Breaking News

Pemerintah Indonesia Tak Mampu Angkat Jenazah & Bangkai Kapal Motor di Danau Toba Gelar Aksi Damai Di Jakarta, Masyarakat Minta Tolong Ke PBB

Pemerintah Indonesia Tak Mampu Angkat Jenazah & Bangkai Kapal Motor di Danau Toba Gelar Aksi Damai Di Jakarta, Masyarakat Minta Tolong Ke PBB.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diminta agar bersedia menolong masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk mengangkat bangkai Kapal Motor Sinar Bangun dan jenazah para penumpang yang masih tenggelam di Danau Toba.

Dalam aksi damai atas nama masyarakat perantauan Sumatera Utara, puluhan pemuda dan mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Jakarta (GMKI Jakarta) menyuarakan permintaan tolong agar PBB turun tangan membantu Indonesia mengangkat dan mengusut peristiwa yang menenggalamkan sebanyak 164 penumpang di Kapal Motor Sinar Bangun itu.

Ketua GMKI Jakarta Agung Tamtam Sanjaya Butar-butar menyampaikan, aksi yang mereka lakukan adalah sebagai upaya mengetuk hati dan kemauan pemerintah Indonesia yang mengaku sudah tidak mampu menuntaskan pengangkatan bangkai kapal dan para jenazah.

“Padahal sudah ditemukan lokasi dan keberadaan bangkai Kapal Motor Sinar Bangun dan jenazah di dasar Danau Toba, di kedalaman 450 meter, Pemerintah kita malah menghentikan pengangkatan. Karena itu, kami memohon agar Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pihak-pihak yang mampu untuk turun yangan menangani penderitaan masyarakat ini,” tutur Angung Tamtam Sanjaya Butar-butar, di Jakarta, Jumat (06/07/2018).

Aksi yang digelar di depan Kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman itu juga menyuarakan agar Presiden Joko Widodo bersedia bersurat dan meminta pertolongan kepada PBB atas ketidaksanggupannya mengangkat bangkai KM Sinar Bangun dan jenazah.

“Kami mengetuk hati Pak Presiden Jokowi untuk segera bersurat kepada PBB, untuk meminta bantuan agar bangkai kapal motor dan jenazah yang masih dibiarkan tenggelam di dasar Danau Toba itu bisa diangkat,” jelasnya.

Tamtam menyampaikan, dalam seruan dan juga permohonan mereka yang dikirimkan ke kantor perwakilan PBB di Jakarta, diminta juga bahwa status Danau Toba sebagai warisan dunia yang didorong masuk ke Badan PBB United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) itu, sangat butuh pertolongan negara-negara di dunia, yang memiliki teknologi dan kemampuan menyelam hingga kedalaman 450 meter, sehingga bisa mengangkat jenazah dan bangkai KM Sinar Bangun.

Dia mengingatkan, pada Kamis, 18 Januari 2018, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan telah meresmikan Pusat Informasi Geopark Nasional Kaldera Danau Toba di Parapat, Sumatera Utara. Saat itu, Jonan berharap agar geo center ini dapat berkembang menjadi geo center berstandar nasional nantinya.

“Pernyataan pemerintah yang telah menyerah untuk mengangkat bangkai KM Sinar Bangun dan jenazah, membuat masyarakat gamang. Oleh karena itu, kami berharap PBB mau dan mampu untuk membantu Indonesia untuk turun ke Danau Toba,” ujar Tamtam.

Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Kristopel Manurung menegaskan, mereka menolak penghentian pencarian dan pengangkatan bangkai KM Sinar Bangun.

“Tolong lanjutkan pencarian dan pengangkatan bangkai Kapal Motor Sinar Bangun dan jenazah. Itu sesuai perintah Undang Undang loh,” tuturnya.

Dia pun mendesak pemerintah segera mencabut dan membatalkan keputusan pembergentian pencarian korban dan kapal Sinar Bangun.

“Ini juga harus menjadi evaluasi terhadap kinerja pemerintah dalam jasa angkutan air di Indonesia,” ujar Kristopel.

Selain itu, dia menyerukan, bahwa Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) yang dibentuk pemerintah pusat juga tidak berbuat apa-apa terhadap peristiwa itu.

Oleh karena itu, Kristopel mendesak agar BPODT itu dibubarkan karena tidak memiliki fungsi dan manfaat nyata. “Tinjau ulang kewenangan BPODT,” pungkas Kristofel.

Pencarian korban kecelakaan KM Sinar Bangun di Danau Toba, resmi dihentikan Selasa (03/07). Pihak otoritas mengatakan hal ini disepakati setelah diskusi yang “intens” dengan keluarga korban. Akhir dari upaya pencarian diiringi dengan doa, tabur bunga di Danau Toba dan upacara peletakan batu pertama untuk pembangunan monumen korban KM Sinar Bangun.

Kepala SAR Medan sekaligus Koordinator Tim Pencarian KM Sinar Bangun, Budiawan, menjelaskan, penghentian pencarian diawali perundingan antara pihak pemerintah dan keluarga korban pada hari ke-13 pencarian atau Sabtu (30/6) lalu.

KM Sinar Bangun, feri kayu yang membawa penumpang lima kali lebih banyak dari jumlah seharusnya dan juga puluhan sepeda motor, tenggelam pada 18 Juni 2018. Jumlah resmi yang disampaikan oleh otoritas adalah 21 korban selamat termasuk kapten kapal, 3 korban tewas yang ditemukan dan 164 hilang, diduga tenggelam.

“Di hari ke-13, kita coba berunding sama Bupati (Simalungun) dan keluarga korban. Kalau mau mengambil ya kita siapkan dana besar, peralatan yang canggih dan perlu waktu yang lama,” ujar Budiawan.

Pertimbangan kesulitan dalam mengangkat jenazah dari dasar danau menjadi pembahasan bersama. Alat Remotely Operated Underwater Vehicle (ROV) yang dioperasikan dari jarak jauh minggu lalu berhasil menemukan posisi karamnya kapal pada kedalaman 450 meter serta memotret gambar tubuh dan sepeda motor di dasar danau.

“Pada hari ke-14, faktor kesulitan itu semua sudah tahu ya. Ini kita maknai dulu deh, apakah kita akan berlarut-larut dengan mencari alat ke luar negeri dan ke mana-mana?”  ujar Budiawan.(JR)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*