Breaking News

Pengusutan Kasus Korupsi Bupati Minut Melempem, Masyarakat Minahasa Pertanyakan Kinerja Jaksa Agung

Pengusutan Kasus Korupsi Bupati Minut Melempem, Masyarakat Minahasa Pertanyakan Kinerja Jaksa Agung.

Masyarakat Minahasa Utara kembali mempertanyakan kinerja Jaksa Agung HM Prasetyo berserta jajarannya di daerah. Jaksa dianggap tidak profesional dalam mengusut perkara korupsi. Belum lagi adanya dugaan kepentingan partai politik dengan Bupati yang menyebabkan kinerja HM Prasetyo sebagai Jaksa Agung kian melempem.

Koordinator Aliansi Masyarakat Sulawesi Utara Anti Korupsi di Jakarta (AMSU-AKJ) Samuel Boseke menyampaikan, melempemnya pengusutan perkara korupsi oleh Jaksa, terutama dalam mengusut dugaan korupsi Bupati Minahasa Utara (Minut) Vonnie Anneke Panambunan diduga karena jaksa tidak profesional dan sarat permainan.

Menurut Samuel, meskipun sudah sangat jelas data dan bukti keterlibatan Bupati dalam kasus korupsi, Jaksa malah mengalihkan dan seolah tutup mata dengan semua bukti keterlibatannya.

“Ini menandakan kinerja Jaksa tidak profesional dan tidak berintegritas. Di persidangan kasus korupsi yang diduga melibatkan Bupati Minut Vonnie Anneka Panambunan, tak junjung digubris oleh Jaksa melalui penetapan status tersangka bupati Minut. Jaksa Agung makin melempem. Ada apa di balik semua sandiwara pengusutan kasus ini oleh jaksa?” ujar Samuel Boseke, dalam keterangan persnya, Rabu (18/04/2018).

Samuel pun mendesak Jaksa Agung HM Prasetyo segera menetapkan Bupati Minut sebagai tersangka. Selain di Berita Acara Pemeriksaan (BAP),  lanjut dia, dari keterangan saksi dan juga dakwaan yang sudah mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Manado, Bupati Minut Vonnie Anneke Panambunan harus bertanggung jawab atas korupsi pengadaan pemecah ombak.

“Jangan karena Bupati Minut pindah partai politik menjadi kader Partai Nasional Demokrat (Nasdem), sehingga Jaksa Agung HM Prasetyo yang juga kader partai yang sama, malah berkolaborasi untuk menutupi dan tidak menjadikan Bupati sebagai tersangka,” ujar Samuel.

Koordinator Gerakan Masyarakat Minahasa (Gema Minahasa) Reynold Mandagi menambahkan, kinerja jaksa di Sulawesi Utara, khususnya di Minut, sangat tidak profesional. Proses penyelidikan dan penyidikan kasus yang disebut menimbulkan kerugian negara hingga Rp 8,8 miliar itu pun bertele-tele dan sangat terkesan dipermainkan. Sejak dimulainya pengusutan pada tahun 2016, kasus ini terus menggantung.

“Bayangkan saja, sudah memasuki tahun ketiga pengusutan kasus ini, kok sampai sekarang tidak juga mampu menyentuh Bupati. Bahkan, sudah tiga kali terjadi pergantian Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara yang menangani perkara ini, juga tidak kunjung ada kemajuan berarti,” tutur Reynold.

Untuk memanggil dan memeriksa saksi kunci pun Jaksa tidak sanggup. Dijelaskan Reynold, bahkan dalam setiap persidangan, keterangan saksi kunci sangat dibutuhkan, namun kok Jaksa selalu berdalih sudah melakukan pemanggilan, tetapi tak pernah hadir.

Dua orang saksi utama, yakni Kombes Rio Permana dan Decky Lengkei, tidak kunjung bisa dihadirkan, meskipun Majelis Hakim Pengadilan sudah memerintahkan Jaksa untuk menghadirkan. Bahkan, anehnya nama saksi Decky Lengkei bisa tiba-tiba hilang dari BAP.

Ngakunya sudah dilakukan pemanggilan sebanyak tiga kali, kok enggak hadir-hadir. Harusnya dilakukan pemanggilan paksa dong. Kelihatan sekali Jaksa tidak profesional dan bermain menyelamatkan Bupati dan konco-konconya dalam kasus ini,” ujar Reynold.

Di persidangan, Ketua Majelis Hakim yang menyidangkan perkara ini di Pengadilan Negeri Manado, Vincentius Bahar sudah memerintahkan Jaksa segera menghadirkan Kombes Rio Permana dan Decky Lengkei di muka persidangan.

“Kita minta jaksa menghadirkan Rio Permana dan Decky, bagaimana pun caranya,” ujar Hakim Vincentius.

Jawaban dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bobby Ruswin atas perintah Hakim itu sangat enteng. Menurut JPU Bobby, pihaknya sudah melakukan pemanggilan sebanyak tiga kali.

“Kami sudah panggil tiga kali, tetapi belum ada konfirmasi,” ujar JPU Bobby.

Upaya penjemputan paksa pun belum dilakukan. Bobby beralasan harus mengikuti prosedur dulu.

“Kita lihat saja perkembangannya. Yang pasti, kami bertindak sesuai prosedur,” ujar Bobby.

Kepala Seksi Penerangan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara (Kasi Penkum) Yoni E Mallaka menyampaikan, pada Rabu 18 April 2018, penyidik Kejati Sulut melakukan pemeriksaan terhadap Bupati Minahasa Utara VAP alias  Vonnie Anneke Panambunan.

Bupati diperiksa dalam kapasitas sebagai saksi untuk tersangka JT alias Junjungan Tambunan, untuk perkara dugaan tindak pidana korupsi Proyek Pemecah Ombak/Penimbunan Pantai di Desa Likupang, pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa Utara Tahun 2016.

Disampaikan Yoni, Bupati Minut datang dalam pemeriksaan. Pemeriksaan dimulai Pukul 09.00 Wita sampai pukul 11.00 Wita.

“Ada sebanyak 30 pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan penahan ombak itu yang ditanyakan kepada Saksi yakni Bupati Minut,” ujar Yoni, Rabu (18/04/2018).

Menurut Yoni, Bupati Minut masih berstatus saksi juga untuk tersangka lainnya.

“Belum jadi tersangka. Sampai saat ini Bupati Minut dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka lain,” ujarnya.

Dia pun menjelaskan bahwa kasus pemecah ombak tidak ada masalah dan masih berjalan sesuai SOP yang ada di Kejaksaan.

Saat ini, lanjut dia, penyidikan dan proses penuntutan terhadap beberapa terdakwa sedang berjalan.

Terhadap tersangka Junjungan, sedang dalam pengumpulan alat bukti yaitu pemeriksaan saksi, pemeriksaan tersangka dan penyitaan barang bukti.

“Bila ada perkembangan penyidikan saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan. Untuk proses persidangan, bisa diikuti langsung di pengadilan Tipikor Manado. Penyidik bekerja secara profesional dan proporsional sehingga butuh waktu penyelesaiannya,” ujar Yoni.

Dia pun mengelak merespon pertanyaan adanya unsur politis dalam pengusutan keterlibatan Bupati Minut karena kini sudah menjadi kader Partai Nasdem, satu gerbong dengan partainya Surya Paloh dan Jaksa Agung HM Prasetyo.

“Begini, ya penyidik bekerja secara profesional dan proporsional sehingga butuh waktu penyelesaiannya untuk menggungkap keterlibatan seseorang. Itu saja,” ujar Yoni.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*