Breaking News

Rusak Parah, Bangunan Peninggalan Sejarah di Eks Keresidenan Besuki Butuh Penanganan Serius

Rusak Parah, Bangunan Peninggalan Sejarah di Eks Keresidenan Besuki Butuh Penanganan Serius.

Pemerintah dan masyarakat pelestarian cagar budaya diharapkan segera melakukan tindakan penyelamatan terhadap sejumlah bangunan besar, termasuk eks rumah dinas keresidenan yang merupakan peninggalan kolonial Belanda di wilayah Keresidenan Besuki, Jawa Timur.

 

Koodinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Jhohannes Marbun atau Joe Marbun menyampaikan kondisi rumah dan gedung-gedung tua yang merupakan peninggalan yang sudah masuk dalam cagar budaya itu telah mengalami kerusakan parah.

 

“Sudah rusak parah, tanpa perhatian dan tidak dipedulikan. Sangat memprihatikan. Pemerintah harus segera turun tangan,” ujar Joe Marbun, di Jakarta, Kamis (03/08/2017).

 

Dikatakan Joe, dirinya yang juga tergabung dalam Dewan Perjuangan dan Advokasi Cagar Budaya (Dang Acarya) yang merupakan koalisi LSM dan komunitas peduli Cagar Budaya sebagai wilayah Tapal Kuda berkesempatan datang untuk mengunjungi bangunan bersejarah yang tampak tak terawat dan banyak bagian yang rusak.

 

“Pintu dan jendela banyak yang hilang, langit-langit rumah mau runtuh, dinding yang terkelupas menyebabkan kita prihatin atas hal ini. Yang lebih memprihatinkan bangunan eks rumah dinas ini belum terdaftar sebagai bangunan Cagar Budaya kolonial ketika Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim melakukan pendataan,” ungkapnya.

 

Seharusnya, kata dia, BPCB yang mempunyai keahlian dan kewenangan dalam pelestarian Bangunan Cagar Budaya sudah selayaknya memperhatikan asas  emergency yang sangat mendesak.

 

“Jika di biarkan dalam waktu yang tak lama lagi bisa jadi generasi yang akan datang dan anak  cucu kita tidak akan melihatnya. Mari kepada segenap masyarakat Besuki, Situbondo, Tapal kuda dan Indonesia kita bersatu padu selamat bangunan bersejarah ini,” kata Joe.

 

Joe juga menuturkan, selain dibiarkan terbengkalai, bangunan bersejarah penanda peradaban di wilayah Tapal Kuda itu secara sengaja pula dijadikan sebagai tempat sarang burung walet.

 

“Oleh karena itu, MADYA meminta kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberi perhatian serius terhadap permasalahan ini. Pemerintah harus melakukan langkah-langkah penyelamatan. Demikian pula Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Situbondo, untuk menelusuri secara jelas kepemilikan atas bangunan tersebut, jika ditemukan indikasi pidana, maka harus segera ditindaklanjuti secara hukum,” ujar Joe.

 

Dia menjelaskan,  Wilayah Besuki di era silam merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan yang menunjukkan majunya peradaban di Jawa Timur. Setelah mengalami kemunduran akibat perang, kongsi dagang VOC menyerahkan keresidenan Besuki kepada Pemerintah Belanda.

 

Selanjutnya, Pemerintah Belanda pun kemudian menata pemerintahan dan salah satunya adalah Karesidenan Besuki dengan wilayah meliputi 4 Kabupaten sekarang yaitu Situbondo, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi, sedang Lumajang dan Probolinggo harus berpisah dengan saudara-saudara lainnya ada di wilayah yang di kenal dengan nama Kawasan Tapal kuda.

 

“Keresidenan Besuki pun kemudian eksis dan di kenal sebagai pemasok hasil perkebunan terbesar seperti tembakau dan gula dimana pabrik-pabrik tersebar di wilayah ini,” kata Joe.

 

Untuk mengatur pemerintahan yang begitu besar, lanjut dia, Pemerintah Belanda menempatkan pusat pemerintahannya di Besuki dengan tata kota yang bergaya campuran Eropa dan Cina. Residen sebagai pimpinan tertinggi menempati sebuah kantor dan rumah dinas yang megah dengan arsitektur campuran antara  Eropa dan Cina. Rumah dinas Residen menempati bangunan yang di buat tahun 1803 dengan bangunan yang cukup megah.

 

“Setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Karesidenan dibubarkan dan Besuki menjadi kota yang terlantar karena turun menjadi sebatas Kecamatan. Demikian juga bangunan-bangunan besar peninggalan kolonial banyak yang tidak terurus. Dan yang paling parah adalah eks Rumah Dinas Residen,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*