Breaking News

Perlu Reorientasi Organisasi Buruh di Era Milenial

Perlu Reorientasi Organisasi Buruh di Era Milenial.

Reorientasi organisasi buruh atau pekerja di era milineal ini perlu segera dilakukan. Hal itu diingatkan Pembina Utama Komunitas Buruh Indonesia (KBI) Jacob Ereste, di Jakarta, Selasa (25/09/2018).

Reorientasi itu, lanjutnya perlu bila tak hendak ditinggal oleh pendukung serta anggota maupun pengurus yang semakin berat beban hudupnya. “Serta semakin rumit dan sulit tantangannya,” ujar Jacob Ereste.

Menurut Jacob, beratnya beban hidup yang harus diyanggung oleh  para aktivis buruh itu seiring dengan himpitan biaya hidup akibat dari menurunnya daya beli, serta terus meningkatnya harga kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar.

“Sehingga lesunya ekonomi di Indonesia jelas berpengaruh pada upaya dan usaha menata  organisasi buruh juga,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Federasi Bank, Keuangan dan Niaga Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (FBKN SBSI) ini mengatakan, adapun sulitnya usaha menata organisasi buruh di Indonesia sekarang jelas akibat bawaan dari kemajuan teknologi tinggi, seperti maraknya media sosial, pasar bebas dan froxy war dalam berbagai bentuk online.

“Hal itu ikut mendorong budaya serta keengganan hadir langsung dalam acara pertemuan, agar bisa membangun sifat dan sikap setia, solidaritas serta ikatan rasa kebersamaan bagi semua komponen pergerakan, utamanya untuk kaum buruh,” ujarnya.

Kemudian, sikap individual kaum pergerakan  pada umumnya — tidak cuma aktivis buruh — jelas sangat bertentangan dengan sifat dan sikap aktivis buruh yang ideal untuk melakukan  perlawanan dalam satu rasa kebersamaan, yang tidak dimiliki oleh para kaum kapitalis, yang menjadi musuh bersama bagi segenap elemen pendukung yang berjuang untuk dan demi rakyat banyak.

Celakanya, menurut Jacob, sifat dan sikap individualistik justru semakin berkecambah di kalangan aktivis pergerakan, termasuk di kalangan aktivis buruh Indonesia.

“Padahal nafas kehidupannya jelas harus mengedepankan kepedulian, solidaritas dan kebersamaan dalam setiap serta perbuatan demi dan untuk orang banyak. Tidak pernah hendak mengutamakan kepentintan dirinya sendiri,” ujarnya.

Dikatakan Jacob, fenomena ini jelas terlihat dalam segenap sepak terjang dan aktivitasnya yang dapat disebut sebagai kaum pergerakan itu.

“Semua nyaris berambisi sama selalu ingin berada di depan. Hampir tak ada yang hendak berada di belakang,” ucapnya.

Situasi inilah yang menyebabkan banyak lembaga swadaya masyarakat atau Ormas dan organisasi sejenisnya yang bertumbuhan seperti jamur di musim penghujan di Indonesia.

Jadi artinya, menjadi sangat langka diantaranya yang mau mengamalkan filsafahnya Ki Hajar Dewantoro, yaitu, Tut Wuri Handayani.

“Begitulah realitas politik, ekonomi dan budayanya kaum pergerakan kita yang tak hendak beranjak dari paradigma lama yang sudah tidak maching lagi dengan era milenial sekarang,” tutup Jacob.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*