Breaking News

Penganiayaan Aktivis Lingkungan Di Kawasan Danau Toba, Alumni Yogyakarta Turun Tangan, Desak Aparat Hukum Segera Menangkap Para Pelaku

Penganiayaan Aktivis Lingkungan Di Kawasan Danau Toba, Alumni Yogyakarta Turun Tangan, Desak Aparat Hukum Segera Menangkap Para Pelaku.

Aparat Kepolisian didesak segera menangkap dan memroses para pelaku penganiayaan terhadap dua orang aktivis lingkungan dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) dan Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT), yang terjadi pada Selasa (15/08/2017) lalu.

 

Hingga saat ini, pihak Kepolisian Resor Samosir (Polres Samosir) dan Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) tidak bergerak untuk menangkap para pelaku.

 

Ketua Umum Parsadaan Batak Alumni Yogyakarta (Pabayo), Witarsa Tambunan menyampaikan, segala bentuk penganiayaan dan intimidasi yang dialami Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat itu harus diusut tuntas.

 

“Mengutuk keras dan menolak segala bentuk teror terhadap Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat, yang sedang menjalankan profesinya dan kegiatannya,” ujar Ketua Umum Parsadaan Batak Alumni Yogyakarta (Pabayo), Witarsa Tambunan, dalam keterangan persnya, Senin (21/08/2017).

 

Dia mendesak  Kapolres Samosir, AKBP Donald Simanjuntak dan Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Paulus Waterpauw agar segera menangkap, menahan  dan  memproses secara hukum siapapun para pelaku yang melakukan tindak pidana kriminal  berupa perbuatan tindak pidana penganiayaan/pemukulan (Pasal 351 KUHP), perbuatan tidak menyenangkan (Pasal 335 KHUP),  pengeroyokan (Pasal 170 KUHP)  sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

“Mengecam keras dan menyesalkan tindakan sekelompok orang di Desa Silimalombu, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir dan Jautir Simbolon beserta beberapa orang anak buah Jautir Simbolon,” lanjut Witarsa.

 

Witarsa menegaskan, segala bentuk intimidasi dan kekerasan terhadap Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) Jhohannes Marbun dan Sebastian Hutabarat harus dihentikan, sebab keduanya dalam menjalankan profesinya dan kegiatannya  menyuarakan penyelamatan lingkungan di Kawasan Danau Toba guna pelestarian lingkungan hidup di daerah itu dijamin oleh Undang-Undang.

 

Meminta dan mendesak  Kapolres Samosir, AKBP Donald Simanjuntak dan Kapolda Sumatera Utara agar segera menangkap, menahan  dan  memproses secara hukum siapapun para pelaku yang melakukan tindak pidana kriminal  berupa perbuatan tindak pidana penganiayaan/pemukulan (Pasal 351 KUHP), perbuatan tidak menyenangkan (Pasal 335 KHUP),  pengeroyokan (Pasal 170 KUHP)  sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

“Semoga tidak terjadi lagi intimidasi dan kekerasan terhadap para pegiat lingkungan hidup dalam menjalankan profesinya dan pekerjaannya dimanapun di masa yang akan datang,” pungkas dia.

 

Sebelumnya, dua orang aktivis dan pegiat lingkungan dari Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) yakni Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun aluas Joe dianiaya oleh sejumlah pria di daerah Onanrunggu, Samosir, pada Selasa (15/08/2017).

 

Saat memberikan keterangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)di kantor Polisi, Jhohannes Marbun yang juga merupakan Sekretaris Eksekutif Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) itu menuturkan, dirinya bersama Sebastian Hutabarat berada di Onan Runggu, Samosir sejak Senin sore, untuk melihat potensi Kabupaten Samosir. Karena YPDT sedang menjalin kerjasama dengan relawan dari luar terkait pariwisata berbasis masyarakat.

