Breaking News

Perjuangkan Nasib, Petani Patmi Meninggal Dunia Pada Saat Aksi Pasung Dengan Menyemen Kaki di Depan Istana Negara

Perjuangkan Nasib, Petani Patmi Meninggal Dunia Pada Saat Aksi Pasung Semen Kaki di Depan Istana Negara.

Aksi ‘Dipasung Semen’ jilid 2 yang berlansung sejak Senin (13/3) lalu belum mencapai hasil yang diharapkan. Meski sudah bertemu dengan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Teten Masduki, tuntutan para petani asal Pegunungan Kendeng tidak juga dipenuhi. Di tengah perjuangan ini, pada Selasa (21/3) dini hari seorang petani, Patmi (48), yang ikut mengecor kaki di depan Istana Negara meninggal.

 

Ketua bidang advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, menuturkan pada Senin sore (20/3), perwakilan petani Kendeng diundang Kepala KSP Teten Masduki untuk berdialog. Mereka menyatakan menolak skema penyelesaian konflik yang hendak digantungkan pada penerbitan hasil laporan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang tertutup.

 

“Pada Senin malam, diputuskan untuk meneruskan aksi tetapi dengan mengubah cara. Sebagian besar warga akan pulang ke kampung halaman, sementara aksi akan terus dilakukan oleh 9 orang. (Alm) Bu Patmi adalah salah satu yang akan pulang sehingga cor kakinya dibuka semalam, dan persiapan untuk pulang di pagi hari,” katanya di Gedung YLBHI, Jalan Diponegoro, Jakarta, Selasa (21/03/2017).

 

Menurut Isnur, Patmi sebelumnya dinyatakan sehat dan dalam keadaan baik oleh dokter. Namun sekitar pukul 02.30 dini hari, Patmi mengeluhbadannya tidak nyaman, lalu mengalami kejang-kejang dan muntah. Dokter yang sedang mendampingi segera membawa Patmi ke Rumah Sakit St. Carolus Salemba. Namun menjelang sampai di rumah sakit, dokter mendapatkan bahwa

Patmi meninggal dunia dengan dugaan serangan jantung.

 

“Jenazah almarhumah Bu Patmi dipulangkan ke Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati untuk dimakamkan di desanya. Dulur-dulur kendeng juga langsung pulang menuju Kendeng,” katanya.

 

Pegiat HAM, Haris Azhar, yang ikut mendamping petani Kendeng ke Kantor KSP mengaku para petani sudah begitu baik dan rajin dalam menyampaikan keberatan, argumentasi, dan aspirasi masyarakat yang menolak pembangunan pabrik semen. “Ini masyarakat sudah jalan kaki untuk mencari putusan Mahkamah Agung bahwa ijin lingkungan pabrik semen dibatalkan, mereka juga sudah datang ke Kantor Gubernur Jawa Tengah, mereka kurang apalagi?” katanya.

 

Janji Presiden Jokowi agar dilakukan KLHS ternyata dibareng dengan perilaku buruk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang mengeluarkan ijin baru bagi pembangunan pabrik semen. Haris menduga ada konspirasi untuk mendukung pembangunan pabrik semen.

 

“Kita sudah sampaikan hal ini ke Teten Masduki tapi yang bersangkutan tidak berani merespon apapun soal Gubernur Ganjar Pranowo, maka dari itu petani Kendeng menyatakan bahwa aksi menolak pabrik semen akan diteruskan,” sebutnya.

 

Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika, mengatakan sikap pemerintah ini sangat mengecewakan para warga yang selama ini memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup. “Ada kontradiksi kebijakan, Jokowi janjikan reforma agraria, tapi kasus penolakan pabrik semen ini tidak direspon,” katanya.

 

Ditegaskannya, masyarakat sipil sudah geram kepada Jokowi yang tidak tegas soal kasus pembangunan pabrik semen. Dewi juga pesimis KLHS yang dijanjikan Jokowi bakal mampu menghentikan operasi pembangunan pabrik semen. “Meski berduka kita akan lanjutkan perjuangan ini,” imbuhnya.

 

Ketua Manajemen Pengetahuan YLBHI, Siti Rakhma, menuturkan pihaknya kecewa dengan pelanggaran hukum yang dilakukan Gubernur Ganjar Pranowo dengan menerbitkan ijin lingkungan pasca kemenangan petani Kendeng di MA. “Ijin lama dibatalkan MA, belakangan dia malah mengeluarkan ijin lingkungan baru, ini sudah pelanggaran hukum,” ujarnya.

 

Dia mengungkapkan, dialog petani Kendeng dan KSP tidak ada hasilnya. “KSP malah bilang masih menunggu arahan presiden, bahkan KSP tidak melakukan apapun meski Ganjar Pranowo mengeluarkan ijin baru menggantikan ijin lama yang dibatalkan MA,” tandasnya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*