Breaking News

Protes Pengrusakan Kawasan Danau Toba, Aktivis Lingkungan Dibalbali Anak Buah Saudaranya Bupati Dengan Gaya Premanisme, Kapolda Sumatera Utara Diminta Turun Tangan Usut Tuntas Kasus Ini

Protes Pengrusakan Kawasan Danau Toba, Aktivis Lingkungan Dibalbali Anak Buah Saudaranya Bupati Dengan Gaya Premanisme, Kapolda Sumatera Utara Diminta Turun Tangan Usut Tuntas Kasus Ini.

Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Pol Paulus Waterpauw diminta segera mengerahkan pasukannya untuk menindak dan memberantas aksi premanisme yang dibekingi oleh pejabat dan pengusaha rakus di Kawasan Danau Toba (KDT).

 

Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Maruap Siahaan meminta Kapoldasu beserta jajarannya untuk tidak memberi ampun kepada aksi-aksi premanisme yang terjadi kepada masyarakat dan para aktivis lingkungan hidup, yang bergerak menyelamatkan Kawasan Danau Toba (KDT) dari kehancuran.

 

“Kami meminta Pak Kapoldasu Irjen Pol Paulus Waterpaw untuk menindaktegas para pelaku aksi-aksi premanisme terhadap aktivis lingkungan hidup di Kawasan Danau Toba. Entah dibekingi Bupati kek, entah dibekingi pengusaha hitam kek, aksi-aksi premanisme harus diusut tuntas. Kita percaya Pak Kapoldasu tidak akan membiarkan para preman bayaran merusak Kawasan Danau Toba,” tutur Maruap Siahaan, dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (16/08/2017).

 

Disampaikan Maruap, dua orang aktivis lingkungan hidup dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) yang tergabung dalam Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) mengalami penganiayaan berat dan pemukulan yang sadis oleh sejumlah orang yang diduga preman bayaran yang merupakan anak buah salah seorang Bupati di Kawasan Danau Toba (KDT).

 

Menurut dia, peristiwa pemukulan dan penganiayaan itu terjadi, hanya karena para aktivis mempertanyakan keberadaan sebuah tambang di Kawasan Danau Toba yang dinilai telah merusak lingkungan.

 

“Masa saudara kita dibalbali (dipukuli dan dianiaya), dianiaya dan diperlakukan secara sadis oleh para preman yang katanya orang-orang suruhan Bupati? Ini sudah tak benar. Harus diusut tuntas, dan tidak ada ampun bagi para pelaku penganiayaan,” ujar Maruap.

 

Memang, dua orang aktivis dan pegiat lingkungan dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) yakni Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun aluas Joe dianiaya oleh sejumlah pria di daerah Onanrunggu, Samosir, pada Selasa (15/08/2017).

 

Saat memberikan keterangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)di kantor Polisi, Jhohannes Marbun yang juga merupakan Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) itu menuturkan, dirinya bersama Sebastian Hutabarat berada di Onan Runggu, Samosir sejak Senin sore, untuk melihat potensi Kabupaten Samosir. Karena YPDT sedang menjalin kerjasama dengan relawan dari luar terkait pariwisata berbasis masyarakat.

 

“Kami baru tiba sore hari. Setelah diskusi tidak mungkin langsung menyeberang ke Simalungun karena jadwal kapal ferry penyeberangan yang terbatas. Kami berencana menyeberang dengan ferry jam 10 esok harinya. Tadi pagi, menunggu waktu jam 9 ke Tomok, kami melihat lihat lingkungan sekitar. Rencana kami hanya sebentar karena takut ketinggalan ferry,” jelas Jhohannes.

 

Lebih lanjut Jhohannes menjelaskan, mereka memasuki areal tambang batu milik JS, yang disebut-sebut saudara tua atau abang-nya Bupati Samosir.

 

“Di sana tidak ada pagar pembatas. Jadi saat kami masuk, JS sedang menerima telepon. Kami salaman. Karena JS asyik berbicara di handphonenya, kami melihat lihat lokasi tambang. Setelah menutup teleponnya JS mendekati kami dan berdiskusi,” ungkap Joe.

 

Saat diskusi, Sebastian menyinggung terkait adanya riak-ria penolakan tambang batu yang dikelola JS dari masyarakat. Diskusi itu pun memanas dan JS memaki-maki Sebastian dengan kata-kata yang tidak santun.

 

Dituturkan Joe, saat mau keluar dari area tambang masih sempat menyalami JS dan beberapa orang, ketika itulah terjadi penganiayaan kepada Sebastian dan dirinya.

 

Lalu, melihat aksi premanisme itu Joe berlari mencari pertolongan. Sebastian pun mengatakan hal yang sama dan meminta Johanes untuk merekam kejadian itu.

 

“Saya menyuruh Marbun (Johannes) untuk merekam dan lari,” ujar Sebastian.

 

Penganiayaan itu berklangsung brutal. Bibir bagian atas sebelah kanan Bastian mengalami luka robek, dan Sebastian pasrah tanpa melakukan perlawanan.

 

“Saya tidak melakukan perlawanan, Saya lipat tangan dan berdoa dengan pasrah saat dipukuli. Dan mereka terus memukuli,” ungkap Sebastian.

 

Sadisnya, menurut Sebastian, selain dipukuli, dimaki, bentuk penghinaan yang lainpun dia terima ketika celananya dipelorotin anak buah JS.

 

Sambil berlari menyelamatkan diri, Jhohannes terus dikejar-kejar anak buah JS. Bahkan ada yang hendak memukulnya dengan kayu balok atau broti, namun urung karena dilerai anak buah JS yang lain.

 

Jhohannes meminta tolong kepada orangtua Kepala Desa Onan Runggu dan untuk melihat kondisi Sebastian Hutabarat. Johannes pun kembali berlari menuju rumah Ratna Gultom, tempat mereka menginap.

 

Thomas, suami Ratna Gultom, pun berangkat melihat kondisi Sebastian lalu disusul Ratna.

 

Karena dari mereka tidak ada yang mengenal aparat kepolisian, Jhohannes langsung menelepon ke kantornya di Jakarta dan menceritakan keadaan yang mereka alami.

 

Sebastian pun berhenti dipukuli saat Ibu Kepala Desa bersama Ratna dan suaminya datang melerai.

 

Kepala Desa Onan Runggu pun berusaha mendamaikan Sebastian dengan pihak JS. Namun tidak membuahkan hasil.

 

“Mereka mau berdamai. Namun mereka mau berdamai tapi dengan cara menekan kami,” ujar Sebastian.

 

Menurut Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun, peristiwa penganiayaan terhadap mereka berlangsung pagi hari sekitar jam 08.00 Wib ke jam 09.00 Wib. Akibat lokasi yang jauh dan sulit, aparat Kepolisian dari Kecamatan Nainggolan tiba sekitar jam 2 siang di Onan Runggu dan langsung berangkat ke Pangururan dan membuat laporan pengaduan ke Polres Samosir.

 

Setelah visum dan memberikan keterangan sekitar jam 12 malam, karena merasa tidak nyaman dan untuk menjaga terjadi sesuatu, Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun dikawal anggota Polres Samosir keluar dari Samosir menuju Balige.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*