Breaking News

Polisi Incar Pengemudi Perokok, Komunitas Perokok Bijak Kirim Surat Terbuka Memprotes Kapolri

Polisi Incar Pengemudi Perokok, Komunitas Perokok Bijak Kirim Surat Terbuka Memprotes Kapolri.

Komunitas Perokok Bijak memprotes rencana Kepolisian yang mempersiapkan sebanyak 2.704 personilnya untuk mengincar para pengemudi yang merokok.

 

Ketua Komunitas Perokok Bijak Suryokoco Suryoputro pun melayangkan protes dengan membuat Surat Terbuka kepada Presiden dan pimpinan Kepolisian Republik Indonesia.

 

Suryokoco menyampaikan, terkait dengan 2.704 personel polisi bakal mengincar pengemudi mobil yang menggunakan ponsel dan merokok, yang disampaikan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Purwadi Arianto saat Apel Gelar Pasukan Keselamatan Jaya 2018 di lapangan Satlantas Mapolda Metro Jaya, Kebayoranbaru, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018), Komunitas Perokok Bijak sangat mendukung Penegakan aturan tertib berkendara.

 

Bahkan, menurut dia, Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan merokok dan mendengarkan musik (pakai headset) sambil berkendara berpotensi mengurangi konsentrasi dalam berkendara. Kurangnya konsentrasi pengemudi dalam berkendara ini menjadi salah satu faktor kecelakaan yang sering dijumpai polisi.

 

“Pihak kepolisian harus profesional dong. Kami mengajukan Surat Terbuka atas rencana itu,” ujar Suryokoco, di Jakarta, Jumat (02/03/2018).

 

Dia menjelaskan, dari pemberitaan media massa, Budiyanto mengatakan merokok menjadi salah satu pelanggaran dalam berlalu lintas sesuai dengan Pasal 106 ayat (1) UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pelanggaran atas pasal tersebut bisa dipidana 3 bulan penjara atau denda maksimal Rp 750 ribu, Kami akhirnya harus belajar Perundang Undangan.

 

UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 106 (1) berbunyi Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. Yang kemudian ditambah penjelasan Yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan

 

“Pada prinsipnya, kami sangat mendukung kerja Polisi sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Dalam hal mendukung kerja mewujudkan Polri yang profesional dan mandiri, maka kami sampaikan apa itu Profesional,” ujar Suryokoco.

 

Menurut Suryokoco, untuk menjadi seorang yang profesional setidaknya harus memiliki minimal 5 ciri, pertama, memiliki kemampuan dan pengetahuan yang tinggi, kedua, memiliki kode etik, tiga, memiliki tanggung jawab profesi serta integritas yang tinggi, empat, memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat dan kelima, memiliki kemampuan yang baik dalam perencanaan program kerja.

 

“Dimana Profesionalitas seorang Polisi ketika dia melakukan tindakan yang bertentangan atau tidak diatur dalam peraturan perundangan ?. Tidak ada satu katapun dalam tubuh pasal 106 dan penjelasannya yang menyebut kata rokok, mengapa wakapolda menyebutkan tentang Merokok mengganggu konsentrasi,” tutur Suryokoco.

 

Dikatakan dia, kalau Wakapolda berhak menterjemahkan sendiri pasal dalam UU, apakah ini sebuah profesionalitas?

 

“Karena bisa saja berkendara bersama pacar, makan atau minum sambil mengemudi adakan dimasukkan kategori mengurangi konsntrasi dan bisa ditindak baik didenda atau dipenjara,” ujar Suryokoco.

 

Dia pun mempertanyakan, apakah etis menterjemahkan UU yang sudah sangat jelas dan tegas dengan semaunya sendiri? Dimana tanggungjawab profesi dan integritas seorang polisi yang  bertugas penjaga keamanan, ketertiban dan penegakan hukum, ketika hukum tidak ditegakkan berdasarkan apa yang ada tetapi diterjemahkan sesuka hati.

 

“Polisi sedang mengabdi pada masyarakat banyak atau sedang mengabdi pada sekelompok orang yang anti rokok? Sungguh banyak pertanyaan yang kemudian timbul atas rencana  perlakukan yang tidak etis,  tidak elok dan tidak mendasar pada peraturan yang da terhadapap kami para perokok,” ujarnya..

 

Karena itu, di dalam Surat Terbukanya, Suryokoco meminta kepada Presiden Jokowi, Para anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Kapolri  Jenderal Pol Tito Karnavian dan Kapolda Metro Jaya Idham Azis untuk meninjau kembali kebijakan itu.

