Breaking News

Penduduk Desa Masih Miskin, Program Bidang Pertanian Belum Membawa Kesejahteraan

Penduduk Desa Masih Miskin, Program Bidang Pertanian Belum Membawa Kesejahteraan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jumlah penduduk miskin, baik di kota maupun pedesaan, pada bulan Maret 2018 mengalami penurunan. Meskipun demikian, jumlah penduduk miskin desa masih tetap lebih tinggi dari miskin kota.

 

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih menyebutkan, tidak hanya pada jumlah penduduk miskin, tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan desa juga unggul dari yang di kota.

 

“Hal ini menandakan usaha tani penduduk desa belum bisa mengangkat tingkat kesejahteraan mereka, sehingga masih miskin di tengah kekayaan sumber daya pertanian desa,” katanya dalam siaran persnya, Sabtu (21/07/2018).

 

Bahkan kontribusi utama kemiskinan penduduk desa, di antaranya adalah beras, gula pasir, telur ayam ras, ayam ras dan mie instan. “Bagaimana bisa mengangkat mereka dari kemiskinan, bila lahan pertanian mereka sempit,” sebut Henry.

 

Oleh karena itu, pemerintah perlu diingatkan tentang program pendistribusian lahan 9.2 juta lahan untuk mengatasi kemiskinan tersebut. Sementara berbagai ragam bantuan seperti  bantuan sosial tunai, program beras sejahtera (Rastra) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebenarnya bersifat jangka pendek dan tidak menyelesaikan akar masalah kemiskinan itu sendiri.

 

Henry melanjutkan, tingkat kesejahteraan ataupun daya beli mereka tersebut bisa ditilik dari nilai tukar petani (NTP) di antara bulan-bulan ketika penghitungan jumlah penduduk miskin. Dari grafik NTP di atas, terjadi penurunan NTP (total), NTP Perkebunan, dan hortikultura dari September 2017 ke Maret 2018.

 

Meskipun terjadi penurunan NTP, Menurut BPS, Nilai NTP yang berada di atas 100 memberikan sumbangan menurunnya jumlah penduduk miskin. Terkecuali pada NTP Perkebunan yang nilainya dibawah 100. Bahkan NTP Perkebunan mengalami penurunan hingga bulan Juni 2018.

 

“Sementara pemerintah senantiasa mengandalkan hasil penjualan perkebunan sebagai sumber devisa. Ini berarti tidak ada nilai tambah yang nyata atas kemiskinan petani perkebunan rakyat,” katanya.

 

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik ( BPS) mencatat Indonesia mengalami titik terendah dalam hal persentase kemiskinan sejak tahun 1999. Dengan persentase kemiskinan 9,82 persen, jumlah penduduk miskin atau yang pengeluaran per kapita tiap bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 25,95 juta orang.

 

“Maret 2018 untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin berada di dalam satu digit. Kalau dilihat sebelumnya, biasanya 2 digit, jadi ini memang pertama kali dan terendah,” kata Kepala BPS Suhariyanto.

 

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, yaitu September 2017, persentase kemiskinan tercatat sebesar 10,12 persen atau setara dengan 26,58 juta orang penduduk miskin di Indonesia.

 

Bila dirinci lagi, terdapat penurunan persentase penduduk miskin baik di perkotaan maupun di perdesaan. Persentase penduduk miskin di perkotaan per Maret 2018 sebesar 7,02 persen, turun dibandingkan September 2017 sebesar 7,26 persen. Sama halnya dengan di perdesaan, di mana persentasenya pada Maret 2018 sebesar 13,20 persen, turun dari posisi September 2017 sebesar 13,47 persen.

 

Suhariyanto menambahkan, sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan dari September 2017 hingga Maret 2018 adalah inflasi umum dalam periode itu sebesar 1,92 persen serta rata-rata pengeluaran per kapita tiap bulan untuk rumah tangga di 40 persen lapisan terbawah yang tumbuh 3,06 persen.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*