Breaking News

Samakan Sekte Saksi Yehuwa Dengan Ormas HTI Untuk Dibubarkan, Relawan Jokowi Boni Hargens Bikin Gaduh

Samakan Sekte Saksi Yehuwa Dengan Ormas HTI Untuk Dibubarkan, Relawan Jokowi Boni Hargens Bikin Gaduh.

Presiden Joko Widodo diminta menertibkan barisan Relawan-nya yang malah menjadi provokator dan pembuat gaduh dalam urusan pembubaran sejumlah organisasi pasca diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang (Perppu)Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Pembubaran Organisasi Kemasyarakatan.

 

Boni Hargens yang mengaku sebagai Relawan Jokowi, kini tercatat juga sebagai anggota Komisaris Antara (Persero), disebut bersengaja membuat kegaduhan baru dan menjadi provokator, lantaran getol menyebut sebuah sekte, yakni Saksi Yehuwa sebagai Organisasi Massa (Ormas) yang sama dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sehingga Saksi Yehuwa juga didorong untuk dibubarkan dengan cara menerapkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang pembubaran ormas itu.

 

Koordinator Paguyuban Jurnalis Bersatu Jhon Roy P Siregar menyampaikan, belakangan ini, sepak terjang dan juga pernyataan-pernyataan pers yang dikeluarkan oleh Pengamat Politik Boni Hargens itu sudah memancing keresahan dan bibit kegaduhan baru di masyarakat.

 

Selain tidak memahami konteks persoalan, Boni Hargens juga dianggap tidak memahami urutan tata cara penegakan hukum dan ketatanegaraan dalam mengatur berbagai persoalan mengenai sekte dan juga ormas.

 

“Mengaku-ngaku sebagai Relawan Jokowi, tetapi sepak terjangnya kini malah bikin resah masyarakat dan asbun (asal bunyi). Dalam pernyataan-pernyataan persnya belakangan ini, terkait pembubaran sekte Saksi Yehuwa, Boni Hargens sudah malah jadi provokator dan sengaja mendorong kegaduhan di masyarakat. Karena itu, Pak Jokowi harus segera menertibkan manusia seperti Boni Hargens itu,” tutur Jhon Roy P Siregar, di Jakarta, Rabu (26/07/2017).

 

Padahal, lanjut dia, di saat kondisi Indonesia seperti sekarang ini yang membutuhkan situasi kondusif dan kerja-kerja nyata bagi rakyat Indonesia, seharusnya sekelas Boni Hargens tidak asal sembarangan bicara dan mendorong-dorong sekte lain untuk dibubarkan melalui Perppu yang baru diterbitkan oleh Pemerintahan Jokowi itu.

 

Perlu diketahui, lanjut Jhon, posisi Saksi Yehuwa dengan HTI adalah sangat jauh berbeda. Dari bentuk organisasinya, aktivitas dan kegiatannya, serta jalur persoalannya pun tidak sama dengan HTI.

 

Karena itu, kata dia, penyelesaian persoalan yang ditimbulkan pun berbeda. HTI, oleh Pemerintahan Jokowi dianggap berbahaya karena merongrong kekuasaan Negara dan tidak mengakui Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi Negara Republik Indonesia, sehingga Pemerintah menganggap situasi saat ini sedang darurat konstitusi, dan mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

“Karena itulah pemerintah memaksakan diterbitkannya Perppu tentang pembubaran ormas HTI itu. Lah, kalau untuk Saksi Yehuwa kan berbeda. Apakah Saksi Yehuwa itu ormas? Apakah Saksi Yehuwa itu merongrong kedaulatan NKRI? Apakah mengganggu kekuasaan Negara? Apakah Saksi Yehuwa melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan mengancam akan meruntuhkan Negara Indonesia? Kan tidak,” tutur Jhon.

 

Dia pun menyarankan kepada Boni Hargens agar lebih banyak belajar lagi mengenai Mekanisme Hukum dan Tata Negara di Indonesia. Juga belajar lagi untuk mengetahui dan memahami perbedaan Ormas dengan Sekte atau aliran kepercayaan.

 

Lagi pula, kata Jhon, dalam pernyataan dan rilis yang disebar Boni Hargens, disebutkan bahwa Saksi Yehuwa tidak menghormat pada Bendera Merah Putih, sebagai lambang negara, sehingga layak untuk dibubarkan. Argumentasi itu, kata Jhon, sangat lemah. Sebab, tata cara resmi menghormat Bendera Merah Putih pun tidak sembarangan.

 

“Saya pun mempertanyakan, apakah betul Boni Hargens menghormat Bendera Merah Putih? Saya tidak pernah melihat dia menghormat Bendera Merah Putih kok. Kita ini, kalau upacara resmi, seperti Upacara Bendera di sekolah dan instansi-instansi, tentulah ada sesi menghormat Bendera Merah Putih, bukan? Bukan lantas karena pernyataan seorang Boni Hargens maka sebuah sekte dapat dibuarkan loh,” tutur Jhon.

