Breaking News

Perkuat Nasionalisme Indonesia, Kampus UMT Bongkar Kembali Buku Sutasoma

Perkuat Nasionalisme Indonesia, Kampus UMT Bongkar Kembali Buku Sutasoma.

Buku Sutasoma kembali dibuka di kampus Universitas Mpu Tantular (UMT) guna menguatkan kembali Nasionalisme Indonesia dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

 

Hal itu terungkap dalam Seminar Nasional dengan Tema ‘Mengaktualisasikan Kembali Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Jatidiri Bangsa’, yang digelar di Kampus Universitas Mpu Tantular (UMT), Jalan Cipinang Besar 2, Jakarta Timur.

 

Ketua Yayasan Budi Murni Jakarta–yang menaungi Universitas Mpu Tantular, Budi P Sinambela,  mengulas kembali kisah munculnya kata Bhinneka Tunggal Ika pertama kali di kitab Sutasoma.

 

Diungkapkan Budi, nama besar Mpu Tantular pula yang menjadi inspirasi pendirian Universitas Mpu Tantular pada tahun 1984, yang digawangi Prof. DR. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT waktu itu) Tarnama Sinambela Kusumonagoro, bersama partnernya Dr. M.O Tambunan, Jasudin Panjaitan dan beberapa lainnya.

 

Dikatakan Budi, semboyan Bhineka Tunggal Ika tersebut dapat ditemukan dalam kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad XIV pada masa Kerajaan Majapahit. Didalam kitab sutasoma tersebut Mpu Tantular menuliskan kalimat “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”.

 

“Yang berarti, bahwa agama Buddha dan Siwa atau Hindu, pada waktu itu, merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina di dalam Buddha dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua,” tutur Budi.

 

Mengupas lebih jauh mengenai Nasionalisme dan Bhinneka Tunggal Ika, narasumber yang diundang adalah Prof Dr Yudi Latif yakni Ketua Unit Kerja Presiden, Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila, dan Yenni Wahid, sebagai Aktivis Kebhinnekaan/ Direktur Wahid Institute.

 

Acara Seminar Nasional diawali upacara Nasional dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan hening cipta dan pembacaan Teks Pancasila oleh Dekan Fakultas Maritim, Alfais Amin. Selanjutnya, Ketua Panitia, Dr. Rr. Dijan Widijowati, menyampaikan laporannya, dilanjutkan sambutan Rektor Universitas Mpu Tantular, Dr. Ir. Mangasi Panjaitan.

 

Masuk sesi seminar, moderator Bambang Suroso, mengundang tampil Dr Anas Saidi yakni Deputi I Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden- Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) sebagai pengganti narasumber Prof Dr Yudi Latif. Sedangkan Yenni Wahid, digantikan oleh Dr Ngatawi Al-Zastrouw, Sosiolog dan Budayawan NU dan Dosen Pasca Sarjana IAIN Yogyakarta, yang juga dulu dikenal sebagai jurubicara pribadi Alm. Presiden Gus Dur.

 

Dalam paparannya, Anas Saidi mengatakan, enam bulan terakhir berkembang politik primordialisme, yang bisa menimbulkan perpecahan.

 

“Sebab mencoba-coba mengganti ideologi, itu sudah tergolong subversi ideologi. Sebab Indonesia, bukan negara agama,” ujarnya.

 

Sebab itu menurut dia, siapapun yang ingin menentang ideologi Negara, patut diambil tindakan keras. Seperti salah satunya ormas HTI, yang tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

 

Sementara itu, Zastrouw mengatakan, sejak dulu, sejak Nusantara ada, sudah memiliki kodrat keberagaman.

 

“Beragam suku, agama, ras, dengan segala latar belakangnya. Oleh sebab itu, siapapun harus menerimanya. Tidak bisa yang satu menindas yang lain, yang satu menyakiti lainnya,” bebernya.

 

Perihal Universitas Mpu Tantular ingin menjadikan kampus Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pusat Studi Kajian Kebhinnekaan, Zastrow sangat mendukung.

 

“Saya sangat mendukung, apabila Universitas Mpu Tantular ingin mendeklarasikan kampus ini sebagai Kampus Bhinneka Tunggal Ika, dan membuat Pusat Studi Kebhinnekaan. Namun harus serius mengkaji kitab Sutasoma yang berjilid-jilid itu,” tandasnya.

 

Pemaparan kedua narasumber dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Para mahasiswa cukup antusias menanyakan berbagai hal yang dijelaskan.

 

Usai sesi seminar, acara dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Kampus Bhinneka Tunggal Ika-Universitas Mpu Tantular, yang dibacakan oleh Rektor, Mangasi Panjaitan, dan pemukulan gong oleh Ketua Yayasan, Budi P. Sinambela diatas panggung.

 

Ketika gong berbunyi ketiga kali, dalam gerakan cepat, beberapa mahasiswa membentangkan spanduk ‘Kampus Bhinneka Tunggal Ika-Universitas Mpu Tantular’ disentak bunyi party poppers (kertas tembak selebration) keatas. Disambut langsung lagu ‘Kebyar-kebyar’ oleh Danny PH Siagian, SE, MM, Sekretaris Panitia.

 

Suasana seminar tampak semarak dengan diikuti sekitar 200-an peserta. Diantara peserta yang hadir, tampak Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, Guru Besar Ilmu Manajemen, Warek IV Ubhara Jakarta, Diah Ayu Permatasari, Monang Sitorus (mantan Bupati Tobasa), jajaran Yayasan Budi Murni Jakarta, dan jajaran Universitas Mpu Tantular, yakni BPH, Rektorat, Dekanat, Struktural, para mahasiswa, serta dari unsur sekolah SMA wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, ormas luar kampus, tokoh masyarakat, tokoh agama, undangan dari kampus di Jakarta dan Bekasi, dan undangan dari unsur lainnya.

 

Setelah itu, penyerahan plakat kepada pembicara oleh Bendahara Yayasan, Dewi Christina Sitorus dan Rektor. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Wakil Rektor III, Suyitno.

 

Diketahui, Universitas Mpu Tantular, Jakarta berdiri tahun 1984. Hingga kini, Kampus Bhinneka Tunggal Ika ini memiliki 7 (tujuh) fakultas yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Fakultas Maritim, Fakultas Teknologi dan Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Ilmu Konunikasi, serta Program Pascasarjana (Prodi Manajemen dan Ilmu Hukum).(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*