 

“Kami baru tiba sore hari. Setelah diskusi tidak mungkin langsung menyeberang ke Simalungun karena jadwal kapal ferry penyeberangan yang terbatas. Kami berencana menyeberang dengan ferry jam 10 esok harinya. Tadi pagi, menunggu waktu jam 9 ke Tomok, kami melihat lihat lingkungan sekitar. Rencana kami hanya sebentar karena takut ketinggalan ferry,” jelas Jhohannes.

 

Lebih lanjut Jhohannes menjelaskan, mereka memasuki areal tambang batu milik JS, yang disebut-sebut saudara tua atau abang-nya Bupati Samosir.

 

“Di sana tidak ada pagar pembatas. Jadi saat kami masuk, JS sedang menerima telepon. Kami salaman. Karena JS asyik berbicara di handphonenya, kami melihat lihat lokasi tambang. Setelah menutup teleponnya JS mendekati kami dan berdiskusi,” ungkap Joe.

 

Saat diskusi, Sebastian menyinggung terkait adanya riak-riak penolakan tambang batu yang dikelola JS dari masyarakat. Diskusi itu pun memanas dan JS memaki-maki Sebastian dengan kata-kata yang tidak santun.

 

Dituturkan Joe, saat mau keluar dari area tambang masih sempat menyalami JS dan beberapa orang, ketika itulah terjadi penganiayaan kepada Sebastian dan dirinya.

 

Lalu, melihat aksi premanisme itu Joe berlari mencari pertolongan. Sebastian pun mengatakan hal yang sama dan meminta Johanes untuk merekam kejadian itu.

 

“Saya menyuruh Marbun (Johannes) untuk merekam dan lari,” ujar Sebastian.

 

Penganiayaan itu berklangsung brutal. Bibir bagian atas sebelah kanan Bastian mengalami luka robek, dan Sebastian pasrah tanpa melakukan perlawanan.

 

“Saya tidak melakukan perlawanan, Saya lipat tangan dan berdoa dengan pasrah saat dipukuli. Dan mereka terus memukuli,” ungkap Sebastian.

 

Sadisnya, menurut Sebastian, selain dipukuli, dimaki, bentuk penghinaan yang lainpun dia terima ketika celananya dipelorotin anak buah JS.

 

Sambil berlari menyelamatkan diri, Jhohannes terus dikejar-kejar anak buah JS. Bahkan ada yang hendak memukulnya dengan kayu balok atau broti, namun urung karena dilerai anak buah JS yang lain.

 

Jhohannes meminta tolong kepada orangtua Kepala Desa Onan Runggu dan untuk melihat kondisi Sebastian Hutabarat. Johannes pun kembali berlari menuju rumah Ratna Gultom, tempat mereka menginap. Thomas, suami Ratna Gultom, pun berangkat melihat kondisi Sebastian lalu disusul Ratna.

 

Karena dari mereka tidak ada yang mengenal aparat kepolisian, Jhohannes langsung menelepon ke kantornya di Jakarta dan menceritakan keadaan yang mereka alami.

 

Sebastian pun berhenti dipukuli saat Ibu Kepala Desa bersama Ratna dan suaminya datang melerai.

 

Kepala Desa Onan Runggu pun berusaha mendamaikan Sebastian dengan pihak JS. Namun tidak membuahkan hasil.

 

“Mereka mau berdamai. Namun mereka mau berdamai tapi dengan cara menekan kami,” ujar Sebastian.

 

Menurut Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun, peristiwa penganiayaan terhadap mereka berlangsung pagi hari sekitar jam 08.00 Wib ke jam 09.00 Wib. Akibat lokasi yang jauh dan sulit, aparat Kepolisian dari Kecamatan Nainggolan tiba sekitar jam 2 siang di Onan Runggu dan langsung berangkat ke Pangururan dan membuat laporan pengaduan ke Polres Samosir.

 

Setelah visum dan memberikan keterangan sekitar jam 12 malam, karena merasa tidak nyaman dan untuk menjaga terjadi sesuatu, Sebastian Hutabarat dan Jhohannes Marbun dikawal anggota Polres Samosir keluar dari Samosir menuju Balige.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*