Breaking News

Rezim Ini Payah, Rakyat Kecil Diajak Bergerak Urus Diri Sendiri

Rezim Ini Payah, Rakyat Kecil Diajak Bergerak Urus Diri Sendiri.

Para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Rakyat Kecil lainnya diajak untuk bergerak sendiri menentukan arah kehidupan dan perekonomiannya, sebab berharap kepada Pemerintahan dianggap sia-sia belaka.

Deklarator Poros Rakyat Kecil Indonesia Ali Mahsun menyerukan, rakyat kecil harus mampu bertahan dan bahkan melakukan perlawanan terhadap para penguasa dan pengusaha yang tidak manusiawi, yang telah menjerumuskan kehidupan perekonomian mereka kian terpuruk.

Bagi Ali Mahsun, saat ini penguasa di Indonesia sangat tega kepada masyarakat. “Mereka menari-nari, berlomba-lomba, kocok sana kocok sini, ingkar janji sana, ingkar janji sini, hanya untuk penuhi syahwat berkuasa di atas penderitaan rakyat kecil. Sementara saat ini kita menghadapi kenyataan pahit akan sulitnya kehidupan dan pemenuhan kebutuhan dasar,” tutur Ali Mahsun, Rabu (11/07).

Oleh karena itu, dia mengatakan, untuk mempertahankan kehidupannya, masyarakat kecil harus sadar dan mau melawan penjajahan dalam bentuk-bentuk yang kian banyak, yang terus menerus mengerogoti dan menyengsarakan masyarakat.

“Kalau diam, kita akan mati sia-sia. Kalau berhenti kita yang akan ditindas dan dijajah di negeri sendiri. Mari bersama, bersatu dan bergerak. Apapun yang mereka lakukan, apapun resiko dan yang akan terjadi, Poros Rakyat Kecil Indonesia ada di garda terdepan,” ujar pria yang adalah Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) ini.

Yang lebih memprihatinkan lagi, sambungnya, sudah tahu betapa sulitnya kehidupan masyarakat kecil saat ini, penguasa dan para elit politik Indonesia malah banyak yang hanya asik dan sibuk dengan diri sendiri.

Ali menyampaikan, dalam sebuah percakapannya dengan salah seorang sopir Ttaksi Bandara Juanda, Surabaya, Jumat 6 Juli 2018 lalu, terungkap betapa kesulitan hidup masyarakat kecil tidak dipedulikan. Pemerintah dan Negara tidak hadir bagi warga negaranya.

“Dia bilang, kalau tidak beriman hidup saat ini, bisa bunuh diri. Kalau tidak beriman, saat ini bisa lakukan perampokan. Kalau tidak beriman, saat ini bisa lakukan pelacuran. Saya masih percaya Allah Swt, saya tetap nyopir taksi walau sering tidak bawa uang pulang ke rumah,” ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Ali Mahsun,  kepada masyarakat harus dibeberkan fakta dan kondisi riilnya sehari-hari. Dia menyebut, saat ini kondisi sangat tega dan memilukan.

Meski Negeri ini subur dan kaya raya, lanjut Ali, disebut sebagai Surga atau Penggalan Surga, namun fakta kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia, malah bagai hidup neraka.

“Negeri ini penggalan surga namun nyatanya sangat paradoksal. Bahkan laksana neraka bagi rakyat dan bangsanya sendiri. Rakyat makin menderita semakin sulit penuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Hari-hari ini, kata dia, fakta dan realitas ketimpangan ekonomi sungguh kian menganga. Ketidakadilan pun terus menerus terjadi.

Dia mengibaratkan, Negeri ini sedang diperhadapkan pada bisul yang menganga. Hanya tinggal sedikit lagi ada sayatan pisau, atau cuma tergores ujung jarum, maka isi bisul akan meluber ke seluruh negeri.

“Jangan biarkan bisul negeri ini terlalu lama, itu sangat membahayakan merah putih dan keutuhan NKRI. Segera amputasi atau negeri ini hancur berantakan atau bubar,” ujarnya.

Dia mengingatkan, Republik Indonesia ini milik rakyat dan bangsa Indonesia. Karena itu, semua aset dan semua uang bahkan semua harta Indonesia harus dimiliki Indonesia untuk rakyat Indonesia.

“Indonesia bukan milik bangsa asing. Ribuan bahkan puluhan ribu triliun rupiah uang rakyat, uang negara malah dikendurikan BLBI. Juga mega skandal korupsi dan penggadaian aset ekonomi kekayaan alam Indonesia terus terjadi. Sekali lagi, Indonesia penggalan surga kok terasa neraka bagi rakyat dan bangsanya sendiri,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*