahun ini saya laporkan semua proses itu, namun tidak digubris oleh pihak-pihak terkait, malah saya dipecat oleh perusahaan vendor, tanpa pesangon dan tanpa pemenuhan hak-hak sayas ebagai buruh,” ujar Stepen.

 

Stepen pun menyatakan bahwa dirinya siap membongkar semua praktek busuk dan yang sangat merugikan warga negara dan pemerintah Indonesia oleh PT Toyota dan vendor serta oknum-oknum yang terlibat. “Saya siap menghadapi. Dan modus ini tidak terjadi hanya pada satu vendor, tetapi sudah banyak vendor yang dipergunakan oleh PT TMMIN untuk memainkan akal bulusnya dalam melancarkan proyek fikftifnya,” pungkasnya.

 

Sementara itu, pihak PT TMMIN menyatakan sedang mengumpulkan bukti-bukti dan juga akan melakukan proses di internal manajemen perusahaan terkait adanya laporan bisnis fiktif yang melibatkan oknum-oknum petinggi PT TMMIN itu.

 

Sudah hampir enam bulan sejak dilaporkan, proses pengusutan tak kunjung ada hasil dari PT TMMIN. General Manager External PT TMMIN Teguh Triwahono, menyampaikan, pihaknya belum bisa menjelaskan modus dan jenis sanksi yang akan dijatuhkan kepada pihak-pihak yang bermain dari Toyota.

 

“Terimkasih atas informasinya, namun kami belum bisa  memberikan tanggapan atau penjelasan. Kami akan upayakan memberikan tanggapan segera,” ujar Teguh Triwahono ketika dikonfirmasi.

 

Menurut dia, memang laporan atas proyek fiktif itu sudah masuk ke meja pimpinan manajemen PT TMMIN, namun belum ada sikap dan tindakan yang akan dilakukan.

 

“Memang kami sudah terima laporannya, namun masih dalam pembahasan di internal kami. Jadi, masalah ini masih kami upayakan diselesaikan secara internal,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*