Breaking News

Politisi Proxy Berkeliaran, Indonesia Terancam Disintegrasi

Politisi Proxy Berkeliaran, Indonesia Terancam Disintegrasi.

Indonesia mengalami ancaman disintegrasi jelang Pilpres 2019. Sebab, saat ini banyak politisi proxy (boneka) yang berkeliaran, melancarkan berbagai penyesatan politik kepada masyarakat.

Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P Simanjuntak mengingatkan, seluruh elemen masyarakat Indonesia harus mewaspadai bahaya politisi proxy itu.

“Menjelang Pemilu 2019 dipastikan akan bermunculan politisi-politisi proxy binaan kelompok-kelompok yang ingin terus mengganggu kedaulatan Bangsa Indonesia,” tutur Bastian, dalam siaran persnya, Senin (09/04/2018).

Bahkan, dengan menggunakan sistem demokrasi langsung, akan sangat memungkinkan bagi kepentingan asing menyusup kedalam sistem perpolitikan Indonesia, termasuk politisi proxy.

Sebenarnya, menurut Bastian, jika yang secara kapabilitas dan integritas, politisi proxy tidak mungkin memenangkan pertarungan sistem demokrasi langsung.

“Namun mereka dapat menang karena di back-up dengan modal besar dan dukungan media mainstream dan tim cyber, yang pada akhirnya akan meningkatkan polularitas dan elektabilitas mereka,” tuturnya.

Indonesia harus waspada, sebab bila politisi proxy berhasil menduduki posisi strategis di Republik ini, maka ia akan membawa negara menuju jurang kehancuran.

Hal itu akan terlihat dari kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh proxy tidak akan berpihak kepada rakyat dan negara.

“Melainkan akan membuat rakyat semakin sengsara dan negara semakin tidak berdaya,” ujarnya.

Bahkan, jika ada sosok baru yang muncul di media secara massif, padahal di awal tidak kenal sama sekali, menurut Bastian, itu merupakan salah satu indikasi orang tersebut memiliki tim media yang solid dengan anggaran yang besar.

“Rakyat jangan terburu-buru jatuh hati dengan pemimpin yang instan dan tidak memiliki latar belakang yang jelas,” ujarnya.

Dia pun menyarankan agar masyarakat teliti, sebelum penyesalan datang dikarenakan sikap terburu-buru. Sikap yang sama juga harus berlakukan terhadap pemimpin proxy yang saat ini tengah menduduki jabatan-jabatan penting.

“Kita harus teliti kembali, bagaimana bibit, bebet, bobot si pemimpin tersebut dan apa yang sudah mereka perbuat untuk rakyat dan negara? Apakah semakin memakmurkan rakyat dan membuat negara kita semakin kuat? Atau malah sebaliknya?” ujarnya.

Jika ada keraguan, lanjut dia, sebaiknya jangan memilih politisi seperti itu.”Apalagi jika mereka sudah kehilangan kredibilitas karena sering ingkar janji,” ujar Bastian.

Demi menyelamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran dan ancaman disintregasi bangsa, kata dia, masyarakat yang paham politik, khususnya terkait adanya politisi proxy di Indonesia, maka menjadi kewajiban secara aktif menjadi agen-agen pencerdasan bagi masyarakat.

Dia berharap, masyarakat terdidik pro aktif menjelaskan kepada masyarakat seluas-luasnya akan bahaya politisi proxy yang saat ini menyebar di segala lini elemen masyarakat.

Bagi Bastian, politisi proxy itu ibarat hacker demokrasi yang selalu mencari celah mengambil peran penting.Namun, ketika mereka berhasil masuk ke sistem berbangsa dan bernegara, mereka akan merusak sistem tersebut dari dalam.

“Jika ini terus terjadi bisa saja dan sangat mungkin Indonesia akan bubar di tahun 2030,” ujarnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*