Breaking News

Per Tahun Sebanyak 1,7 Juta Ton Beras Hilang, Ekspansi Tambang Batubara Ancam Kedaulatan Pangan

Per Tahun Sebanyak 1,7 Juta Ton Beras Hilang, Ekspansi Tambang Batubara Ancam Kedaulatan Pangan.

Ekspansi pertambangan batubara di Indonesia terbukti mengancam target pemerintah dalam mencapai kedaulatan pangan. Ekspansi tersebut menjadi salah satu penyebab alih fungsi lahan pertanian hingga rusaknya siklus air dan sistem irigasi. Dalam laporan yang disusun Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) bersama Waterkeeper Alliance diperkirakan 1,7 juta ton beras di Indonesia hilang setiap tahunnya akibat pertambangan batu bara.

 

Koodinator nasional JATAM, Merah Johansyah menyebutkan sekitar 4 juta hektare lahan pertanian di Indonesia telah diubah menjadi tambang batubara. Situasi ini berdampak pada rusaknya tanah dan kualitas airuntuk kepentingan pertanian dan perikanan.

 

“Penambangan bebas merusak potensi produksi pangan suatu lahan yang didudukinya. Hal tersebut

bisa membuat darurat pangan,” ujarnya di Jakarta.

 

Pihaknya memperkirakan, Indonesia akan kehilangan 7,7 juta ton beras per tahun akibat eksplorasi tambang yang dilakukan di atas lahan pertanian yang luasnya mencapai 6,5 juta hektar. “Kita akan kehilangan 7,7 juta ton padi. Dan angka itu enam kali lipat dari jumlah impor beras kita, kalau dikatakan impor beras kita 1,2 sampai 1,6 (juta ton) per tahun,” ungkapnya.

 

JATAM sendiri menuntut agar pemerintah dapat bersikap tegas dan memberikan sanksi pada perusahaan tambang batu bara yang tidak melakukan reklamasi pada bekas galian tambang. Selama ini banyak perusahaan tambang batubara tidak patuh pada peraturan untuk melakukan rehabilitasi lahan pasca tambang. Bahkan banyak lahan tambang ditinggalkan begitu saja hingga membuat sumber air menjadi rusak dan tidak dapat digunakan untuk produksi pangan.

 

Merah menyebutkan, akibat pemerintah tidak mengatur sanksi pidana untuk perusahaan yang tidak menutup lubang bekas tambang, di Kalimantan Timur saja terdapat 2.800 lubang bekas tambang yang tidak ditutup atau direklamasi. “Ada yang luasnya sekitar 1.300 hektar. Itu seluas bandara Soekarno-Hatta,” katanya.

 

Selain tak adanya sanksi, penutupan lubang juga sering tak dilakukan dengan alasan ongkos yang dikeluarkan cukup besar. Akibatnya, marak terjadi korupsi dalam kasus reklamasi pasca tambang tersebut.

 

Reklamasi malah dialihkan menjadi pembangunan sarana-prasarana warga di lokasi dekat pertambangan dengan bekerjasama dengan pejabat daerah setempat.

 

Juru Kampanye Energi Internasional dari Waterkeeper Alliance, Paul Winn, menerangkan air asam dari bekas galian tambang batu bara menyebabkan kontaminasi sumber air bagi perikanan dan pertanian sehingga membunuh ikan dan menghancurkan panen padi. “Selain itu, di Indonesia belum ada peraturan mengenai ambang batas aman logam berat untuk melindungi lahan pertanian dan perikanan,” ujarnya.

 

Paul memaparkan, sebanyak 15 dari 17 sampel air di situs-situs tambang batu bara Kalimantan Timur menunjukkan konsentrasi logam berat yang tingkat keasamanannya melebihi ambang batas aman untuk pertanian dan air tanah. Petani dan peternak ikan di lokasi tersebut mengatakan terjadi penurunan hingga 50 persen pada lahan pertanian dan 80 persen pada produksi ikan mereka.

 

Uji sampel yang dilakukan di sebuah laboratorium di Bogor menunjukkan air di dalam lubang tambang dan sekitarnya mengandung konsentrasi alumunium, besi, dan mangan. Pihaknya mengusulkan agar pemerintah membuat regulasi tentang standar-standar kualitas air pasca tambang yang dapat digunakan bagi sistem irigasi.

 

Selain itu pemerintah harus  memberikan sanksi yang berat bagi perusahaan yang tidak menutup lubang bekas tambang, serta mengharuskan para pengusaha melakukan rehabilitasi lingkungan agar bisa menopang produksi pangan. Terakhir, pemerintah harus bertindak tegas dengan mencabut izin konsesi eksplorasi batubara bagi perusahaan yang mengancam produktivitas pangan di Indonesia.

 

Pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, menambahakan kegiatan penambangan batu bara dapat meracuni hingga menyebabkan kematian dini pada manusia. “Air minum, hasil produksi pangan, juga hewan ternak yang tercemar logam berat dari tambang jika terus dikonsumsi dalam jangka panjang bisa menyebabkan penyakit kronis seperti kanker,” katanya. Selain itu, partikel-partikel halus dari pembakaran batu bara juga bisa masuk ke dalam hidung, paru-paru, jantung, bahkan ke otak, dan merusak syaraf.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*