Breaking News

Peringati Ulang Hari Ulang Tahun Ke 44, Persatuan Perawat Nasional Indonesia Berharap Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan

Peringati Ulang Hari Ulang Tahun Ke 44, Persatuan Perawat Nasional Indonesia Berharap Pemerintah Wujudkan Kesejahteraan.

Dalam peringatan ulang tahunnya yang ke 44 pada 17 Maret lalu, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan perawat. Jika dibandingkan dengan dokter dan bidan, kesejahteraan perawat di Indonesia sangat memprihatikan.

 

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) PPNI, Harif Fadhillah, mengatakan perawat yang jumlahnya hampir mencapai 1 juta orang adalah profesi yang punya andil besar dalam sistem layanan kesehatan di Tanah Air. Mereka tidak ada bedanya dengan dokter, bidan dan tenaga kesehatan lainnya yang bertugas memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.

 

Meski demikian, nasib para perawat belum seberuntung tenaga kesehatan lainnya. Misalnya, status sebagai pegawai negeri sipil (PNS) belum jelas. Bahkan masih ada perawat yang hingga saat ini masih menjadi tenaga sukarela, bahkan dengan penghasilan yang tidak layak.

 

“Di daerah banyak sekali perawat di puskesmas, hampir 50 persen hanya jadi tenaga sukarela. Padahal mereka melayani masyarakat di fasilitas pemerintah, tapi belum diperhatikan nasibnya,” katanya dalam keterangan persnya, Minggu (18/03/2018).

 

Dalam peringatan hari ulang tahunnya yang ke 44, PPNI menyatakan akan memperjuangkan kesejahteraan perawat.

 

Selain itu, Harif mengungkapkan, perawat kerap mengalami diskriminasi dalam kebijakan kesehatan di Indonesia. Misalnya di rumah sakit pemerintah, seorang dokter dan bidan mudah diangkat menjadi PNS, sedangkan perawat kerap diabaikan.

 

“Padahal mereka sama-sama kerja dalam satu ruangan, tapi yang duanya diangkat jadi PNS, sedangkan perawat dibiarkan. Di rumah sakit, perawat dianggap seperti tenaga biasa, seperti administrasi,” ujarnya.

 

Dia menambahkan, PPNI terus berupaya meningkatkan profesionalisme perawat di Indonesia agar diterima masyarakat. Mulai dari sistem sertifikasi perawat, membuat pedoman etika dan moral perawat dalam melaksanakan tugas. PPNI juga mengikuti perkembangan standar keperawatan dunia, antara lain dengan merevisi standar kompetensi perawat Indonesia mengikuti standar ASEAN. Di dalam berbagai ilmu keperawatan juga mengacu pada standar global, seperti perawatan luka, perawatan anak dan perawatan di Intensif Care Unit (ICU).

 

Ketua DPP PPNI Bidang Kerjasama Antar Lembaga Dalam Negeri Toto Sudianto mengaku miris dengan penghasilan miris profesi perawat. Selama 44 tahun PPNI terus berjuang agar gaji bisa di atas upah minimum provinsi (UMP). Sebab, idealnya gaji perawat 3 kali UMP.

 

Namun kenyataannya, gaji perawat di Indonesia sangat rendah dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina.

 

“Kami sudah menyurati daerah-daerah agar para perawat diberikan gaji di atas UMP,” ujarnya.

 

Selain itu PPNI juga berjuang agar rumah sakit yang tidak mau membayar gaji perawat diatas UMP tidak diberikan izin untuk beroperasi. Apalagi sekarang perawat juga menjadi ujung tombak pelayanan jaminan kesehatan nasional (JKN).(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*