 

“Mohon ditinjau kembali rencana penindakan terhadap pengemudi dan pengendara kendaraan bermotor yang kedapatan merokok saat mengemudi dan berkendara,” pungkas Suryokoco.(JR)

 

 

Berikut Surat Terbuka Komunitas Perokok Bijak

 

Surat Terbuka

 

Kepada

Wakapolda Metro Jaya

 

Tembusan :

Presiden Republik Indonesia

Komisi Kepolisian Nasional

Kepala Kepolisian Republik Indonesia

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya

 

 

Dengan Hormat.

 

Terkait dengan 2.704 personel polisi bakal mengincar pengemudi mobil yang menggunakan ponsel dan merokok, yang disampaikan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Purwadi Arianto saat Apel Gelar Pasukan Keselamatan Jaya 2018 di lapangan Satlantas Mapolda Metro Jaya, Kebayoranbaru, Jakarta Selatan, Kamis (1/3/2018), Kami Komunitas Perokok Bijak sangat mendukung Penegakan aturan tertib berkendara.

 

Saat Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto mengatakan merokok dan mendengarkan musik (pakai headset) sambil berkendara berpotensi mengurangi konsentrasi dalam berkendara. Kurangnya konsentrasi pengemudi dalam berkendara ini menjadi salah satu faktor kecelakaan yang sering dijumpai polisi.

 

“Hilang konsentrasi saat berkendara itu tidak hanya dalam kondisi mabuk, tetapi juga merokok dan mendengarkan musik pakai headset juga bisa mengurangi konsentrasi berkendara,” Katanya.

Saat kami baca dimedia (detik) Budiyanto mengatakan merokok menjadi salah satu pelanggaran dalam berlalu lintas sesuai dengan Pasal 106 ayat (1) UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pelanggaran atas pasal tersebut bisa dipidana 3 bulan penjara atau denda maksimal Rp 750 ribu, Kami akhirnya harus belajar Perundang Undangan.

 

UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 106 (1) berbunyi : Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. Yang kemudian ditambah penjelasan Yang dimaksud dengan ”penuh konsentrasi” adalah setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telepon atau menonton televisi atau video yang terpasang di Kendaraan, atau meminum minuman yang mengandung alkohol atau obat-obatan sehingga memengaruhi kemampuan dalam mengemudikan Kendaraan

 

*POLISI JANGAN TIDAK PROFESIONAL*

 

Kami sangat mendukung kerja Polisi sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Dalam hal mendukung kerja mewujudkan Polri yang profesional dan mandiri, maka kami sampaikan apa itu Profesinal.

 

Untuk menjadi seorang yang profesional setidaknya harus memiliki minimal 5 ciri berikut (1) Memiliki kemampuan dan pengetahuan yang tinggi (2) Memiliki kode etik, (3) Memiliki tanggung jawab profesi serta integritas yang tinggi, (4) Memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat (5) Memiliki kemampuan yang baik dalam perencanaan program kerja.

 

Dimana Profesionalitas seorang Polisi ketika dia melakukan tindakan yang bertentangan atau tidak diatur dalam peraturan perundangan ?. Tidak ada satu katapun dalam tubuh pasal 106 dan penjelasannya yang menyebut kata rokok, mengapa wakapolda menyebutkan tentang Merokok mengganggu konsentrasi.

 

Kalo Wakapolda berhak menterjemahkan sendiri pasal dalam UU, apakah ini sebuah profesionalitas ?. Karena bisa saja berkendara bersama pacar, makan atau minum sambil mengemudi adakan dimasukkan katagori mengurangi konsntrasi dan bisa ditindak baik didenda atau dipenjara.

 

Apakah Etis menterjemahkan UU yang sudah sangat jelas dan tegas dengan semaunya sendiri ? Dimana tanggungjawab profesi dan integritas seorang polisi yang  bertugas penjaga keamanan, ketertiban dan penegakan hukum, ketika hukum tidak ditegakkan berdasarkan apa yang ada tetapi diterjemahkan sesuka hati.  Polisi sedang mengabdi pada masyarakat banyak atau sedang mengabdi pada sekelompok orang yang anti rokok ? sungguh banyak pertanyaan yang kemudian timbul atas rencana  perlakukan yang tidak etis,  tidak elok dan tidak mendasar pada peraturan yang da terhadapap kami para perokok.

 

Bapak Presiden JOKOWI, Para anggota KOMPOLNAS, Bapak Kapolri  TITO KARNVIAN dan Kapolda Metro Jaya IDHAM AZIZ. *Mohon ditinjau kembali rencana penindakan terhadap pengemudi dan pengendara kendaraan bermotor yang kedapatan merokok* saat mengemudi dan berkendara.

 

Salam Hormat Untuk para pejabat

Rokok Bukan Narkoba,

Merokok adalah tindakan legal

 

Jakarta, 02 Maret 2018

Suryokoco Suryoputro

Ketua Komunitas Perokok Bijak

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*