Breaking News

Pengguna Media Sosial Lebih Dari Dua Jam Sehari Dikategorikan Sakit Jiwa

Pengguna Media Sosial Lebih Dari Dua Jam Sehari Dikategorikan Sakit Jiwa.

Masyarakat pengguna media sosial aktif diminta mengecek kondisi psikologisnya. Sebab, ternyata pengguna media sosial lebih dari dua jam dalam satu hari dikategorikan sebagai manusia yang mengalami sakit kejiwaan atau sakit mental.

Hal itu diungkapkan Praktisi Media Maman Suherman alias Kang Maman, dalam pembicara dalam Talk Show bertajuk Ngobras (Ngobrol Asyik) Perempuan dengan tema ‘Perempuan, Budaya, Digitalisasi dan Lingkungan Hidup’ yang diselenggarakan oleh  Galang Kemajuan Ladies (GK Ladies) Bersama Perempuan Karo dan Komunitas-Komunitas Perempuan, di Ruang Rimbawan I, Gedung Manggala Wanabakti, Jalan Jenderal Gatoto Subroto, Jakarta, Sabtu, 17 November 2018.

Menurut Maman Suherman, para pengguna media sosial paling aktif di Indonesia kebanyakan berasal dari kalangan perempuan. Terkait penggunaan media sosial, diungkapkan Kang Maman, berdasarkan penelitian yang dilakukan, seseorang yang bermain media sosial lebih dari dua jam per hari, maka dikategorikan sebagai orang yang sudah mengalami gangguan kejiwaan.

“Lah, di Indonesia, terutama kaum perempuan, ada yang melaporkan bisa sampai 3 jam lebih per hari main media sosial. Hati-hati, jangan sampai sudah masuk kategori mengalami gangguan mental,” ujarnya.

Dia juga mengungkapkan, laporan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia menyebut ada sebanyak 35 kasus kekerasan per 24 jam. “Jadi ada sekitar 20 laporan pemerkosaan per dua jam,” ujarnya.

Talk Show itu menghadirkan sejumlah pembicara yakni Aktivis Politik Perempuan Nurul Arifin, Praktisi Budaya, Ketua Penggerak PKK Pekalongan, Munafah Asip Kholbihi, Penulis Buku Revolusi Senyap Perempuan Tangguh, Kristin Samah, Direktur Pengelolaan Sampah, Dirjen PLSB 3 Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Dr Novrizal Tahar, dengan Moderator, Maman Suherman alias Kang Maman.

Praktisi Budaya, Ketua Penggerak PKK Pekalongan, Munafah Asip Kholbihi memaparkan, untuk bermedia sosial, kaum perempuan diminta bijak dan tidak terjebak pada informasi-informasi maupun publikasi yang melanggar hukum.

Oleh karena itu, paling tidak kaum perempuan Indonesia harus mengerti dua sisi penggunaan media sosial.

Dari sisi positif, media sosial bisa bermanfaat banyak bagi kaum perempuan. Terutama untuk memperoleh informasi yang positif, ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan. “Juga informasi mengenai bidang-bidang usaha atau bisnis,” ujar Munafah.

Sedangkan dari sisi negatif, kaum perempuan harus waspada terhadap penyebaran informasi hoax, pencemaran nama baik, isu SARA, pornografi dan berbagai wujud informasi buruk dan negatif lainnya.

“Semua itu ada hukumannya. Ada regulasi yang ketat. Ada undang-undang ITE, ada undang-undang anti SARA dan pidana lainnya. Maka, kaum perempuan harus bijak dan berhati-hati bermedia sosial. Sebelum menuliskan status di FaceBook atau media sosial, hendaknya dipikirkan dan bijak,” tuturnya.

Kegiatan dibuka oleh Ketua Umum Galang Kemajuan Ladies (GK Ladies) Lana Koentjoro bersama Sekjen Galang Kemajuan Ladies (GK Ladies) Veve Safitri, serta sejumlah Caleg Perempuan yang berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Kegiatan talk show dirangkaian dengan sejumlah aksi, seperti paduan suara, tari, menampilkan Fashion Show Budaya Karo, Launching Buku Perkawinan Adat Karo, Bazar dan Capaign No Plastic Bag.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*