 

Lebih lanjut, Boni Hargens yang juga disebut-sebut sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN) itu, terkesan sengaja mencari-cari masalah dengan getol menyuarakan pembubaran Sekte Saksi Yehuwa di Negara ini.

 

“Tidak pantas dia bicara begitu. Perlu diketahui, di Indonesia ini, semua diatur dengan Undang Undang. Termasuk hak orang untuk berkumpul, berserikat dan berorganisasi, itu jelas diatur dan dijamin Negara ini. Karena itu, jika ada sentimen pribadi Boni Hargens dengan Saksi Yehuwa maka silakan diselesaikan dengan jalur hukum yang tepat dong,” ujar Jhon Roy.

 

Jhon juga menyarankan Boni Hargens untuk menelusuri tata peraturan dan penyelesaian persoalan ormas ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), serta menelusuri aturan dan tata cara mengurusi sekte dan keyakinan orang ke Kementerian Agama dan aparatur hukum terkait.

 

“Jadi, Boni Hargens jangan asbun. Jangan karena berkedok Relawan Jokowi, merasa memiliki kekuasaan sekarang, lantas seenaknya bicara dan membuat kegaduhan di Negara ini. Ingat, yang dipersoalkan oleh Boni Hargens itu berkaitan dengan nasib ribuan bahkan jutaan orang Indonesia yang mungkin bergabung sebagai penganut Saksi Yehuwa itu loh. Jangan sembaranganlah. Soal khaidah atau ajaran agama masing-masing, sudah ada yang mengurus itu. Dan ada cara serta solusi untuk itu. Soal ketatanegaraan, soal hukum negara ya juga sudah diatur kok. Jadi, ya berhati-hatilah kalau menyuarakan pembubarkan keyakinan orang lain,” papar Jhon.

 

Selain perlu ditindak dan segera ditertibkan oleh Jokowi, Jhon juga meminta agar Boni Hargens menyampaikan permohonan atau permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, karena kekhilafannya atau karena dorongan ambisinya yang menyebabkan keresahan di masyarakat Indonesia yang cinta damai ini.

 

“Apa sih susahnya mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang khilaf?” ujar Jhon.

 

Sementara itu, Pendeta Harliman Pattianakota menyampaikan, Saksi Yehuwa atau yang juga dikenals ebagai Saksi Jehova itu sangat jelas berbeda dengan HTI.

 

“Saksi Jehovah dulu dikenal sebagai sekte. Tetapi sikap yang menganggap ajaran tertentu sebagai sekte mulai ditinggalkan. Sebab kita tidak bisa berdiri sebagai hakim atas kelompok tertentu kemudian  di-cap sebagai sekte,” ujar pria yang akrab disapa Harley itu.

 

Dikatakan eks aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) itu, dahulu, kalau sudah di-cap sebagai sekte, maka darahnya pun dianggap halal untuk dihabisi.

 

“Karena itu, istilah sekte, bidat, mulai ditinggalkan karena itu adalah istilah yang keras. Saksi Jehovah memang berbeda dengan kelompok mainstream seperti HKBP, GKP, GKI yang Lutheran dan Calvinis,” kata Harley.

 

Dijelaskan pria yang menjadi Pendeta di Gereja Kristen Pasundan (GKP) itu, ada pokok-pokok ajaran yang berbeda, yang dianut Saksi Yehuwa dengan ajaran kelompok mainstream.

 

“Tetapi kita tidak perlu gusar dan cemas dengan itu. Yang perlu dilakukan adalah pembinaan umat secara baik supaya paham dengan keyakinannya. Bukan malah mendorong mengusir, mengutuk, atau bahkan membunuh loh,” tutur Harley.

 

Bagi Harley, hal yang diangkat Boni Hargens adalah ajaran Saksi Yehuwa yang berkaitan dengan relasi gereja dan negara.

 

“Mereka memang melarang menghormat kepada bendera sebagai simbol negara, sebab bagi mereka hanya Tuhan yang harus dihormati. Tentu di sini ada implikasi hukum, yang membuka ruang perdebatan. Dan bisa saja Saksi Jehovah diajak untuk diskusi soal teologi hubungan gereja dengan negara,” uajr Harley.

 

Dan yang lebih penting lagi, lanjut dia, ajaran Saksi Yehuwa itu tidak dijadikan sebagai ideologi untuk melawan negara secara terbuka.

 

“Apalagi, sampai melakukan pengeboman terhadap alat-alat dan simbol negara, itu tidak mereka lakukan, Sebab mereka tetap mengajarkan kasih dan damai. Inilah perbedaan Saksi Jehovah dengan HTI. HTI bisa menjadi ideologi politik dengan menghalalkan kekerasan. Jadi, jangan disamakan begitu saja Saksi Jehovah dengan HTI,” tutur Harley.

