Breaking News

Petugas Lalai, Ibu Sedang Hamil Tua bersama Janinnya Meninggal Dunia di RSUD Sidikalang

Petugas Lalai, Ibu Sedang Hamil Tua bersama Janinnya Meninggal Dunia di RSUD Sidikalang, Dairi.

Kasus meninggalnya seorang ibu hamil tua bersama janinnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, menyulut kemarahan warga.

Pengacara Rakyat Poltak Agustinus Sinaga menuntut Direktur RUSD Dairi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi segera diberikan sanksi tegas.

“Direktur RSUD Sidikalang dan Kepala Dinas Kesehatan harus bertanggungjawab,” ujar Poltak, Jumat (20/04/2018).

Meninggalnya Ibu berusia 38 tahun bernama Ramayana Sidauruk, yang sedang mengandung janin berusia sembilan bulan itu, lanjutnya, dikarenakan tidak adanya pelayanan yang memadai dari RSUD.

Menurut Poltak, kasus ini semakin membuktikan bahwa harapan masyarakat kembali pupus untuk memperoleh keadilan dan pelayanan kesehatan yang baik dari penyelenggara negara.

Eks Aktivis Forum Kota (Forkot) Jakarta ini pun mendesak aparat penegak hukum segera menjerat Direktur RSUD Dairi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi dengan Pasal 190 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Kesehatan.

“Rumah Sakit yang seharusnya menjadi harapan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan sudah diwajibkan memberikan pelayanan bagi penyelamatan nyawa pasien,” tutur Poltak.

Lebih lanjut, Poltak yang juga putra asli Dairi itu menegaskan, Rumah Sakit dilarang menolak pasien dan dilarang meminta uang muka terlebih dahulu. Hal itu sangat tegas diatur di dalam Pasal 32 Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Ini artinya, rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan harus menangani pasien, terutama dalam keadaan darurat, serta wajib memberikan pelayanan untuk menyelamatkan nyawa pasien,” ucapnya.

Ditegaskan dia, kematian Ramayana Boru Sidauruk bersama janinnya yang berusia 9 bulan itu, terjadi akibat kelalaian petugas rumah sakit.

Poltak mengatakan, bidan dan perawat yang menangani pasien warga Desa Lumbantoruan, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi tersebut tidak berusaha memanggil dokter kandungan.

“Meski kondisi pasien sedang kritis dan butuh penanganan medis yang cepat,” katanya.

Poltak pun menuntut dan menagih sanksi tegas segera dijatuhkan kepada pihak RSUD Dairi, berupa pidana.

Diterangkan dia, di dalam UU Kesehatan, dengan tegas disebutkan, Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan/atau Tenaga Kesehatan yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang dalam keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) atau Pasal 85 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Dalam hal perbuatan tersebut, lanjutnya, mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian, Pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan/atau Tenaga Kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

“Artinya dalam permasalahan ini, Direktur RSUD Sidikalang terancam hukuman 10 tahun penjara,” ujarnya.

Untuk memastikan pemberian sanksi itu, Poltak pun segera melakukan langkah hukum kepada pihak RSUD Sidikalang Dairi dan Kepala Dinas Kesehatan setempat.

“Langkah hukum menjadi sangat penting untuk ditempuh, dengan tujuan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Dan, semua pihak harus sependapat untuk memanusiakan manusia,” pungkasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*