Breaking News

Penyusupan Tenaga Kerja Ilegal Asal Cina, Kado Buruk Hari Buruh. Usut!

Pekerja Asing Ilegal asal Cina juga diduga sedang melakukan aktivitas Spionase di Lanud Halim Perdanakusuma

Sudah Ilegal, Pekerja Asing asal Cina juga diduga sedang melakukan aktivitas Spionase di Lanud Halim Perdanakusuma.

Tertangkapnya pekerja asal Cina yang masuk secara ilegal ke wilayah Indonesia, adalah kado buruk bagi buruh Indonesia, terutama dalam Peringatan May Day atau Hari Buruh Sedunia yang jatuh apda 1 Mei ini.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu (FSP BUMN Bersatu) Arief Poyuono menyampaikan, dengan tertangkapnya pekerja ilegal asing dari Cina di Kawasan Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma pada Selasa (26/04/2016) lalu, membuktikan adanya upaya pembiaran yang sistematis untuk mematikan pekerja Indonesia.

“Ini adalah kado terburuk bagi buruh Indonesia di May Day kali ini. Sudah sejak awal kita peringatkan, pemerintah jangan lebay, jangan anggap sepele, sebab masuknya Tenaga Kerja Asing atau TKA ilegal ke Indonesia, terutama dari Cina, sudah terjadi sejak lama. Kok malah tak digubris,” ujar Arief dalam keterangan pers, di Jakarta, Sabtu (30/04/2016).

Diungkapkan Arief, beruntung petugas Lanud mendeteksi dan menangkap pekerja ilegal asa Cina itu di Indonesia. Namun, perlu diketahui dan ditelusuri, bahwa secara nyata, para pekerja asing ilegal pun kini sudah banyak mencaplok lapangan kerja Indonesia di pabrik-pabrik, di bidang-bidang kerja lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Serbuan masuknya tenaga kerja asing ilegal, terutama dari negeri Cina itu nyata, bukan isapan jempol belaka loh. Sudah puluhan ribu masuk tanpa tindakan pemerintah. Seperti yang terjadi di Riau,” ujar Arief.

Hingga ke pelosok atau daerah-daerah tanah air, lanjut Arief, pekerja asing ilegal merajalela. Namun, tidak ada pengawasan atau upaya serius dari pemerintah untuk menangkap dan mengusir mereka.

“Para pekerja asing illegal itu masuk ke Indonesia pasti karena ada orang-orang di Indonesia yang bermain dan menyeludupkan mereka. Lagi pula, para petugas Imigrasi Indonesia dan Dinas Pengawas Ketenagakerjaan pun tidak berfungsi baik menjegal mereka,” ungkap Arief.

Untuk menghindari para petugas, lanjut dia, berbagai modus dilakukan para pekerja asing ilegal dan orang-orang penghubungnya di Indonesia. “Mereka kucing-kucingan. Ini sangat menjengkelkan. Kok pemerintah kita tidak peduli sampai kini. Benar-benar kado buruk di hari Buruh Internasional ini,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean menyampaikan, kasus penyusupan tenaga kerja Cina yang tanpa dokumen resmi telah melakukan kegiatan ilegal di daerah Halim Perdanakusuma sangat mengejutkan.

Selain karena Kawasan lanud Halim Perdanakusuma adalah kawasan ketat karena merupakan daerah kekuasaan militer TNI Angkatan Udara, semakin mencurigakan dengan adanya bantahan yang dikeluarkan oleh Manajemen PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang menyatakan tidak ada kegiatan terkait Proyek Kereta Api Cepat Jakarta Bandung yang sedang mereka lakukan di Kawasan Halim Perdanakusuma.

“Sangat aneh dan sangat mencurigakan. Apalagi, belum adanya ijin resmi dari instansi TNI Angkatan Udara terkait penggunaan Lahan di Halim Perdanakusuma itu untuk urusan proyek Kereta Api Cepat Jakarta Bandung. Tetapi kok persoalan ini dianggap sepele oleh pemerintah,” ujar Ferdinand.

Bahkan, lanjut dia, pernyataan Menteri BUMN Rini Soemarno yang menurut Ferdinand sangat menyepelekan persoalan ini sangat tidak layak dilakukan oleh seorang menteri.

“Ini Mentri BUMN terlalu menyepelekan masalah dan menganggap kedaulatan negara yang dicabik-cabik tenaga kerja Cina tersebut adalah hal biasa. Rini salah, dia sebagai mentri harusnya turut serta melindungi segenap tumpah darah Indonesia, bukan malah menyepelekan masalah yang ada. Patut dicurigai aktivitas tersebut adalah aktivitas mata-mata atau spionase, karena tidak ada dokumen resmi apapun yang dipegang oleh para tenaga kerja Cina yang ditangkap tersebut,” papar Ferdinand.

Dia pun meminta pemerintah untuk segera nota protes keras kepada Cina atas aksi warga negaranya di Indonesia. “Ini tidak bisa didiamkan, dan pemerintah tidak boleh asal mendeportasi para pelaku tanpa proses peradilan. Mereka harus disidik atas pelanggaran keimigrasian dan pasal pidana penyusupan memasuki areal tertutup tanpa ijin,” ujar Ferdinand.

