Breaking News

Petani Masih Tetap Dirundung Kemiskinan, Pemerintah Didesak Serius Berantas Mafia Pangan

Harga daging sapi mahal.

Pemerintah didesak untuk serius melakukan pemberantasan terhadap mafia pangan. Hingga kini, petani masih terus digerogoti oleh kemiskinan yang diakibatkan oleh praktik mafia yang menghisap sumber daya petani, khususnya hasil pangan.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menyampaikan, kenaikan harga pangan beberapa waktu terakhir tidak serta merta meningkatkan pendapatan petani. Hal itu dikarenakan harga pangan di tingkat petani tetap rendah. Diduga kuat kenaikan harga pangan hanya dinikmati para mafia pangan.

Menurut Henry, gejolak harga pangan saat ini tidak serta merta membuat petani untung. Menurutnya, keuntungan tersebut hanya dinikmati oleh para mafia pangan yang bisa mempermainkan harga di pasar. Petani produsen pangan, yang kebanyakan adalah petani gurem, menderita akibat harga yang asimetris dimana kenaikan harga eceran konsumen tidak dibarengi oleh kenaikan harga pembelian petani.

“Petani gurem juga merupakan konsumen pangan. Kenaikan harga pangan justru mempengaruhi kesejahteraan mereka. Pendapatan mereka dari penjualan hasil pertanian tidak sebanding dengan pemenuhan kebutuhan keluarganya,” kata dia di Jakarta, Rabu (03/02/2016).

Henry mencontohkan, kenaikan harga jagung ternyata tidak membuat pendapatan petani jagung meningkat. Apalagi selama ini pemerintah tidak memberdayakan petani jagung lebih memilih opsi impor.

“Pemerintah malah mengambil kebijakan impor jagung melalui Bulog. Ini artinya pemerintah tidak bisa mengendalikan rantai pasok, mengelola buffer stock, serta mengendalikan harga,” ujarnya.

Dia mengingatkan, untuk menstabilkan harga pangan secara nasional pemerintah perlu segera membentuk kelembagaan pangan atau badan pangan nasional sesuai Pasal 126 Undang Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan. Lembaga pangan nasional diharapkan bisa memastikan para petani mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga pangan. Dengan kata lain, pasokan dan pengendalian harga pangan harus mampu menaikkan daya beli petani.

“Dalam kondisi itu mandat Nawa Cita dan RPJMN 2015-2019 tentang Kedaulatan harus diwujudkan,” tandasnya.

Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Jawa Timur, Nurhadi Zaini, menerangkan keuntungan kenaikan harga pangan tidak dirasakan lansung oleh petani. Dijelaskannya, di pasaran saat ini harga beras medium sudah menyentuh Rp 8.900 sampai Rp 9.500 per kilogram. Namun beras Gabah Kering Panen (GKP) di Jawa Timur hanya dihargai Rp 3.400 hingga Rp. 3.500 per kilogram.

“Harga tersebut bahkan dibawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk GKG dalam Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2015 sebesar Rp 3.700 per kilogram,” katanya.

Tak hanya beras, kenaikan harga juga terjadi pada jagung. Akibat pasokan langka, harga jagung di dalam negeri saat ini mencapai Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kilogram. “Di Jawa timur, harga jagung sudah merangkak naik dari Rp 6.400 hingga Rp 6.600 per kilogram,” ujar Nurhadi.

Kenaikan jagung berimbas pada harga pakan ternak yang menyebabkan harga daging ayam negeri mengalami kenaikan harga sebesar Rp 10.000 per kilogram di akhir Januari 2016. Menurutnya, kondisi ini sangat memberatkan para peternak ayam.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, mengakui sistem tata niaga input dan produk pertanian sudah lama mengidap masalah kronis. Mafia, kartel, penyelundup dan lainnya selama ini dibiarkan bergentayangan. Mencermati kondisi tersebut, Mentan sudah bertindak menelikung mafia pangan.

Sudah lebih dari 30 kasus pengoplos dan pupuk ilegal ditangkap dan diproses hukum. Sebagian kartel daging sapi dan unggas yang selama ini mengendalikan pasokan dan harga sudah diproses di KPPU. Sementara, mafia impor pangan pun juga diredam dengan menerbitkan regulasi impor yang ketat dan terkontrol.(JR-1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*