Breaking News

Sampah Menumpuk, Belum Terlihat Pemimpin Yang Peduli Lingkungan, Galakkan Kembali Piala Adipura

Sampah Menumpuk, Belum Terlihat Pemimpin Yang Peduli Lingkungan, Galakkan Kembali Piala Adipura.

Persoalan pengelolaan sampah demi kebersihan lingkungan bukan hal sepele. Hingga kini, belum terlihat pemimpin yang benar-benar peduli lingkungan, lantaran sampah masih terus menumpuk di berbagai sudut kota dan desa.

Hal ini dikeluhkan oleh Ketua Umum Front Nelayan Indonesia (FNI) Rusdianto Samawa. Sederhana saja, menurut dia, di tempat asalnya di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), sampah menumpuk di pusat-pusat kota.

“Menjadi pertanyaan,  bagaimana mengelola sampah-sampah yang sudah sangat menganggu masyarakat itu? Jawabannya ada pada pemerintah dan pengambil kebijakan agar bersungguh-sungguh membersihkan sampah di Kota Mataram. Sehingga menjadi kota yang sehat, ramah, indah, bagus dan menarik,” tutur Rusdianto Samawa, Selasa (17/07/2018).

Menurut dia, bukan hanya di Kota Mataram, di berbagai kota lainnya di Tanah Air, pengelolaan sampah tidak diseriusi. Padahal, sampah yang menumpuk tanpa pengelolaan yang baik dan benar adalah bukti ketidakpedulian pemimpinnya terhadap lingkungan.

Dia berharap, pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pemimpin di semua tingkatan.

“Sampai kapan? Ya sampai memiliki pemimpin yang peduli lingkungan sekitarnya dan berbuat humanis, humble serta terbuka bersama rakyatnya. Sehingga penataan Mataram, misalnya, memiliki ikon positif. Apalagi Ibu Kota Provinsi yang selama ini menjadi kebanggaan. Jangan ketinggalan canggih,” ujarnya.

Rusdianto setuju bahwa pengelolaan sampah pun harus dilakukan dengan kerja keras. “Sekarang, dibanyak negara membuat perlombaan untuk mengelola sampah agar negaranya bersih. Begitupun banyak kota di Indonesia juga sudah lama mengelola sampah dengan canggih dan modern,” ujarnya.

Dia membandingkan Kota Mataram di era 2002-2008. Saat itu, HM Ruslan sebagai Walikota. Kota Mataram  asri dan rindang.

“Suasana sangat nyaman dan santai. Mungkin saja situasi itu di dorong belum banyaknya jumlah kendaraan motor dan mobil,” ujarnya.

Bahkan saat itu, Mataram menerima Piala Adipura, piala yang merupakan penghargaan tinggi akan kebersihan kota. Kualitas piala itu seperti piala dunia, diarak dari kantor walikota Mataram berkeliling ke Bertais Sweta hingga berakhir di Ampenan.

“Bisa kita rasakan, saat Ruslan sebagai Walikota, cuaca Mataram masih dingin di waktu jam 9 pagi. Kalau jelang-jelang demo mahasiswa dulu, kami masih merasakan sejuknya hawa Kota Mataram. Artinya, ke-alamian Kota Mataram waktu itu sangat dijaga oleh pemimpinnya,” ujarnya.

Menurut dia, perlombaan kota bersih dengan Piala Adipura, masih relevan untuk dilakukan. Hal itu mendorong pemerintah di setiap tingkatan berlomba melaksanakan kebersihan lingkungannya.

“Sekarang sudah tidak ada lagi itu. Mungkin pemberi penghargaan semacam itu harus digalakkan kembali,” katanya.

Rusdianto mengaku berkeliling Kota Mataram, khusus untuk memantau tempat-tempat pembuangan sampah. Salah satu contoh yang perlu diungkap karena banyak keluhan masyarakat Kota Mataram, yakni Tempat Pembuangan Sampah di daerah Gomong, yakni di samping Lapangan Atletic Mataram.

Tempat itu sudah tidak layak di jadikan pusat pembuangan sampah karena perkembangan Kota Mataram semakin padat, mulai dari perkembangan industri kecil, pedagang, kafe, taman, dan pelancong, yang mereka semua ingin menikmati kesegaran cuaca ibu kota.

Rasa-rasanya,  dilanjutkan dia, setelah mendatangi dua tempat pembuangan sampah itu, semuanya tidak layak sama sekali untuk dilanjutkan. Masyarakat saja sudah sangat banyak sekali keluhan-keluhannya.

Ada lagi yang sangat parah, yakni tempat pembuangan sampah dalam sebuah kampung perkotaan di Karang Bedil Mataram, samping panti asuhan Muhammadiyah. Selain menganggu kota, juga tidak baik bagi masyarakat sekitar.

“Kita butuh pemimpin yang komitmen dan konsisten mengelola sampah, membersihkan lingkungan dan peduli kesehatan masyarakatnya,” tutur Rusdianto.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*