Breaking News

Relawan Jokowi Pecah, Pihak Istana dan Lingkarannya Sudah Mulai Anti Kritik

Pengangkatan Stafus Presiden Tidak Sehat, Relawan Ditinggalkan

Diperlakukan sesuka hati, Relawan Jokowi, Pecah!

Gara-gara pengangkatan mantan Relawan Jokowi, Diaz Hendropriyono sebagai Staf Khusus (stafsus) Presiden Jokowi, sejumlah Relawan Pendukung Presiden Jokowi pecah. Pihak istana Negara pun tak pelak mendapat kritikan.

Pengangkatan mantan aktivis Kawan Jokowi itu dianggap oleh sebagian besar relawan tidak pas untuk duduk sebagai Staf Khusus Presiden. Presiden Jokowi pun dianggap hanya dengan kedekatan keluarga Diaz kepada Jokowi, maka sejumlah jabatan dan staf khusus pun diserahkan kepada putra mantan Kepala BIN Hendropriyono itu.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) Jones Batara Manurung mengatakan, secara kualitatif tidak ada ukuran yang disampaikan pihak Istana kepada masyarakat sehingga harus menunjuk Diaz sebagai Stafsus Presiden. Selain itu, menurut dia, kemampuan seorang Diaz patut dipertanyakan, dikarenakan sejumlah jabatan di lingkungan pemerintahan dan BUMN pernah diserahkan dan didudukinya.

“Selain jabatan stafsus, beberapa jabatan lainnya diemban dia juga. Apa sebenarnya kualifikasi dan standar yang diterapkan Istana untuk mengangkat seseorang mengisi jabatan di lingkungan pemerintahan? Toh, dibandingkan dengan para relawan lainnya, Diaz tidaklah begitu menonjol secara kualitas dan kemampuan. Nah, ini yang membuat sebagian besar relawan menjadi terpecah,” papar Jones, di Jakarta, kemarin (jumat, 15/07/2016).

Jones yang juga Sekjen Duta Jokowi itu menegaskan, dengan penunjukan sejumlah relawan dengan seenak hati, maka perpecahan di tubuh pendukung Jokowi pun kini mulai pecah. Dia juga menyebut pihak Istana dan lingkarannya saat ini sebagai pihak-pihak yang sudah mulai anti kritik.

“Masa mengomentari dan bicara mengkritisi kebijakan Jokowi pun jadi enggak boleh? Lah, Pak Jokowi sendiri pernah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah anti terhadap kritik. Kok, bisa pula pihak Istana dan sejumlah relawan malah menghalang-halangi orang mengkritik orang yang didukungnya yakni Pak Jokowi,” papar Jones.

Dia mengatakan, untuk menghindari kian meruncingnya perpecahan di tubuh relawan, sebaiknya Presiden Jokowi membatalkan pengangkatan Diaz sebagai stafsus presiden dan mengakomodir sejumlah relawan lainnya yang lebih mumpuni.

“Komunikasi yang sehat, mengakomodir relawan, pastilah semua relawan memerlukan itu. Mengapa sepertinya harus bersembunyi-sembunyi dan saling ngedumel? Kita mau supaya ke depan lebih baik, jangan larang dong mengkritisi,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Pusat Informasi Relawan (PIR) Jokowi-JK, Panel Barus tidak mau berkomentar terkait dengan pengangkatan Diaz sebagai stafsus Presiden. “Sementara ini No Comment dulu saya. Terserah Presiden saja,” ujarnya ketika dikonfirmasi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Relawan Jokowi lainnya, Sekjen Aliansi Masyarakat Sipil Indonesia Hebat (Almisbhat), Hendrik Dikson Sirait pun tidak mau memperkeruh perpecahan. Menurut mantan aktivis 1998 ini, semakin ditanggapi, malah semakin pecah.

“Kita malah mau melakukan konsolidasi dan pertemuan nasional relawan, untuk bersilaturahmi, membahas persoalan-persoalan di internal dan juga hubungan dengan Presiden Jokowi. Dalam waktu dekat ini akan digelar. Jadi, saya kira, jangan (dipanasin) lagilah. No commentlah soal itu,” ujar Hendrik.

Ketika dikonfirmasi wartawan, Diaz Hendropriyono tidak memberikan respon. Pesan singkat dan pesan WhatssApp (WA) terkirim dan dibaca, tidak direspon. Demikian pula ketika dihubungi lagi lewat telepon, putra Hendropriyono itu tidak memberikan respon.

Koordinator Nasional Duta Jokowi, Joanes Joko mengatakan, sejauh ini tidak ada perpecahan yang perlu dikhawatirkan di antara sesama relawan Jokowi.

“Kalau perpecahan, saya rasa tidak ada. Kalau perbedaan pendapat dalam menyikapi suatu isu adalah kewajaran,” ujar Joanes Joko.

Dia juga menepis adanya tudingan anti kritik yang dialamatkan kepada para relawan dan juga lingkaran istana. “Tidaklah. Kita harus tetap mengawal pemimpin kita, dengan pujian dan kritik,” pungkas Joanes Joko.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengumumkan pengangkatan dua staf khusus presiden di Kompleks Istana, Senin (11/7/2016).

“Ada penambahan staf khusus presiden, Gories Mere dan Diaz Hendropriyono,” ujar Pratikno.

Pratikno mengatakan, Keputusan Presiden terkait pengangkatan keduanya sudah diteken Jokowi beberapa hari sebelum diumumkan. Keduanya pun sudah mulai bekerja sejak Keppres ditandatangani.

Pratikno mengungkapkan, Gories dan Diaz tidak mempunyai fungsi atau bidang tertentu sebagai staf khusus. Mereka bekerja sesuai instruksi Presiden.

“Semua staf khusus memang tidak punya kerja spesifik. Mereka fleksibel, sesuai dinamika saja,” ujar Pratikno.

Gories dikenal sebagai mantan pejabat kepolisian yang pernah menjabat Kepala Densus 88. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Bareskrim Polri dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang pertama.

Sementara itu Diaz merupakan anak ketiga AM Hendropriyono. Saat Jokowi-JK maju dalam Pilpres 2014, Diaz berperan sebagai relawan pendukung melalui Kawan Jokowi.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*