 

Memang, kata dia, ada saja sikap orang Saksi Yehuwa yang dianggap meresahkan orang-orang Kristen lain. Hal itu dikarenakan, para Saksi Yehuw tidak malu-malu menawarkan keyakinannya.

 

“Sikap berani Saksi Jehovah ini yang mesti ditransformasi, supaya mereka belajar menghargai keyakinan yang lain. Tetapi bagi mereka yang kuat dan paham keyakinannya, Saksi Jehovah ini tidak akan dipandang sebagai masalah besar. Ia hanya mencipta pojok diskusi iman yang tak pernah tuntas, yang bisa disikapi dengan argumentasi. Tidak dengan kekerasan,” pungkas Harliman Pattianakota.

 

Sebelumnya, Boni Hargens dengan getol menyampaikan bahwa Saksi Yehuwa layak dibuarkan, sebab sama dengan Ormas HTI.

 

Pengamat Politik Boni Hargens menegaskan, sekte Saksi Yehuwa layak dibubarkan dengan menggunakan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Pasalnya, saksi Yehuwa ini telah menunjukkan sikap anti-Pancasila dengan tidak mau menghormati Bendera Merah Putih.

 

“Mereka (Saksi Yehuwa) menganggap bahwa penghormatan terhadap bendera negara adalah berhala yang dilarang dlm kitab sucinya,” ujar Boni Hargens di Jakarta, Selasa (25/72017), sebagaimana disebarkannya dalam berbagai perwacanaan dan media massa.

 

Boni menilai, Saksi Yehuwa tidak berbeda jauh dengan Hizbut Tahir Indonesia (HTI) yang secara filosifis dan prinsip bertentangan dengan Pancasila. Meskipun Saksi Yehuwa tidak radikal, tetapi mereka jelas anti-Pancasila.

 

“Nasionalisme mereka pun dipertanyakan karena tidak mau menghormati bendera merah putih. Padahal Merah Putih adalah jiwa raga bangsa Indonesia, simbol merah darah-perjuangan dan putih tulang para pejuang kemerdekaan,” ujar dia.

 

Boni Hargens juga mengaku sudah mendesak pemerintah agar membubarkan Saksi Yehuwa menggunakan Perppu Ormas. Pasalnya, keberadaan Saksi Yehuwa telah meresahkan masyarakat dengan melakukan evangelisasi secara agresif di Indonesia.

 

“Saya melihat, Saksi Yehuwa sudah meresahkan banyak orang karena melakukan evangelisasi di tempat umum dan berusaha merekrut pemeluk agama lain untuk bergabung dengan sekte keyakinan mereka,” ujar Boni di Jakarta, Rabu (19/7/2017).

 

Menurut Boni, kehadiran Perppu Ormas tidak hanya ditujukan untuk kelompok ormas radikal seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tetapi juga sekte keagamaan yang bertentangan dengan Pancasila. Dan lanjut Boni, sekte Saksi Yehuwa telah bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama yang dijamin dalam UUD 1945 dan yang menjadi prinsip awal Ketuhanan dalam Pancasila.

 

“Saya susah membayangkan, di negara beragama seperti Indonesia ada kelompok agama yang memaksa pihak lain untuk mengikuti sekte mereka. Ini melanggar prinsip beragama di Indonesia,” ujar Boni.

 

Karena itu, menurut Boni, pemerintah harus segera menertibkan sekte atau ormas keagamaan seperti Sekte Yehuwa ini, karena  jika dibiarkan bisa berpotensi menciptakan ketidaknyamanan pemeluk agama lain. Dan tentu mengusik kehidupan beragama orang lain.

 

“Perppu Ormas jangan hanya menyasar HTI atau ormas lain,” ujarnya.

 

Di Rusia, kata dia, Pengadilan Mahkamah Agung (MA) Rusia telah menyatakan aliran saksi Yehuwa sebagai organisasi ekstremis, yang sama dengan kelompok negara Islam atau ISIS. Dan pada Kamis (20/4/ 2017), Saksi Yehuwa resmi dilarang  beroperasi di seluruh Rusia.

 

Dia menyebut, Saksi Yehuwa adalah suatu denominasi Kristen, milenarian, restorasionis yang dahulu bernama Siswa-Siswa Alkitab hingga pada tahun 1931. Agama ini diorganisasi secara internasional, lebih dikenal di dunia Barat sebagai Jehovah’s Witnesses atau Jehovas Zeugen, yang mencoba mewujudkan pemulihan dari gerakan Kekristenan abad pertama yang dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus. Mereka menolak doktrin Tri Tunggal karena tidak berdasarkan Firman Allah, Alkitab.(Nando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*