Bahkan, lanjut dia, jika perlu, para pekerja asing asal Cina yang masuk secara ilegal itu harus ditahan dan diadili, karena melakukan aksi mata-mata di wilayah TNI AU.

“Ini bukan masalah sepele, jadi kami minta Rini Soenarno jangan asal bicara. Kami juga mempertanyakan keberadaan selebritis BIN (Badan Inetelijen Negara) dimana? Mengapa BIN tidak tau ada kegiatan ilegal seperti ini? Apa para selebritis intelijen kita sedang asik menikmati tangkapannya Samadikun Hartono hingga lupa tupoksinya? Kami desak kepada semua pihak elit negara ini agar jangan menggadaikan republik ini demi ambisi sesat pemerintah ini,” pungkas Ferdinand.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengaku belum mengetahui adanya warga Cina yang ditahan pihak Lapangan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, pada Selasa 26 April 2016. Warga Cina itu dipekerjakan di proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

“Saya belum dapat kabar. Saya akan cari tahu. Belum dapat kabar tuh,” kata Rini singkat, saat ditemui di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu 27 April 2016.

Sebelumnya, lima warga asal China dan dua warga negara Indonesia diamankan petugas pengamanan Lanud Halim Perdanakusuma. Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma Wieko mengatakan, mereka ditangkap, lantaran tidak mengantungi dokumen izin.

“Mereka masuknya tidak izin dari Lanud,” kata Wieko, saat dikonfirmasi wartawan pada Rabu 27 April 2016.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, lima WNA tersebut atas nama Guo Lin Zhong (26), Wang Jun (29), Zhu Huafeng (47), Cheng Qianwu (48), dan Xie Wuming (36). Sedangkan dua WNI, dengan identitas Yohanes Adi (35) dan Ikfan Kusnadi (71).

Mereka diamankan, karena melakukan aktivitas ilegal, yaitu melakukan pengeboran tanah di Cipinang Melayu, di sekitar jalan Tol Jakarta-Cikampek yang berlokasi tepat di belakang Batalyon 461 Paskhas koordinat 6º 15’ 12” LS dan 106° 54′ 4”.

WNA asal China tersebut, merupakan karyawan PT Geo Central Mining (PT GCM) yang beralamat di Pantai Indah Kapuk, Bukit Golf Jakarta Utara, yang merupakan mitra, atau rekanan dari PT Wijaya Karya Tbk (Wika), selaku pelaksana proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang membangun kereta cepat. Sementara itu, dua WNI tersebut merupakan karyawan lepas PT GCM.

“WNA China tersebut tidak memiliki clearance (perizinan) dari TNI AU dan saat kejadian mereka tidak dilengkapi identitas,” katanya.

Dari hasil interogasi, diketahui bahwa aktivitas pengeboran tanah tersebut, telah berlangsung sejak 22 April 2016, dengan tujuan mendapatkan sampel komposisi tanah yang akan digunakan dalam pembangunan beton penyangga rel proyek KCIC.

Awalnya, tujuh orang tersebut masuk ke wilayah Lanud Halim melalui jalan Tol Jakarta-Cikampek, kemudian menerobos pagar batas tanah, sehingga tidak diketahui oleh personel Lanud Halim.

Mereka mengaku tidak mengetahui bahwa tanah tersebut berada di Kawasan Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, karena letaknya yang berbatasan dengan jalan tol.

Dari peristiwa tersebut, diamankan alat pengeboran yang terdiri dari pipa besi sebanyak 14 buah, pipa peralon tiga buah, peralatan pengeboran satu unit, selang dan kabel-kabel satu gulungan, mesin diesel satu unit, peralatan las satu unit dan jerigen berisi solar satu buah.

Pihak Manajemen PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) buru-buru membantah bahwa para pekerja itu adalah berurusan dengan proyek mereka.

Dalam siaran pers resmi yang diterima redaksi tertanggal 27 April 2016, Direktur Utama PT KCIC melalui Coorporate Communication-nya, Febrianto Arif Wibowo menyampaikan bahwa dalam rangka proses pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung, saat ini PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) tidak memerintahkan kegiatan apapun di wilayah Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Coorporate Communication PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Febrianto Arif Wibowo juga menekankan, untuk pekerjaan soil investigation di Wilayah Halim, PT KCIC melakukan komitmen kontrak dengan PT HEBEI, dan tidak memerintahkan PT HEBEI untuk melakukan kegiatan apapun di wilayah Halim.

Lebih lanjut, Febrianto Arief Wibowo mengatakan, KCIC telah bekerjasama dengan The Third Railway Survey and Design Institute Group Corporation (TSDI) yang akan mengontrol seluruh kegiatan yang terkait dengan penyiapan Design Engineering Kereta Cepat Jakarta Bandung.

“Jadi, yang dapat kami sampaikan sebagai pernyataan resmi Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (PT KCIC), Hanggoro Budi Wiryawan. Mohon agar penjelasan kami ini dapat dipublikasikan,” ujarnya.(JR-1)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*