Breaking News

Pendeta Saut Hamonangan Sirait, M.Th: Tak Terpisahkan, Gereja dan Negara Dalam Satu Jalan Raya Tunggal. Di Luar Itu, Ya Menyesatkan!

Pendeta Saut Sirait (Calon Ephorus HKBP): Gereja dan Negara berada dalam satu jalan raya tunggal, meski berbeda namun tidak bisa dipisahkan.

Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Pendeta Saut Hamonangan Sirait menyerukan, Negara tidak boleh mengebiri agama-agama yang ada di Indonesia dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian pula, agama sejatinya tidaklah anti dan tidak terpisahkan dari kewajibannya sebagai bagian dari Negara.

Hal itu diungkapkan Pendeta Saut Hamonangan Sirait dalam diskusi publik dan bedah buku ‘Negara dalam Rancangan Tuhan’ karya Pdt Saut Hamonangan Sirait MTh, di Jakarta.

“Kalau ada yang mengatakan di dalam dunia ada dua jalan, itu salah. Sebab jika ada dua jalan, berarti ada dua sejarah. Satu sejarah siapa? Yang benar adalah sejarah tunggal, sejarah Tuhan. Tuhan berkarya, Tuhan mencipta dan Tuhan yang akan menuntun segala sesuatunya,” papar Saut Sirait.

Pendeta yang sejak mudanya terjun dalam pusaran pergerakan mahasiswa dan perlawanan terhadap rezim otoriter Orde Baru ini menegaskan, Negara dan agama bukanlah dua hal yang harus saling dipertentangkan. Sebab, jika dipertentangkan, maka akan muncul konflik yang akan saling menghabisi keduanya.

Lagi pula, menurut Saut, selama berada di dalam dunia ini, masing-masing segmen tetap menghadapi persoalan, dan itu harus diselesaikan secara bersama-sama, bukan malah untuk saling dipertentangkan.

“Jadi, perjalanan negara dengan perjalanan gereja itu ada di dalam perjalanan satu jalan raya tunggal. Bahwa di dalamnya, di dalam jalan raya yang besar itu ada yang macet, ada yang melanggar aturan, ada yang tidak tahu apa-apa, ada yang licik, ada yang memanfaatkan itu, ya itu realitas. Itulah jalan besar. Gereja berjalan di situ, Negara berjalan di situ,” ujar mantan Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jakarta ini.

Mantan Ketua Umum Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) ini menekankan pada fungsi masing-masing elemen agama dan Negara agar dikembalikan sesuai dengan sumber tunggal itu sendiri yakni Tuhan.

“Sekarang, fungsinya apa? Gereja dan Negara itu? Di jalan raya yang tunggal itu. Dua-duanya memiliki fungsi, fungsi yang harus dikembalikan kepada Tuhan,” ujarnya.

Jadi, lanjut dia, Gereja menata spritiualitas, yang harus mewujud dalam seluruh dimensi kehidupan. Sedangkan Negara itu menata realitas, yang harus menerima roh atau spiritual yang tadi ditata oleh agama.

“Jadi apa? Jadi harus terjadi perjumpaan konkrit. Enggak bisa sendiri-sendiri. Spiritualitas ke selatan sana, materialitas ke utara sana, lalu apa perjumpaannya? Satu sejarah dibilang sejarah agama, satu sejarah dunia, apa? Enggak ada itu. Itu menyesatkan. Jadi harus ada perjumpaan,” ujarnya.

Menurut mantan Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ini, negara membutuhkan agama dan agama membutuhkan negara. Keduanya harus saling mendukung. Seperti, Gereja membangun spiritualitas, sementara negara membangun fisik.

“Negara dan gereja tidak bisa saling menafikan. Jika umat Kristen, umat Islam dicubit, sama sakitnya. Ketidakadilan sama pahitnya,” ujar jebolan STT Jakarta itu.

Memang, lanjut pendeta yang melayani di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) itu, tidak bisa disamakan kedudukan agama dengan Negara. Yang harus dipastikan adalah sumbernya.

“Misalnya, ya enggak bisa disamakan gereja dengan Negara. Kita sudah tahu itu. Tetapi ketidaksamaan itu bukan berarti berasal dari dua sumber. Itu dari satu sumber. Satu,” pungkas Calon Ephorus HKBP ini.

Menanggapi buku yang ditulis Pendeta Saut Sirait, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang juga Ketua DKPP RI, Prof Dr Jimly Asshiddiqie menyampaikan, saat ini memang Negara sangat perlu diberikan bimbingan moral etik bagi kehidupan yang lebih luas.

“Topik yang tidak lazim ditulis, meskipun judulnya itu menimbulkan interpretasi seperti yang muncul dalam bedah buku ini. Tapi substansinya sangat inklusif yang menyampaikan agar gereja itu inklusif dan menyebar pelayanan, memberikan bimbingan moral etik bagi kehidupan yang lebih luas dimana saja berada, sehingga gereja tidak menutup diri,” ujarnya.

Menurut Jimly, pandangan yang dituangkan penulis sangat reformis. Ide-ide yang sama juga kini berkembang di kalangan Islam di Indonesia.

“Masjid jangan hanya sibuk dengan diri sendiri, tapi tentu tidak juga tanpa batas. Jadi agama itu bukan mengatasi negara, namun memberikan bimbingan moral tentang bagaimana penyelenggaraan kekuasaan negara, baik itu dinamika ekonomi, dinamika kebudayaan dan yang lainnya,” jelasnya.

Era pasca reformasi ini menurut Prof Jimly sangat pragmatis dan hanya mengandalkan sikap hidup hedonis dan berorientasi pada materi. Maka peranan agama sangat diperlukan saat seperti ini.

“Maka munculnya tokoh seperti Pdt Saut mampu memberi warna bagi peranan gereja dalam kehidupan berbangsa ke depan,” ujarnya.

Ia berharap, buku ini akan memperluas kesadaran para tokoh gereja, bahkan bukan hanya Kristen, supaya ada kesadaran bersama dalam satu front menghadapi globalisasi. “Makna dari kehadiran buku ini, kiranya menjadi bacaan siapa saja,” katanya.

Pada kesempatan itu, tokoh Kristen Pdt Dr SAE Nababan menyampaikan, bahwa saat ini rakyat menginginkan pemimpin yang jujur, pintar dan bijaksana.

Menurut Nababan, dalam setiap zaman gereja mempunyai tiga pilihan. Pertama ialah tidak memperdulikan apa yang terjadi, akibatnya gereja akan tercecer lenyap dan hilang dari muka bumi. Kemudian ikut-ikutan dengan penguasa dan negara dan terus mencari keuntungan.

“Ketiga, pemimpin yang bersifat kreatif, positif, kritis. Saya rindu melihat pendeta yang bisa melayani seluruh warganya,” ujarnya.

SAE Nababan menegaskan, tanggungjawab para pendeta agar semakin ditingkatkan. Sebab, jika ada seorang warga gereja yang ditahan KPK, misalnya, menurut nababan, hal itu juga sebagai bagian dari kegagalan gereja.

“Seharusnya pendeta tidak bisa tidur karena dia ikut berdosa disitu. Sebab jika digembalakan dengan baik, ini tidak akan terjadi,” katanya.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*