Breaking News

Penyerobotan Tanah Warga Oleh PT PLN, Ahli Waris Pertegas Tidak Pernah Menjual

Penyerobotan Tanah Warga Oleh PT PLN, Ahli Waris Pertegas Tidak Pernah Menjual.

Penyerobotan tanah warga kembali terjadi. Penyerobotan yang diduga dilakukan PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) itu terjadi terhadap warga di Jalan Baru, Desa Segara Jaya, Kabupaten Bekasi.

 

Persoalan ini jelas dianggap sudah melanggar hukum. Selain tidak pernah menjual tanahnya, ahli waris warga pemilik tanah mengaku PT PLN (Persero) telah dengan sengaja merampas hak mereka.

 

Juru bicara ahli waris tanah Tjotjong, yakni Sulaiman mengatakan, tanah seluas 4 hektar itu selama ini belum pernah dijual belikan ke pihak lain. Baik itu Tjotjong yang sudah almarhum maupun keturunannya.

 

“Jadi ahli waris tidak pernah sama sekali menjual itu tanah ke PT PLN. Kalau pun terjadi besar kemungkinan PLN membayar ke pihak lain yang mengklaim itu tanah miliknya,” ujar Sulaiman ketika dikonfirmasi, ¬†Rabu (08/03/2017).

 

Sulaiman sangat menyesalkan tindakan PT PLN yang melakukan penyerobotan dengan menguasai tanah tersebut.

 

“Jika menguasai lahan orang tanpa kejelasan pastinya melanggar hukum. PT PLN selaku perusahaan milik negara harusnya memahami itu,” ucapnya.

 

Sulaiman meminta agar PT PLN segera menyelesaikan kewajibannya sebelum menguasai lahan itu. Dengan membayar uang ganti rugi sesuai harga tanah.

 

“Kami meminta agar PT PLN dapat mengganti rugi atas lahan yang saat ini telah dikuasai,” ujarnya.

 

Diketahui, kasus dugaan penyerobotan tanah warga oleh PLN telah masuk ke rana hukum. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) telah menggelar sidang sebanyak 12 kali.

 

Kasus yang telah berlangsung sekitar 5 bulan itu dengan pihak penggugat ahli waris tanah Tjotjong Bin Runah.

 

Pada sidang ke 12, PT PLN menghadirkan saksi yang merupakan mantan Sekretaris Desa Segara Jaya, Kabupaten Bekasi.

 

Dalam sidang tersebut, pihak ahli waris mempertanyakan keabsahan keterangan dari saksi dan barang bukti otentik dari PT PLN terkait perjualan tanah yang katanya dilakukan Tjotjong ke pihak PT PLN tahun 1959.

 

“Dijual tahun 1959 padahal Tjotjong meninggal tahun 1953. Jadi tidak benar, karena akte kematian ditunjukin. Lalu yang jual siapa dong?” ujar Sulaiman.(Richard)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*