Breaking News

Saling Klaim, Untuk Pembebasan WNI Sandera Abu Sayyaf, Pemerintah Main ‘Rahasia-Rahasiaan’

Pembebasan WNI yang disandera Abu sayyaf pakai Operasi Intelijen dan Diplomasi.

Pemerintah Indonesia tidak mau terbuka dengan proses pembebasan Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh separatis Islam Filipina Abu Sayyaf.

Setelah dibebaskan dari Abu Sayyaf, kepulangan ke 10 Anak Buah Kapal (ABK) WNI ke Tanah Air memunculkan sejumlah pihak yang mengklaim bahwa upaya pembebasan itu adalah keberhasilan mereka. Perdebatan mengenai siapa yang dianggap sebagai pahlawan dalam pembebasan para sandera itu pun merebak di tanah air.

Sejumlah publikasi di media massa yang mengklaim bahwa Tim Kemanusiaan Surya Paloh ikut berperan dalam pembebasan para ABK pun tidak dibantah oleh pemerintah, meski pemerintah RI sendiri telah mengumumkan secara resmi bahwa pembebasan itu adalah upaya pemerintah.

Menteri Kordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko polhukan) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pembebasan ke 10 ABK yang disandera oleh Kelompok Abu Sayyaf merupakan hasil kerja sama.

Pemberitaan yang menyatakan bahwa Tim Kemanusiaan Surya Paloh yang mengklaim bahwa mereka ikut serta dalam pembebasan terhada 10 ABK di Filipina tidak bisa diterangkan Luhut. Luhut tidak bisa memastikan peran Tim Kemanusiaan itu dalam upaya pembebasan para sandera.

“Ya nggak apa-apa, saya tidak perlu buka-buka, mungkin jasa mereka banyak,” ujar Luhut diplomatis di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin, (2/5/2016).

Luhut mengatakan, pemerintah Indonesia selalu membuka jalur komunikasi dan kerja sama dengan pihak-pihak yang berniat membantu pemerintah dalam pembebaskan para sandera. Luhut tidak menampik bahwa pembebasan terhadap Ke 10 ABK yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf melibatkan banyak pihak.

Selain itu, Luhut menambahkan, meski banyak dukungan yang datang untuk membebaskan ke 10 ABK itu, namun pemerintah Indonesia lebih mengedepankan jalur diplomasi dengan Pemerintah Filipina.

“Seperti yang dikatakan Presiden, memang dukungan penuh pemerintah Filipina, itu sebenarnya yang buat sukses,” ujar dia.

Luhut hanya bisa mengisyaratkan bahwa pembebasan terhadap ke 10 ABK yang disandera sejak 26 Maret 2016 lalu itu, merupakan hasil kerja sama dari beberapa pihak yang mempunyai jaringan di Filipina.

“Ada beberapa teman-teman kita yang punya hubungan pribadi, atau bekas Kapolda-nya di sana yang punya hubungan pribadi dengan yang ada sini juga. Mereka ikut bantu, jadi ada banyak,” ujarnya.

Meski sudah berhasil membebaskan ke 10 sandera, namun masih ada empat WNI lainnya yang masih dalam tawanan Abu Sayyaf, dan belum dibebaskan.

Untuk itu, menurut Luhut, pemerintah Indonesia sampai saat ini masih terus mencari posisi terakhir dari ke-empat WNI yang diduga disandera oleh kelompok yang sama.

“Tadi kita sudah rapat, dengan panglima TNI, Menlu dan kepala BIN untuk langkah ke depannya,” ujar Luhut.

Rencana pembebasan yang akan dilakukan terhadap keempat WNI itu, pemerintah akan menggunakan cara yang sama dalam membebaskan ke 10 ABK yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

“Tidak elok juga kalau saya buka ke kalian. Tapi kami bekerja untuk melakukan pembebasan. Dengan operasi intelijen dan diplomasi,” ujar Luhut.

Luhut memastikan, kelompok yang menyandera ke empat WNI lainnya merupakan pecahan dari kelompok Abu Sayyaf.

“Kelompoknya banyak. Tapi ini pecahannya. Kita sudah punya gambarannya. Ya, dari apa yang saya dapat sekarang kita bisa lebih jelas,” ujar mantan Kepala Staf kepresidenan itu.(Tornando)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*